Ume Mnasi sebagai Ikatan Kekeluargaan Atoin Meto dalam Memaknai Perbedaan

[Penulis : Frederikus Suni]

Ume Mnasi adalah ruang di mana setiap anggota keluarga memadu kasih, mengikat hubungan kekeluargaan sampai pada ruang tumbuh kembangnya karakter dan identitas keluarga


Ume Mnasi (Rumah Tua) sebagai Ikatan Kekeluargaan Atoin Meto dalam Memaknai Perbedaan. Gambar; MetaAI/Tafenpah.com


TAFENPAH.COM - Ume Mnasi (Ume Naek) dalam linguistik masyarakat Atoin Meto, khususnya di kabupaten Timor Tengah Utara adalah tempat di mana satu keluarga menjalin komunikasi, mengikat tali persaudaraan, tempati hingga melakukan segala sesuatu secara bersama.

Kebersamaan yang terjalin dalam keluarga inti di dalam Ume Mnasi kemudian berkembang menjadi ikatan sosial dalam memaknai perbedaan.

Artinya; dalam menjalani kehidupan harian, pastinya ada perbedaan pendapat antara orang tua dan anak-anaknya.

Begitu pun, perbedaan pendapat antara kakak beradik.

Ketika berada dalam situasi tersebut, biasanya iklim atau ekosistem persaudaraan menjadi tidak aman.

Keadaan tersebut memaksa salah satu anggota keluarga memilih pergi menjauh dari lingkungan keluarganya.

Kepergian salah satu anggota keluarga meninggalkan duka sosial.

Untuk mendamaikan relasi atau hubungan yang retak antar keluarga, orang tua selaku penentu atau pengambil keputusan akan berkomunikasi dengan anak-anaknya untuk kembali ke Ume Mnasi.

Karena di dalam Ume Mnasi, ada ikatan emosional yang sampai kapan pun tidak akan memisahkan hubungan darah (kekeluargaan).




Ume Mnasi sebagai Ruang Nostalgia

Peran Ume Mnasi bukan sebatas tempat tinggal. Lebih jauhnya, Ume Mnasi menyimpan memori masa kecil antara orang tua bersama anak-anaknya.

Di dalam Ume Mnasi setiap anggota keluarga bebas mengekspresikan dirinya tanpa adanya diskriminasi.

Ume Mnasi adalah ruang di mana setiap anggota keluarga memadu kasih, mengikat hubungan kekeluargaan sampai pada ruang tumbuh kembangnya karakter dan identitas keluarga.

Sejelek-jeleknya Ume Mnasi, di situlah demokrasi kekeluargaan dibangun atas dasar cinta kasih.

Ume Mnasi dalam Perkembangannya

Seiring dengan berjalannya waktu, peran Ume Mnasi dimaknai sebagai tempat berpulangnya anak-anak untuk melepas rasa lelah, bernostalgia dengan masa kecil, melihat kembali jejak orang tua, terutama bagi mereka yang sudah kehilangan orang tuanya.

Sejauh apa pun anak-anak merantau, pada akhirnya, mereka akan kembali ke pangkuan Ume Mnasi.

Etimologi atau Akar Kata Ume Mnasi

Istilah atau terminologi dari Ume Mnasi berasal dari bahasa Dawan Timor, terdiri dari dua kata yakni;

1. Ume

2. Mnasi

Ume berarti; Rumah
Mnasi berarti : Tua

Jadi, sederhananya Ume Mnasi dapat diterjemahkan sebagai RUMAH TUA.

Rumah Tua (Ume Mnasi) Masyarakat Dawan Desa Haumeni sebagai Pusat Studi Kebudayaan dan Sosiologi

Sebagai makhluk sosial yang lahir, bertumbuh, dan berkembang dalam tradisi Dawan Timor, masyarakat di desa Haumeni, kecamatan Bikomi Utara, kabupaten Timor Tengah Utara, provinsi Nusa Tenggara Timur menjadikan Rumah Tua (Ume Mnasi) sebagai laboratorium studi kebudayaan dan sosiologi.

Studi kebudayaan dan sosiologi yang berkembang di dalam Ume Mnasi bermakna kebebasan apa pun selalu berpatokan pada etika dan norma yang berlaku di dalamnya.

