Jejak Pengabdian Yosua Djakabani Dicky: Dari Panggilan Hati Hingga Takhta Duta Bahasa NTT 2026

[Frederikus Suni | Redaksi TAFENPAH]


Yosua Djakabani Dicky, Duta Bahasa NTT 2026. Foto instagram @yosuadickyy/Tafenpah.com


SUMBA TIMUR, TAFENPAH.COM - Perjalanan hidup seseorang sering kali merupakan sebuah lingkaran yang kembali ke titik mula. Bagi Yosua Djakabani Dicky, keputusannya menanggalkan hingar-bingar Jakarta demi tanah Sumba bukanlah sebuah kemunduran, melainkan sebuah akselerasi visi.

Sebagai sosok yang baru saja dinobatkan sebagai Duta Bahasa NTT 2026, Yosua membawa narasi segar tentang bagaimana pendidikan, teknologi, dan kecintaan pada bahasa dapat mengubah wajah sebuah daerah.



Panggilan Pelayanan: Dari Jakarta Menuju Sumba

Jejak Pengabdian Yosua Djakabani Dicky: Dari Panggilan Hati Hingga Takhta Duta Bahasa NTT 2026. Foto instagram @yosuadickyy/Tafenpah.com





Kisah ini dimulai pada 2015, saat keluarga besarnya memutuskan pindah ke Kupang demi misi pelayanan sang ayah sebagai Pendeta. 

Namun, seiring waktu, panggilan tersebut mengerucut ke Pulau Sumba. Sejak 2019, orang tuanya menetap di sana untuk melayani masyarakat lokal.






Yosua Djakabani Dicky dan Apriani Dangga, Duta Bahasa NTT 2026. Foto instagram @yosuadickyy/Tafenpah.com


"Meskipun sempat kembali ke Jakarta untuk studi dan bekerja, saya akhirnya memutuskan menyusul ke Sumba tahun lalu. Saya merasa memiliki panggilan serupa, namun di ladang yang berbeda: pendidikan," ungkap Yosua kepada redaksi Tafenpah.com, melalui saluran WhatsApp, Sabtu malam (9/5/2026).

Inspirasi terbesarnya datang dari tokoh pendidikan nasional, Prof. Yohanes Surya. 

Yosua percaya, jika anak-anak di pedalaman Papua bisa menembus kancah dunia, anak-anak Sumba pun memiliki potensi yang setara asalkan mendapat sentuhan metode pendidikan yang tepat.

Realita Literasi dan Tantangan Pemahaman Dasar

Jejak Pengabdian Yosua Djakabani Dicky: Dari Panggilan Hati Hingga Takhta Duta Bahasa NTT 2026. Foto instagram @yosuadickyy/Tafenpah.com



Terjun langsung ke lapangan membuka mata Yosua pada realita yang pahit. 

Di Sumba Timur, ia masih menemukan siswa SMA yang kesulitan mengeja dan siswa SMP yang belum menguasai kemampuan berhitung dasar.




Berdasarkan data dari Pusat Pengembangan Anak di Sumba Timur, masalah krusial kita bukan sekadar kemampuan membaca secara harfiah, tapi tingkat pemahaman bacaan.

"Mereka (anak-anak) di Sumba Timur bisa menyuarakan teks dengan baik, tapi sering kali gagal menangkap makna di baliknya. Inilah PR utama saya yakni memastikan mereka mengerti apa yang mereka baca," jelas Yosua kepada Tafenpah.com

Tiga Pilar Motivasi: Inspirasi, Emosi, dan Teknologi

Jejak Pengabdian Yosua Djakabani Dicky: Dari Panggilan Hati Hingga Takhta Duta Bahasa NTT 2026. Foto instagram @yosuadickyy/Tafenpah.com



Dalam mendidik, Yosua menerapkan tiga pendekatan strategis untuk membangkitkan semangat belajar anak-anak Sumba:

Inspirasi: Menceritakan keberhasilan anak-anak Papua binaan Prof. Yohanes Surya sebagai bukti bahwa kemauan keras mampu menembus keterbatasan.




Pendekatan Emosional: Menanamkan kebanggaan untuk membahagiakan keluarga sebagai motor penggerak prestasi.

Pemanfaatan Teknologi: Mengedukasi siswa bahwa kehadiran Artificial Intelligence (AI) adalah peluang besar untuk meraih taraf hidup yang lebih baik.

