NTT Bukan Produk Seminar: Menagih Nyali dan Kolaborasi Nyata Demi Rakyat

[ Penulis : Frederikus Suni ]



Viktor Bungtilu Laiskodat, Pendiri Forum Pemuda Kupang Jakarta/FPKJ. Foto ig @viktorbungtilulaiskodat/Tafenpah.com


TAFENPAH.COM – Masa depan Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak akan pernah lahir dari riuhnya tepuk tangan di ruang-ruang seminar yang sejuk. 

NTT yang mandiri hanya bisa lahir dari rahim keberanian; keberanian mengubah cara pandang, ketegasan dalam disiplin ilmu, dan ketulusan untuk benar-benar berpihak pada nasib rakyat kecil di pelosok Bumi Flobamora.

Pesan tajam ini ditegaskan oleh mantan Gubernur NTT sekaligus Pendiri (Founder) Forum Pemuda Kupang Jakarta (FPKJ), Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL), saat membuka Musyawarah Besar FPKJ di Jakarta, Sabtu (2/5/2026).

"Kita harus mulai dari diri sendiri. Karena cara berpikir yang tepat akan melahirkan tindakan yang tepat," ujar VBL dengan nada retoris yang menggugah. Bagi sosok yang kini menjabat sebagai Ketua Fraksi NasDem DPR RI periode 2024-2029 ini, intelektualitas tanpa keberanian untuk merombak mindset hanyalah deretan teori yang mandul.




Melampaui Sekat, Menemukan Indonesia di FPKJ

NTT Bukan Produk Seminar: Menagih Nyali dan Kolaborasi Nyata Demi Rakyat. Forum Pemuda Kupang Jakarta/FPKJ. Tafenpah.com


VBL menekankan bahwa FPKJ bukan sekadar paguyuban pelepas rindu bagi para diaspora. Lebih dari itu, wadah ini harus menjadi prototipe kecil dari Indonesia yang sesungguhnya—tempat di mana ego suku dan eksklusivitas agama luruh demi kepentingan yang lebih besar.

"Forum FPKJ harus menjadi ruang kebangsaan, tempat kita melampaui sekat suku dan agama. Lalu kita bersatu untuk satu tujuan: membangun daerah, menguatkan bangsa, dan memuliakan rakyat," jelas VBL.

Dalam kacamata komunikasi Tafenpah, pernyataan ini adalah sebuah ajakan untuk melakukan "transendensi sosial". Pemuda NTT di perantauan ditantang untuk berhenti terjebak dalam dikotomi asal-usul dan mulai merajut kolaborasi lintas sektor yang konkrit.

Paradoks Kekayaan Alam dan Narasi Kemiskinan

NTT Bukan Produk Seminar: Menagih Nyali dan Kolaborasi Nyata Demi Rakyat. Forum Pemuda Kupang Jakarta/FPKJ. Tafenpah.com


Ada sebuah ironi yang terus menghantui NTT: wilayah yang kaya secara sumber daya, namun secara statistik terus diposisikan sebagai provinsi termiskin. VBL tidak menampik realita pahit ini, namun ia menolak pasrah pada keadaan.

Menurutnya, NTT adalah "raksasa yang sedang tidur". Ada garam yang melimpah, kekayaan laut yang tak terukur, hingga potensi pertanian dan buah-buahan yang luar biasa. Sayangnya, potensi ini seringkali hanya berhenti di meja diskusi tanpa pernah sampai secara utuh ke tangan rakyat sebagai nilai ekonomi.

"Selama ini terlalu banyak yang belum dikerjakan, terlalu banyak yang belum diolah, terlalu banyak nilai yang hilang sebelum sampai ke tangan rakyat," tambahnya dengan nada satir.

Kritik Pedas: Menagih Totalitas Kerja
NTT Bukan Produk Seminar: Menagih Nyali dan Kolaborasi Nyata Demi Rakyat. Forum Pemuda Kupang Jakarta/FPKJ. Tafenpah.com


Pernyataan VBL ini sebenarnya adalah sebuah "kritik pedas" bagi para pemangku kepentingan di NTT. Seolah-olah ada pesan tersirat bahwa selama ini kerja birokrasi dan kebijakan publik belum benar-benar "total" dalam melayani. Rakyat NTT tidak butuh tumpukan dokumen rencana kerja; mereka butuh aksi nyata yang mengubah isi piring mereka.

Oleh karena itu, VBL mengajak generasi muda diaspora di JABODETABEK—baik yang sedang menempuh studi maupun yang sudah berkarier—untuk berani berpikir out of the box.

Mereformasi cara berpikir berbasis ilmu pengetahuan adalah harga mati. Pemuda NTT tidak boleh lagi hanya menjadi penonton atau pengkritik dari kejauhan. Mereka harus menjadi pelopor, membawa ilmu dari rantau untuk menyuburkan tanah kelahiran.

Menanti Fajar Baru dari Tangan Pemuda

NTT Bukan Produk Seminar: Menagih Nyali dan Kolaborasi Nyata Demi Rakyat. Forum Pemuda Kupang Jakarta/FPKJ. Tafenpah.com


Membangun NTT memang bukan perkara membalikkan telapak tangan. Namun, dengan kolaborasi yang bersih dari kepentingan sektarian dan nyali untuk mengeksekusi ide, narasi "NTT Miskin" perlahan akan terkikis.

FPKJ kini memikul beban sejarah: apakah mereka akan terjebak menjadi "tukang seminar" berikutnya, ataukah mereka akan menjadi motor penggerak yang mampu membuktikan bahwa NTT bisa tegak berdiri di atas kaki sendiri melalui kerja nyata yang memuliakan rakyat?

Waktu yang akan menjawab, namun satu hal yang pasti: NTT sedang menagih nyali kita.
TAFENPAH.COM
TAFENPAH.COM Salam Literasi. Perkenalkan saya Frederikus Suni. Saya pernah bekerja sebagai Public Relation/PR sekaligus Copywriter di Universitas Dian Nusantara (Undira), Tanjung Duren, Jakarta Barat. Saya juga pernah terlibat dalam proyek pendistribusian berita dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) ke provinsi Nusa Tenggara Timur bersama salah satu Dosen dari Universitas Bina Nusantara/Binus dan Universitas Atma Jaya. Tulisan saya juga sering dipublikasikan ulang di Kompas.com. Saat ini berprofesi sebagai Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Siber Asia (Unsia), selain sebagai Karyawan Swasta di salah satu Sekolah Luar Biasa Jakarta Barat. Untuk kerja sama bisa menghubungi saya melalui Media sosial:YouTube: Perspektif Tafenpah||TikTok: TAFENPAH.COM ||Instagram: @suni_fredy || ������ ||Email: tafenpahtimor@gmail.com

Posting Komentar untuk "NTT Bukan Produk Seminar: Menagih Nyali dan Kolaborasi Nyata Demi Rakyat"