Refleksi Kritis: Ratna Nera (Alumni UNDANA) tentang Keterbatasan Peran Perempuan Manggarai

[Editor : Frederikus Suni ]

Budaya Manggarai memiliki nilai luhur seperti kebersamaan, solidaritas komunal, dan penghormatan terhadap struktur sosial. Nilai-nilai ini harus dijaga, namun praktik budaya juga perlu refleksi kritis, terutama terkait ketimpangan gender


Ratna Nera Co-Founder Sahabat Lentera Desa. Instagram @ratnanera_



TAFENPAH.COM - Membongkar tatanan sosio kultur dalam praktik kehidupan bangsa Indonesia, memang memiliki tantangan tersendiri. Karena kita harus mengkajinya dari berbagai sudut pandang. Kendatipun demikian, jika kita serius untuk menggalinya lebih dalam, di sana kita akan menemukan ruang untuk mengkritisinya.

Mengkritisi budaya setempat, bukan berarti kita anti, tapi itu merupakan satu tindakan mulai, di mana kita berani bersuara tanpa adanya tekanan, guna menemukan jalan tengah (solusi) dari setiap ketimpangan sosio kultur.

Berkaitan dengan kritik budaya, di edisi ini, TAFENPAH.COM bersama dengan salah satu alumni Universitas Nusa Cendana (UNDANA) Kupang, siapa lagi kalau bukan kaka RATNA NERA.

Kaka Ratna Nera berasal dari Manggarai Timur, provinsi Nusa Tenggara Timur. Saat ini, kaka Ratna Nera menjabat sebagai Co-Founder di Sahabat Lentera Desa

Ratna Nera Co-Founder Sahabat Lentera Desa. Instagram @ratnanera_




Berdasarkan pantauan admin TAFENPAH.COM, kaka Ratna Nera ini sejak awal 2026 menaruh konsen terhadap dinamika persoalan yang ada di masyarakat Manggarai pada umumnya.

Bagi TAFENPAH.COM kaka Ratna adalah sosok inspiratif yang menyuaran SUARA PEREMPUAN dengan tagline "Membaca ulang budaya Manggarai, mengkritisi patriarki, dan membuka ruang  perubahan."

Untuk itu, izinkan kami memualai obrolan reflektif ini, dengan beberapa pertanyaan pendukungnya, kurang lebih seperti di bawah ini:



 

Keresahan apa yang mendorong kaka Ratna untuk terlibat aktif dalam pembentukan opini publik terkait kebudayaan Manggarai?

"Berangkat dari refleksi kritis atas dinamika yang saya amati di lingkungan terdekat, yaitu di rumah. Sejak kecil, saya selalu menyaksikan Mama saya hidup seperti pelayan di rumah sendiri. Pagi hingga malam, ia mengurus rumah, bekerja di kebun, dan merawat kami anak-anaknya. 

Suaranya jarang terdengar, dan keinginannya sering teredam. Sejak itu, saya menyadari bahwa pola ini tidak adil. 

Ini bukan sekadar soal kerja keras seorang ibu, tetapi tentang bagaimana budaya patriarki menempatkan perempuan meski memegang banyak tanggung jawab pada posisi yang tidak terlihat dan kurang dihargai dalam lingkup keluarga. 

Sejak 2018, saya mulai lebih serius mengamati ketimpangan ini, tidak hanya dalam keluarga, tetapi juga dalam praktik budaya Manggarai secara umum. Saya masih sering menemukan anggapan bahwa laki-laki tidak wajar jika mengerjakan pekerjaan domestik seperti memasak, mencuci, membersihkan rumah, mengurus anak, bahkan mengambil air di sumur. Semua itu dianggap sebagai tanggung jawab perempuan. 

Saya melihat bahwa pembatasan peran perempuan ini bukan kasus individual, melainkan bagian dari konstruksi budaya yang selama ini diterima sebagai norma.

Sebagai orang Manggarai, saya percaya bahwa budaya Manggarai memiliki nilai luhur seperti kebersamaan, solidaritas komunal, dan penghormatan terhadap struktur sosial. Nilai-nilai ini harus dijaga, namun praktik budaya juga perlu refleksi kritis, terutama terkait ketimpangan gender. 

Budaya bukanlah sesuatu yang statis; ia hidup dan berkembang seiring waktu. Oleh karena itu, pelestarian budaya harus diiringi keberanian untuk menyesuaikan praktik dengan konteks zaman, tanpa menghilangkan esensi nilai-nilai dasarnya. 