NAWALA: Senjata Krida Menuju Internasional

Jejak Pengabdian Yosua Djakabani Dicky: Dari Panggilan Hati Hingga Takhta Duta Bahasa NTT 2026. Foto instagram @yosuadickyy/Tafenpah.com


Sebagai Duta Bahasa, Yosua mengusung program krida bernama NAWALA (Narasi Akselerasi Wawasan dan Literasi Antarbangsa). 

Program ini bukan sekadar teori di atas kertas, melainkan aksi nyata yang mengintegrasikan tiga pilar bahasa, yakni; Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, dan Kuasai Bahasa Asing.

Melalui NAWALA, Yosua menantang anak muda Sumba membuat konten video kreatif dan brosur informatif yang didistribusikan ke titik-titik pariwisata.

"Tujuannya agar wisatawan mancanegara mengenal budaya Sumba melalui narasi bahasa Indonesia yang kita bangun, sekaligus menunjukkan bahwa anak Sumba kompetitif secara global," tegasnya.

Tips Menembus Batas bagi Generasi Muda NTT

Jejak Pengabdian Yosua Djakabani Dicky: Dari Panggilan Hati Hingga Takhta Duta Bahasa NTT 2026. Foto instagram @yosuadickyy/Tafenpah.com



Menjuarai kompetisi bergengsi merupakan pengalaman pertama Yosua. Tentunya torehan prestasi tersebut, bukanlah kebetulan. 

Berdasarkan keterangan Yosua kepada Tafenpah.com, ia membagikan tiga rahasia sukses bagi generasi muda NTT:

1. Peka Terhadap Masalah Sekitar 

Jangan mencari ide yang jauh. Berangkatlah dari keresahan nyata di depan mata agar program memiliki "jiwa" dan autentik.

2. Berpikir Kritis dengan Bantuan AI 

Gunakan teknologi bukan untuk jalan pintas, melainkan sebagai "teman diskusi" untuk mencari kelemahan (anti-tesis) dari ide kita agar program lebih membumi.

3. Asah Public Speaking

Ide brilian tidak akan tersampaikan tanpa kemampuan komunikasi yang terstruktur.

"Bagi saya, ini bukan sekadar mencari gelar, tapi jembatan pengabdian. Jangan minder meski belum punya pengalaman lomba. Selama punya solusi nyata untuk daerah, pintu kesempatan akan selalu terbuka lebar," tutup Yosua dengan penuh optimisme.




Karena tanpa dukungan pembaca tercinta, Tafenpah tidak akan berkembang sejauh ini.

Untuk itu, mari kita bagikan publikasikan inspiratif ini, agar literasi dan karya anak bangsa, khususnya dari tanah perbatasan Indonesia  dan Timor Leste semakin dikenal dan menginspirasi jutaan anak muda yang mungkin masih tersesat dengan jalan hidupnya.

Sumber: Wawancara eksklusif TAFENPAH dan Duta Bahasa NTT 2026, Yosua Djakabani Dicky.

Instagram : @tafenpah


Tiktok : @tafenpah.com


TAFENPAH.COM
TAFENPAH.COM Salam Literasi. Perkenalkan saya Frederikus Suni. Saya pernah bekerja sebagai Public Relation/PR sekaligus Copywriter di Universitas Dian Nusantara (Undira), Tanjung Duren, Jakarta Barat. Saya juga pernah terlibat dalam proyek pendistribusian berita dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) ke provinsi Nusa Tenggara Timur bersama salah satu Dosen dari Universitas Bina Nusantara/Binus dan Universitas Atma Jaya. Tulisan saya juga sering dipublikasikan ulang di Kompas.com. Saat ini berprofesi sebagai Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Siber Asia (Unsia), selain sebagai Karyawan Swasta di salah satu Sekolah Luar Biasa Jakarta Barat. Untuk kerja sama bisa menghubungi saya melalui Media sosial:YouTube: Perspektif Tafenpah||TikTok: TAFENPAH.COM ||Instagram: @suni_fredy || ������ ||Email: tafenpahtimor@gmail.com

Posting Komentar untuk "Jejak Pengabdian Yosua Djakabani Dicky: Dari Panggilan Hati Hingga Takhta Duta Bahasa NTT 2026"