Gema Flobamora di TMII: 1.000 Orang Rayakan Seni dan Tradisi NTT dalam Balutan Tenun
[ Penulis : Frederikus Suni ]
![]() |
| Gema Flobamora di TMII: 1.000 Orang Rayakan Seni dan Tradisi NTT dalam Balutan Tenun. TAFENPAH.COM |
JAKARTA, TAFENPAH.COM – Anjungan NTT di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) berubah menjadi lautan warna dan motif pada Sabtu, 2 Mei 2026. Sebanyak 1.000 peserta, mulai dari mahasiswa, pemuda, hingga tamu undangan, melangkah serentak dalam "Kirab Budaya Seni dan Tradisi NTT".
Kirab ini diinisiasi Himpunan Mahasiswa Pemuda Nagekeo (HIMAPEN) Jabodetabek, bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan RI, LPDP, dan Dana Indonesiana. Kehadiran Wakil Bupati Nagekeo menambah bobot acara sebagai bentuk dukungan pemerintah daerah.
![]() |
| Gema Flobamora di TMII: 1.000 Orang Rayakan Seni dan Tradisi NTT dalam Balutan Tenun. Foto instagram @himapen/Tafenpah.com |
Ando Pea, Wakil Ketua Umum HIMAPEN, menyebut kirab ini bukan sekadar parade, tapi diplomasi budaya dari Jakarta untuk Indonesia.
Baca Juga: Kolaborasi Milenial NTT di Jakarta: IMATTU dan HIMAPEN Sukseskan Kirab Budaya 2026 di TMII
Identitas dalam Balutan Tenun: Lebih dari Sekadar Kain
![]() |
| Gema Flobamora di TMII: 1.000 Orang Rayakan Seni dan Tradisi NTT dalam Balutan Tenun. Foto instagram @himapen/Tafenpah.com |
Bagi peserta, tenun yang dikenakan adalah pernyataan identitas.
- Laki-laki mengenakan sarung atau selimut tenun, baju adat, serta destar/ti’i langga.
- Perempuan tampil anggun dengan kebaya atau busana daerah, dipadukan kain tenun motif orisinal dan perhiasan tradisional.
![]() |
| Gema Flobamora di TMII: 1.000 Orang Rayakan Seni dan Tradisi NTT dalam Balutan Tenun. Foto instagram @himapen/Tafenpah.com |
"Penggunaan tenun ini adalah cara kami memperkenalkan nilai budaya. Setiap motif dan warna adalah bahasa visual yang menceritakan sejarah wilayah masing-masing di NTT," kata Ando Pea kepada redaksi Tafenpah.com.
Doa Adat: Jembatan Spiritual dengan Leluhur
Sebelum langkah pertama diayunkan, HIMAPEN menggelar doa bersama dan Doa Adat. Ini bentuk penghormatan kepada Sang Pencipta dan para leluhur agar kegiatan membawa nilai persaudaraan sejati.
Di penghujung acara, pesan kebudayaan kembali disuarakan. Generasi Z diingatkan untuk tidak tercerabut dari akar, meski hidup di tengah arus modernitas.
![]() |
| Wakil Bupati Nagekeo, Gema Flobamora di TMII: 1.000 Orang Rayakan Seni dan Tradisi NTT dalam Balutan Tenun. Foto instagram @himapen/Tafenpah.com |
Nagekeo untuk Dunia: Diplomasi Budaya dari Jakarta
Melalui kirab, kekayaan Nagekeo dan NTT dipromosikan secara masif. Tarian, seni, dan keberagaman tenun diharapkan memantik rasa penasaran publik untuk datang langsung ke bumi Flobamora.
Dukungan penuh mengalir dari Pemerintah Daerah dan Dinas Pariwisata. Kehadiran pemerintah bukan seremonial, tapi apresiasi nyata bahwa gerakan mahasiswa adalah pilar penjaga identitas daerah.
Tantangan di Balik Layar
Menggerakkan 1.000 orang bukan perkara mudah. Ando mengakui koordinasi massa, kekompakan, hingga penjagaan properti adat menjadi tantangan teknis.
Panitia menyiasatinya dengan narasi singkat di setiap pos. Dengan begitu, pesan budaya tetap sampai ke penonton meski di tengah riuh rendah keramaian.
Semangat yang Tak Boleh Padam
Pasca kirab, HIMAPEN memastikan api pelestarian tidak padam.
"Kami tidak ingin ini hanya jadi acara satu hari. Setelah ini, latihan tari, diskusi budaya, hingga promosi digital akan terus berlanjut. Ini komitmen jangka panjang kami untuk Indonesia," tegas Ando.
Kirab Budaya Seni dan Tradisi NTT di TMII menjadi bukti: di tangan anak muda, tradisi NTT tidak hanya bertahan. Ia akan terus bersinar dan dihormati sebagai bagian dari kekayaan bangsa.
Sumber : Wawancara eksklusif TAFENPAH bersama Ando Pea, Wakil Ketua Umum HIMAPEN





Posting Komentar untuk "Gema Flobamora di TMII: 1.000 Orang Rayakan Seni dan Tradisi NTT dalam Balutan Tenun"
Posting Komentar
Diperbolehkan untuk mengutip sebagian materi dari TAFENPAH tidak lebih dari 30%. Terima kasih