Dan awal 2026, saya memutuskan untuk menyuarakan hal ini, dengan segala keterbatasan, demi membuka ruang bagi generasi muda dan generasi mendatang untuk mengubah praktik budaya yang tidak adil, sambil tetap mempertahankan nilai-nilai luhur budaya Manggarai."

Ratna Nera sosok inspiratif asal Manggarai Timur. Instagram @ratnanera_






Dari pantauan kami, konsep konten kaka sangat menarik, karena menggunakan bahasa Manggarai.
Mengapa kaka Ratna membuat konten dengan menggunakan bahasa Manggarai?

"Saya menggunakan bahasa Manggarai, karena selain alat komunikasi saya sehari-hari, bahasa ini juga mewakili identitas dan nilai budaya. Dengan menggunakan bahasa Manggarai, pesan tentang budaya, peran perempuan, dan relasi sosial lebih mudah dipahami dan terasa akrab tanpa terkesan asing atau menggurui.

Cara ini sebagai bentuk cara saya mecintai budaya Manggarai serta melestarikan budaya dan mendorong kesadaran kritis secara kontekstual."

Sebagai seorang pegiat konten digital, sejauh mana suara kaka Ratna didengar masyarakat hingga tokoh publik?

"Sebagai pegiat konten digital yang baru memulai, saya menyadari bahwa jangkauan suara yang saya miliki masih terus bertumbuh dan dalam proses pengembangan. 

Meski demikian, saya mulai menerima respons yang cukup positif dari masyarakat, khususnya generasi muda Manggarai, yang aktif memberikan komentar di platform Instagram, Facebook, maupun TikTok. 

Banyak dari mereka menanggapi konten saya dengan refleksi kritis terkait budaya, bahasa, dan isu kesetaraan. 

Bagi saya, hal ini menjadi indikator penting bahwa pesan yang saya sampaikan mulai didengar dan dipertimbangkan. Di sisi lain, saya juga melihat adanya perhatian dari beberapa pegiat budaya yang mulai membuka ruang diskusi di kolom komentar mengenai isu-isu yang saya angkat. Meskipun saat ini jangkauan dan partisipasinya belum luas."




Dari kacamata kaka Ratna sebagai seorang perempuan, hal yang perlu dikritisi dari budaya Manggarai, khususnya di bagian apa saja?

"Dari kacamata atau perspektif saya sebagai perempuan, aspek yang perlu dikritisi dalam budaya Manggarai adalah struktur dan praktik yang masih bercorak patriarki, di mana laki-laki secara tradisional menempati posisi dominan dalam pengambilan keputusan serta ruang sosial.

Secara lebih spesifik, patriarki dalam budaya Manggarai dapat terlihat melalui beberapa hal berikut:

1. Pembagian pekerjaan domestik : Dalam kehidupan rumah tangga, perempuan secara tradisional memikul tanggung jawab utama, mulai dari memasak, mencuci, membersihkan rumah, hingga mengurus anak. Pola ini menempatkan perempuan pada beban kerja domestik yang berat dan perlu dirubah agar lebih adil dan setara.

2. Pengambilan keputusan adat: Forum-forum adat dan proses pengambilan keputusan umumnya didominasi oleh laki-laki. Perempuan seringkali hanya berperan sebagai pendamping atau pihak yang diwakili, sehingga suara, perspektif, dan pengalaman kami tidak sepenuhnya terdengar. Peran perempuan pun terbatas pada ranah domestik.

3. Pembagian peran gender dalam praktik social: Dalam interaksi sosial sehari-hari, perempuan cenderung ditempatkan pada peran domestik, sedangkan laki-laki menempati ruang publik dan memiliki akses lebih luas terhadap kekuasaan sosial. Pola ini membatasi peluang perempuan untuk berpartisipasi dan berkontribusi secara setara.

4. Norma dan ekspektasi social: Beberapa praktik adat dan norma masyarakat masih menekankan bahwa perempuan harus tunduk pada otoritas laki-laki, termasuk dalam konteks perkawinan adat maupun distribusi warisan. Hal ini memperkuat ketimpangan struktural yang berakar pada sistem patriarki.

Kritik yang saya sampaikan bukanlah untuk menolak budaya Manggarai, melainkan untuk membuka ruang refleksi. Budaya yang kuat justru akan berkembang apabila mampu menyesuaikan diri dengan prinsip keadilan dan kesetaraan, sehingga perempuan dan laki-laki memiliki hak dan kesempatan yang setara dalam menjaga, merawat, dan mewariskan warisan budaya."




Bagaiaman kaka Ratna memposisikan diri sebagai pejuang perempuan di tengah dominasi patriarki?