Artinya; setiap anggota keluarga boleh saja bebas (demokratis) memilih tujuan hidupnya dengan segala konsekuensinya.

Namun, dalam kebebasan tersebut, ada sistem sosial yang mengikat setiap anggota keluarga dalam bertindak dan berperilaku.

Perilaku baik dan buruknya setiap anggota keluarga dapat mempengaruhi identitas Ume Mnasi.

Sebagai contoh, berikut adalah kisah sederhana kehidupan sebuah keluarga di dalam Ume Mnasi

Sekitar tahun 90an hingga 2000an di desa Haumeni, kecamatan Bikomi Utara, Timor Tengah Utara, NTT hiduplah sepasang suami - istri.

Kehidupan suami - istri ini semakin bermakna dengan kehadiran buah hatinya.

Seiring dengan berjalannya waktu, keluarga sederhana ini mendidik anaknya untuk hidup berdasarkan etika dan norma yang berkembang di dalam kehidupan bermasyarakat.

Salah satu nilai sosiologis yang selalu ditanamkan oleh pasangan suami - istri ini kepada anaknya adalah pentingnya menghargai perbedaan di dalam lingkungan keluarga.

Karena dalam perbedaan, apa pun yang terjadi di luar Ume Mnasi bisa terselesaikan dengan sistem kekeluargaan.

Perasaan ini terus tumbuh dan berakar kuat dalam diri anak.

Dari lingkungan Ume Mnasi, anak ini kemudian keluar dan membagikan pengalaman baiknya kepada lingkungan terdekatnya, seperti kehidupan bertetangga, sekolah, dan bermasyarakat.

Setiap kebaikan yang dipraktikkan oleh anak ini mendapatkan sambutan hangat serta meninggalkan kesan positif bagi setia orang yang ia temui.

Tanpa sadar, didikan baik dari orang tuanya ikut berkontribusi terhadap kehidupan sosial anak di mana pun ia berada.

Dengan demikian, legacy atau peninggalan orang tua kepada anak di dalam lingkungan Ume Mnasi membawa perubahan positif serta mencerminkan bagaimana nilai-nilai humanis di dalam kekeluargaan selalu mempengaruhi ekosistem persahabatan anak di mana ia belajar, bekerja, dan melakukan aktivitas lainnya.


Disclaimer : Tulisan ini tidak bermaksud untuk menggurui pembaca di mana pun. Tulisan ini sebagai bahan permenungan bagi kita semua untuk selalu mengingat dari mana kita berasal.

Penulis juga menyadari, bahwasannya tulisan ini jauh dari ketidaksempurnaan. Sebagai bahan pembelajaran bersama, penulis mengharapkan masukan atau kritikan dan pembaca guna melengkapi hasil tulisan ini menjadi lebih baik ke depannya.


Instagram @tafenpah @suni_fredy
Youtube : Perspektif Tafenpah
Tiktok ; @tafenpah.com


TAFENPAH.COM
TAFENPAH.COM Salam Literasi. Perkenalkan saya Frederikus Suni. Saya pernah bekerja sebagai Public Relation/PR sekaligus Copywriter di Universitas Dian Nusantara (Undira), Tanjung Duren, Jakarta Barat. Saya juga pernah terlibat dalam proyek pendistribusian berita dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) ke provinsi Nusa Tenggara Timur bersama salah satu Dosen dari Universitas Bina Nusantara/Binus dan Universitas Atma Jaya. Tulisan saya juga sering dipublikasikan ulang di Kompas.com. Saat ini berprofesi sebagai Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Siber Asia (Unsia), selain sebagai Karyawan Swasta di salah satu Sekolah Luar Biasa Jakarta Barat. Untuk kerja sama bisa menghubungi saya melalui Media sosial:YouTube: Perspektif Tafenpah||TikTok: TAFENPAH.COM ||Instagram: @suni_fredy || ������ ||Email: tafenpahtimor@gmail.com

Posting Komentar untuk "Ume Mnasi sebagai Ikatan Kekeluargaan Atoin Meto dalam Memaknai Perbedaan"