Jejak Sunyi di Balik Bnoko Haumeni: Antara Trauma Sejarah dan Spiritualitas Foa Ton. Foto: TAFENPAH.COM
TAFENPAH.COM - Sejarah besar sering kali menyisakan luka yang membekas dalam ingatan kolektif sebuah peradaban.
Begitu pun dengan tanah Timor, khususnya di Desa Haumeni, kecamatan Bikomi Utara, kabupaten Timor Tengah Utara, provinsi Nusa Tenggara Timur yang bersinggungan langsung dengan Distrik Oekusi-Ambenu, Timor Leste.
Jejak pendudukan bangsa Portugis, Belanda, hingga Jepang bukan sekadar catatan di buku sekolah.
Bagi leluhur kami, itu adalah memoar tentang trauma dan ketakutan yang mencekam.
Di tengah desing konflik dan bayang-bayang kolonialisme, leluhur masyarakat Haumeni memilih untuk "bersembunyi" dalam pelukan alam.
Mereka menjadikan gua-gua di pegunungan atau yang kita kenal sebagai Bnoko Haumen, sebagai benteng terakhir pertahanan hidup.
Namun, ancaman tidak hanya datang dari bangsa asing dengan senapan mereka. Pada masa itu, Pulau Timor juga dikoyak oleh perang antarsuku dalam perebutan wilayah kekuasaan.
Maka, memilih tinggal di balik kegelapan gua dan situs-situs Kuamnasi lainnya adalah pilihan eksistensial, sebuah ikhtiar untuk menyelamatkan nyawa dari kejamnya zaman, baik dari raja-raja penguasa lokal maupun kebiadaban penjajah di kawasan Timor Barat.
Relevansi Kuamnasi bagi Masyarakat Dawan Haumeni Modern
Mengapa tempat lama selalu punya daya pikat? Menarik untuk kita bedah dalam perspektif Profesor Deddy Mulyana.
Dalam karyanya, Komunikasi Lintas Budaya, beliau menekankan bahwa sejauh apa pun manusia melangkah, ia akan selalu memiliki keterikatan emosional dengan "tempat lama".
Bagi masyarakat Haumeni, Kuamnasi bukanlah sekadar onggokan batu atau gua yang dingin.
Di sanalah rahim sejarah bermula. Di tempat itu, ingatan tentang cerita indah masa kecil, rajutan persaudaraan, cinta kasih, hingga semangat gotong royong terpatri kuat.
Kuamnasi adalah laboratorium nilai, di mana kearifan lokal dijaga dan dipelihara agar tidak lekang oleh panasnya modernisasi.
Hingga kini, "kompas" kehidupan itu masih sangat relevan. Sebagai wujud penghormatan, setiap awal dan akhir tahun, masyarakat Desa Haumeni berkumpul di Bnoko Haumeni untuk menggelar pesta budaya.
Acara tahunan ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah refleksi untuk meninjau kembali jejak perjalanan para leluhur sekaligus jembatan spiritual menuju Sang Pencipta.
Foa Ton: Harmoni antara Manusia, Alam, dan Tuhan
Dalam tradisi Dawan Haumeni, ritual ini dikenal dengan sebutan "Foa Ton" atau "Lol Ton".
Secara hakiki, maknanya adalah penyembahan kepada semesta guna memohon restu dari para leluhur, alam, dan Tuhan.
Filosofi ini mencerminkan keyakinan mendalam masyarakat adat Haumeni tentang keseimbangan hidup.
Ada keselarasan mutlak antara manusia, alam, dan Tuhan.
Jika kita meminjam pemikiran filsuf Baruch de Spinoza, ia memandang bahwa semesta dan Tuhan merupakan satu substansi tunggal (Deus sive Natura).
Maka, dalam kacamata masyarakat Haumeni, penghormatan terhadap alam melalui tradisi lokal sejatinya adalah bentuk penyembahan kepada Tuhan.
Mencintai alam berarti mencintai ciptaan Tuhan; menghormati leluhur berarti menghargai sejarah yang Tuhan gariskan.
Sumber : Tradisi Lisan
Buku : Komunikasi Lintas Budaya, karya Prof Deddy Mulyana
Disclaimer:
Catatan di TAFENPAH.COM ini tentu masih jauh dari kata sempurna dan belum mencakup seluruh dimensi sejarah yang ada. Oleh karena itu, TAFENPAH sangat terbuka terhadap saran, kritik, dan masukan yang membangun dari para antropolog, akademisi, budayawan, pegiat literasi digital, hingga masyarakat umum. Mari kita bersama-sama melengkapi data kualitatif ini demi menjaga nyala literasi dan sejarah tanah Timor.
Dukung Kami dengan cara :
Donasi
Untuk memiliki website yang tertata rapi tentunya penulis sendiri harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Mulai dari perpanjangan domain, Pajak Penghasilan Negara (PPN), kuota internet, dan template yang ramah terhadap google.
Dari hati yang terdalam penulis akan berterima kasih kepada siapa saja yang mau berbagi donasi demi perkembangan tafenpah.com.
Berapa pun yang didonasikan kepada tafenpah.com akan sangat membantu kelancaran Tafenpah menuju gerakan literasi Indonesia jaya.
Sobat bisa transfer ke rekening:
* Rekening Bank Rakyat Indonesia (BRI)
* Nomor rekening (1191-01-013097-50-1)
* Nama pemilik rekening Frederikus Suni
Jangan lupa konfirmasi bukti transfer ke email tafenpahtimor@gmail.com setelah melakukan transaksi.
Terima kasih dan mari kita saling berbagi berkah
Salam tafenpah
TAFENPAH.COMSalam Literasi. Perkenalkan saya Frederikus Suni. Saya pernah bekerja sebagai Public Relation/PR sekaligus Copywriter di Universitas Dian Nusantara (Undira), Tanjung Duren, Jakarta Barat. Saya juga pernah terlibat dalam proyek pendistribusian berita dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) ke provinsi Nusa Tenggara Timur bersama salah satu Dosen dari Universitas Bina Nusantara/Binus dan Universitas Atma Jaya. Tulisan saya juga sering dipublikasikan ulang di Kompas.com. Saat ini berprofesi sebagai Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Siber Asia (Unsia), selain sebagai Karyawan Swasta di salah satu Sekolah Luar Biasa Jakarta Barat. Untuk kerja sama bisa menghubungi saya melalui Media sosial:YouTube: Perspektif Tafenpah||TikTok: TAFENPAH.COM ||Instagram: @suni_fredy || ������ ||Email: tafenpahtimor@gmail.com
Berbagi
Posting Komentar
untuk "Jejak Sunyi di Balik Bnoko Haumeni: Antara Trauma Sejarah dan Spiritualitas Foa Ton"
Posting Komentar untuk "Jejak Sunyi di Balik Bnoko Haumeni: Antara Trauma Sejarah dan Spiritualitas Foa Ton"
Posting Komentar
Diperbolehkan untuk mengutip sebagian materi dari TAFENPAH tidak lebih dari 30%. Terima kasih