"Sebagai perempuan Manggarai yang mulai aktif membuat konten dan mengangkat isu budaya, saya memposisikan diri sebagai pejuang perempuan dengan pendekatan yang reflektif dan konstruktif. Artinya, saya tidak sekadar menentang dominasi patriarki, tetapi juga berusaha membuka ruang diskusi dan membangun kesadaran kolektif agar masyarakat memahami pentingnya kesetaraan gender dalam konteks budaya.

Dalam praktiknya, fokus saya mencakup beberapa hal:

1. Memberi suara kepada perempuan: Melalui konten digital, saya menghadirkan perspektif perempuan yang selama ini sering terpinggirkan dalam forum adat maupun diskusi publik. Dengan menggunakan bahasa Manggarai, pesan ini terasa lebih dekat dan dapat diterima oleh komunitas lokal.

2. Mendorong refleksi budaya: Saya menekankan bahwa kritik terhadap patriarki bukan berarti menolak budaya Manggarai, melainkan upaya untuk memastikan budaya tetap relevan, adil, dan inklusif bagi semua pihak.

3. Memberdayakan melalui pengetahuan dan narasi: Saya berusaha membangun pemahaman bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam pelestarian budaya dan pengambilan keputusan sosial. Posisi saya sebagai pejuang perempuan adalah memfasilitasi kesadaran ini, sehingga perempuan dapat berpartisipasi setara tanpa mengorbankan nilai-nilai budaya.

Dengan pendekatan ini, saya ingin menunjukkan bahwa perlawanan terhadap patriarki tidak harus konfrontatif, tetapi dapat dilakukan melalui edukasi, narasi kritis, dan penguatan peran perempuan dari dalam budaya Manggarai."


Pesan apa yang ingin kaka Ratna sampaikan kepada perempuan muda NTT, khususnya Manggarai

"Pesan saya untuk perempuan muda Nusa Tenggara Timur, khususnya Manggarai, adalah: jangan takut untuk berani bersuara dan berpikir kritis. Tetaplah mencintai budaya kita, namun juga menuntut kesetaraan. 

Ingatlah, identitas kita adalah kekuatan. Dengan menggunakan bahasa, nilai, dan cara pandang budaya kita sendiri, kita bisa menyuarakan aspirasi dan memperjuangkan keadilan tanpa harus melepaskan siapa diri kita. Mencintai budaya sendiri adalah cara terbaik untuk mencintai diri sendiri."





Demikian obrolan TAFENPAH.COM bersama dengan kaka Ratna Nera, sosok perempuan inspiratif dari daratan Manggarai di edisi ini.

Disclaimer : Apabila ke depannya, rekan-rekan mahasiswa, dosen, antroplog, pekerja pers, pihak pemerintahan, swasta dan siapa pun yang ini menggunakan tulisan ini sebagai bahan referensi skripsi, tesis, disertasi, kajian wilayah dan sejenisnya dimohonkan untuk mencantumkan sumber TAFENPAH.COM dan nama Narasumbernya : RATNA NERA

Terkait dengan kritik, saran, dan masukkan yang positif guna melengkapi hasil tulisan ini, pembaca dan siapa pun bisa menghubungi kami melalui media sosial :

Instagram kaka Ratna Nera @ratnanera_ dan Tiktok : @ratnanera_

Instagram TAFENPAH @tafenpah
Instagram admin @suni_fredy

Tiktok : @tafenpah.com



TAFENPAH.COM
TAFENPAH.COM Salam Literasi. Perkenalkan saya Frederikus Suni. Saya pernah bekerja sebagai Public Relation/PR sekaligus Copywriter di Universitas Dian Nusantara (Undira), Tanjung Duren, Jakarta Barat. Saya juga pernah terlibat dalam proyek pendistribusian berita dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) ke provinsi Nusa Tenggara Timur bersama salah satu Dosen dari Universitas Bina Nusantara/Binus dan Universitas Atma Jaya. Tulisan saya juga sering dipublikasikan ulang di Kompas.com. Saat ini berprofesi sebagai Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Siber Asia (Unsia), selain sebagai Karyawan Swasta di salah satu Sekolah Luar Biasa Jakarta Barat. Untuk kerja sama bisa menghubungi saya melalui Media sosial:YouTube: Perspektif Tafenpah||TikTok: TAFENPAH.COM ||Instagram: @suni_fredy || ������ ||Email: tafenpahtimor@gmail.com

Posting Komentar untuk "Refleksi Kritis: Ratna Nera (Alumni UNDANA) tentang Keterbatasan Peran Perempuan Manggarai"