Septiani Melita : Perempuan NTT terus Bersuara dan Abaikan Stigma Sosial

[ Penulis : Frederikus Suni ]

Mereka memegang stigma "utusan daerah tidak bisa bersinar" Aku pun berani bersuara, keluar dari zona nyaman dan Aku mencoba banyak hal. Meskipun berkali - kali gagal, Aku tetap mencoba, dan pada akhirnya satu langkah kecil mengubah hidupku
Septiani Melita, Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang. Foto Instagram: @septianimelitaa


TAFENPAH.COM - Lahir sebagai seorang perempuan memang selalu dihadapkan dengan beragam persoalan sosial. Persoalan terbesar yang perempuan hadapi adalah stigma. Stigma itu bisa berupa apa saja, tergantung situasi dan kondisi dalam setiap kebudayaan.

Masyarakat provinsi Nusa Tenggara Timur sejak zaman leluhur sudah menempatkan perempuan sebagai kelas kedua. Artinya; mereka diasosiasikan sebagai 'pelengkap' laki-laki. Tentu saja, dalam konteks ini, kita tidak berbicara persoalan teologis. Melainkan ini berkaitan dengan fenomenologis yang berkembang dalam kehidupan masyarakat lintas generasi.

Terlepas dari stigma sosial terhadap identitas keperempuanan, pada kesempatan ini, TAFENPAH.COM berkesempatan untuk ngobrol dengan salah satu sosok milenial inspiratif asal Manggarai yang sedang berkuliah di Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang.

Sosok inspiratif itu bernama Septiani Melita

Septiani Melita, Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang. Foto Instagram: @septianimelitaa



Septiani Melita ini selain berkuliah di Ilmu Komunikasi Undana Kupang, ia juga mengemban tugas sebagai Duta Rupiah Flobamorata.

Satu pengalaman eksplor diri yang nantinya berguna bagi perjalanan karir profesional Septiani Melita, selepas kuliah di Undana.

Lantas, seperti apakah obrolan antara TAFENPAH.COM dan Septiani Melita terkait problematika hingga kontribusi perempuan NTT saat ini, kurang lebih seperti di bawah ini:





1. Menurut kakak, apakah sejauh ini peran perempuan NTT dalam membangun bidang pendidikan sudah mengalami kemajuan, ataukah masih terkendala dengan sistem sosial?

"Menurut saya peran perempuan sudah mengalami kemajuan, khususnya dalam bidang pendidikan. Namun, jika berbicara soal kendala sistem sosial, tentu saja ada, karena masih banyak sistem sosial yang berlaku di masyarakat yang membatasi perempuan dalam berjuang. Mulai dari stigma, dan juga aturan yang dianggap wajar."



2. Melalui cara apa, perempuan NTT mempromosikan kearifan lokal budaya?

"Sekarang serba digital, tentu saja semakin mempermudah proses promosi budaya. 

Perempuan NTT tentu saja punya peluang besar untuk mempromosikan kearifan lokal dengan konten di platform media sosial, edukasi mengenai budaya, dan mempraktikan budaya tersebut."


3. Apa saja kendala yang dialami perempuan NTT dalam menyuarakan keadilan di ruang publik?

"Kendala, tentu banyak. Tetapi yang paling berpengaruh adalah sistem sosial tadi. Di mana, sering kali dalam praktik sosial, khususnya di beberapa adat, perempuan sering kali dihormati sebagai simbol, tetapi dikontrol sebagai tubuh. 

Artinya' masih banyak kebiasaan yang membungkam suara perempuan sehingga menyulitkan perempuan untuk bersuara di ruang publik."

Septiani Melita, Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang. Foto Instagram: @septianimelitaa



4. Berdasarkan pandangan kakak, apakah kakak setuju dengan stigma sosial yang menyatakan belis perempuan NTT itu mahal?

"Stigma soal belis mahal di NTT tidak bisa hanya ditelisik dari satu sudut pandang, namun kita bisa berpikir realistis sekaligus idealis.

Idealnya belis dipandang sebagai harga diri, harga perempuan, jika tidak dipenuhi maka timbul rasa malu ditengah masyarakat namun secara realistis tentu menyulitkan karna tidak semua orang mampu membayar dengan jumlah yang besar."


Septiani Melita, Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang. Foto Instagram: @septianimelitaa




 Apa saja faktor yang menjadi tolak ukur mahalnya belis perempuan Manggarai?

"Faktor yang menjadi tolak ukur belis di Manggarai adalah dari silsila keluarga, pendidikan, status sosial dan banyak pertimbangan lain."

Seandainya pihak laki tidak mampu melunasi belis perempuan, apa yang perlu dilakukan oleh kedua pasangan?

Septiani Melita, Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang. Foto Instagram: @septianimelitaa





Adakah sanksi sosial, jika pihak laki tidak mampu melunasi belis?

"Sanksi sosial pasti ada (mungkin bisa dicari di sumbr lain kak kalau bisa yang kredibel karna saya tidak punya kapasitas lebih soal ini)."




5. Bagaimana peran kreator konten NTT dalam memperjuangkan isu-isu sosial yang sedang berkembang?

"Peran kreator ntt tentu saja bisa lebih aktif menyuarakan isu2ini, menjadii opinion leader untuk masyarakat dalam menyuarakan isu2 sosial yanh berkembang , apalagi dengan hastag #noviralnojustic#


6. Pesan apa yang ingin disampaikan kaka ke teman-teman perempuan yang saat ini berjuang dalam melawan ketidakadilan di ruang publik?

"Pesan saya teruslah berjuang, bersuara, jangan takut karena perempuan hebat adalah perempuan yang berdiri tegak dikaki sendiri dan berani melawan ketidakadilan. Hidup perempuan yang melawan."


Demikian obrolan singkat antara TAFENPAH.COM bersama Septiani Melita, Duta Rupiah Flobamorata sekaligus Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang pada edisi ini.

Teruntuk rekan-rekan ingin menyampaikan opini, ide, dan apa pun bentuk keresahannya, silakan hubungi Admin TAFENPAH melalui instagram @tafenpahtimor  atau @suni_fredy


TAFENPAH.COM
TAFENPAH.COM Salam Literasi. Perkenalkan saya Frederikus Suni. Saya pernah bekerja sebagai Public Relation/PR sekaligus Copywriter di Universitas Dian Nusantara (Undira), Tanjung Duren, Jakarta Barat. Saya juga pernah terlibat dalam proyek pendistribusian berita dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) ke provinsi Nusa Tenggara Timur bersama salah satu Dosen dari Universitas Bina Nusantara/Binus dan Universitas Atma Jaya. Tulisan saya juga sering dipublikasikan ulang di Kompas.com. Saat ini berprofesi sebagai Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Siber Asia (Unsia), selain sebagai Karyawan Swasta di salah satu Sekolah Luar Biasa Jakarta Barat. Untuk kerja sama bisa menghubungi saya melalui Media sosial:YouTube: Perspektif Tafenpah||TikTok: TAFENPAH.COM ||Instagram: @suni_fredy || ������ ||Email: tafenpahtimor@gmail.com

Posting Komentar untuk "Septiani Melita : Perempuan NTT terus Bersuara dan Abaikan Stigma Sosial"