Angkat Budaya Tenun, Tiga Mahasiswi Unimor Raih Medali Perunggu di MEC 9

Penulis: D O | Dukung TAFENPAH dengan secangkir kopi hangat, KLIK DI SINI 

Angkat Budaya Tenun, Tiga Mahasiswi Unimor Raih Medali Perunggu di MEC 9. TAFENPAH.com

LOMBOK, TAFENPAH.COM – Tiga mahasiswi Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Timor (Unimor), berhasil meraih medali perunggu (Bronze Medal) dalam ajang Mandalika Essay Competition 9 (MEC 9) yang berlangsung di Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada 24–26 Oktober 2026.

Ketiga mahasiswi tersebut adalah Bernadetha Filiata Mbabho, Febrilina Naisoko, dan Glorya Arroya Lopez. Mereka meraih prestasi melalui esai berjudul “Peran Generasi Muda dalam Melestarikan Teknik Tradisional Pembuatan Benang dan Pewarna Alami Kain Tenun.”
Kompetisi tersebut diselenggarakan oleh Lembaga Setara Prisma Nusantara atau Nusantara Muda, bekerja sama dengan Universitas Mataram, khususnya Fakultas Pertanian melalui Himpunan Mahasiswa Agroekoteknologi (HIMAGROTEK).

Prestasi ini menjadi kebanggaan bagi tim sekaligus menunjukkan kontribusi mahasiswa Universitas Timor dalam mengangkat isu pelestarian budaya melalui forum akademik tingkat nasional.

Dalam esainya, ketiga mahasiswi tersebut menyoroti pentingnya menjaga keberlangsungan teknik tradisional pembuatan benang dan pemanfaatan pewarna alami dalam proses pembuatan kain tenun.

Bagi mereka, kain tenun tidak sekadar produk budaya yang memiliki nilai estetika. Tenun juga merupakan bagian dari identitas masyarakat, warisan pengetahuan leluhur, serta potensi ekonomi lokal yang perlu dijaga dan dikembangkan.

Di tengah perkembangan zaman, keterlibatan generasi muda dinilai penting agar pengetahuan dan keterampilan tradisional tidak hilang, tetapi tetap dipelajari, diwariskan, dan dikembangkan secara berkelanjutan.
Untuk memperkuat gagasan tersebut, tim melakukan observasi dan wawancara dengan para pelaku tradisi menenun di desa. Mereka juga memberikan edukasi kepada siswa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama mengenai pentingnya pelestarian budaya tenun.

Kegiatan itu menjadi bentuk keterlibatan mahasiswa dalam menumbuhkan kesadaran generasi muda terhadap kekayaan budaya daerah.

Meski berasal dari Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, ketiga mahasiswi tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dikembangkan melalui berbagai disiplin ilmu.

Pelestarian tenun memiliki keterkaitan dengan pengembangan potensi ekonomi lokal, pemberdayaan masyarakat, serta peningkatan nilai produk budaya melalui inovasi tanpa menghilangkan nilai tradisional yang melekat di dalamnya.

Melalui pendekatan tersebut, budaya tidak hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai potensi yang dapat dikembangkan untuk mendukung kesejahteraan masyarakat.

Pencapaian medali perunggu dalam MEC 9 menjadi hasil dari proses belajar, kerja sama tim, serta upaya mengangkat persoalan budaya lokal melalui gagasan ilmiah.

Kompetisi ini juga menjadi pengalaman berharga bagi ketiganya untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, menyampaikan gagasan, dan memperluas wawasan melalui interaksi dengan peserta dari berbagai daerah.

Melalui prestasi tersebut, tim berharap semakin banyak generasi muda yang tergerak untuk mengenal, mencintai, dan melestarikan warisan budaya daerah.

Mereka juga berharap gagasan yang diangkat dapat menginspirasi mahasiswa dan masyarakat untuk melihat budaya sebagai kekuatan yang terus dapat dikembangkan bagi masa depan.

Dengan semangat “Generasi Muda Menenun Masa Depan,” Bernadetha Filiata Mbabho, Febrilina Naisoko, dan Glorya Arroya Lopez membuktikan bahwa kepedulian terhadap budaya lokal dapat menjadi bagian dari kontribusi nyata dalam menjaga warisan Nusantara.

Prestasi ini diharapkan menjadi motivasi bagi ketiganya untuk terus berkarya, mengembangkan potensi daerah, dan membawa nama Universitas Timor semakin dikenal melalui kontribusi akademik yang berdampak bagi masyarakat.

Dibalik setiap kisah kearifan lokal, analisis filosofis, dan cerita inspiratif yang lahir dari tanah perbatasan NTT, ada ribuan jam riset, wawancara, serta dedikasi tanpa henti. Kami di TAFENPAH percaya bahwa narasi-narasi terbaik Indonesia tumbuh dari pelosok - tempat di mana tradisi, etika, dan nilai kekerabatan masih dijaga dengan hangat.

Namun, menyuarakan cerita yang kerap luput dari perhatian media arus utama bukanlah hal yang mudah. Di era informasi yang serba cepat dan berorientasi pada konten komersial, TAFENPAH tetap memilih konsisten: merawat ingatan, melestarikan budaya, dan menghadirkan jurnalisme yang edukatif bagi generasi muda.

Mari, dukung kami dengan donasi secangkir kopi hangat.



TAFENPAH.COM
TAFENPAH.COM Salam Literasi. Perkenalkan saya Frederikus Suni. Saya pernah bekerja sebagai Public Relation/PR sekaligus Copywriter di Universitas Dian Nusantara (Undira), Tanjung Duren, Jakarta Barat. Saya juga pernah terlibat dalam proyek pendistribusian berita dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) ke provinsi Nusa Tenggara Timur bersama salah satu Dosen dari Universitas Bina Nusantara/Binus dan Universitas Atma Jaya. Tulisan saya juga sering dipublikasikan ulang di Kompas.com. Saat ini berprofesi sebagai Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Siber Asia (Unsia), selain sebagai Karyawan Swasta di salah satu Sekolah Luar Biasa Jakarta Barat. Untuk kerja sama bisa menghubungi saya melalui Media sosial:YouTube: Perspektif Tafenpah||TikTok: TAFENPAH.COM ||Instagram: @suni_fredy || ������ ||Email: tafenpahtimor@gmail.com

Posting Komentar untuk "Angkat Budaya Tenun, Tiga Mahasiswi Unimor Raih Medali Perunggu di MEC 9"