Relevansi Gaya Komunikasi KDM terhadap Pemimpin Publik Masa Kini
Penulis: Frederikus Suni | Dukung penulis dengan KLIK DI SINI!
![]() |
| Relevansi Gaya Komunikasi KDM terhadap Pemimpin Publik Masa Kini. TAFENPAH.com |
TAFENPAH.com - Ketika gaya komunikasi pejabat publik dewasa ini cenderung elitis, teknokratis, dan berjarak dari realitas akar rumput, pendekatan yang ditunjukkan oleh Kang Dedi Mulyadi hadir membawa napas segar. Relevansi gaya komunikasi berbasis kearifan lokal ini setidaknya meniti tiga poin krusial bagi para pemimpin publik kontemporer:
1. Transparansi tanpa Sekat Formalitas
Banyak pejabat terjebak dalam protokoler yang kaku, sehingga pesan politik atau program kerja yang disampaikan terkesan dingin dan sukar dipahami rakyat awam. Sebaliknya, KDM memanfaatkan media sosial dan interaksi langsung di lapangan dengan bahasa sehari-hari yang merakyat. Humor Sunda yang khas, celetukan hangat, namun tetap tajam pada substansi membuat pesan birokrasi yang rumit menjadi cair dan terjangkau bagi siapa saja.
2. Kepemimpinan Berbasis Empati (Authentic Leadership)
Prinsip Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh serta ajaran keislaman yang membumi bukan sekadar pemanis retorika, melainkan diwujudkan dalam aksi mendengarkan keluh kesah masyarakat secara nyata. Pemimpin tidak hadir sebagai pahlawan dari atas menara gading, melainkan sebagai bagian dari keluarga besar masyarakat itu sendiri. Pendekatan emosional (emotional connection) inilah yang membangun kepemimpinan yang autentik dan menumbuhkan kepercayaan (trust) publik secara alami.
3. Internalisasi Nilai Kebangsaan dalam Tindakan Nyata
Semangat Keindonesiaan tidak selalu harus dipidatokan dengan gaya doktrinal. Lewat pemeliharaan lingkungan, pelestarian adat budaya lokal, hingga bantuan sosial yang berkeadilan, nilai-nilai Pancasila terinternalisasi secara konkrit. Hal ini membuktikan bahwa mencintai tradisi lokal sejatinya adalah fondasi utama dalam memperkokoh nasionalisme Indonesia.
Catatan Kritis dan Penutup TAFENPAH
Tentu saja, gaya komunikasi berbasis kearifan lokal bukanlah jimat ajaib yang berdiri sendiri tanpa didukung oleh efektivitas kinerja, akuntabilitas, dan pemenuhan janji-janji politik. Gaya komunikasi adalah pintu masuk, sedangkan eksekusi kebijakan yang prorakyat adalah rumahnya.
Namun, di tengah krisis krisis kepercayaan publik terhadap figur pemimpin, keberanian KDM berpijak pada nilai Sunda, Islam, dan Keindonesiaan memberikan arah baru. Ini menjadi kompas bagi calon pemimpin daerah hingga pusat: bahwa untuk memenangkan hati rakyat, seorang pejabat harus terlebih dahulu paham bahasa nurani, etika, dan kebudayaan tanah yang ia pijak.
Sebab pada akhirnya, politik bukan sekadar urusan meraih kekuasaan, melainkan seni menyentuh rasa dan merawat kemanusiaan.
Bagaimana menurut Sobat Tafenpah? Apakah model komunikasi berbasis kearifan lokal seperti ini sudah layak menjadi standard benchmark bagi seluruh pejabat publik di Indonesia? Mari berdiskusi di kolom komentar!

Posting Komentar untuk "Relevansi Gaya Komunikasi KDM terhadap Pemimpin Publik Masa Kini"
Posting Komentar
Diperbolehkan untuk mengutip sebagian materi dari TAFENPAH tidak lebih dari 30%. Terima kasih