Pembentukan Opini Publik Media Massa Konvensional dan Digital

[ Penulis : Frederikus Suni ]

Pembentukan opini publik dari media massa digital terletak pada viralitas, partisipasi aktif, pengaruh influencer atau tokoh publik dan berkembangkan konten generatif (User Generated Content)


Pembentukan Opini Publik di Media Massa Konvensional dan Digital. Dok: Tafenpah.com

TAFENPAH.COM - Setiap saat kita menerima notifikasi pesan, baik dari akun media sosial hingga email marketing Public Relations/PR media besar tanah air. Dalam studi Komunikasi Massa, pesan-pesan tersebut bertujuan untuk membentuk opini publik.

Berkaitan dengan pembentukan opini publik, pada kesempatan ini, saya akan membahas 3 bentuk komunikasi untuk  membedakan media massa konvensional dan media massa digital.

a. Pola komunikasi

Ciri utama dari pola komunikasi media massa konvensional adalah komunikasi yang disampaikan oleh komunikator (pemberi pesan) kepada audiens (penerima pesan) dengan model komunikasi satu arah.

Kelemahan dari praktik komunikasi linear (satu arah) media massa konvensional adalah tidak ada umpan balik secara cepat dan real time.

Komunikasi jenis ini juga sangat kaku dan monoton. Sehingga pelanggan dan pembaca setia media massa konvensional, khususnya kategoria usia muda tidak tertarik untuk terlibat aktif dalam proses transmisi pesan itu sendiri.




Sementara, pola komunikasi media massa digital cenderung cepat, interaktif, real time, bersifat dua arah, menjangkau khalayk luas dan tanpa batas.

Proses penyampaikan komunikasi media massa digital kian cenderung dengan model konten multimedia.

Perubahan gaya komunikasi dua arah dari media massa digital, perlahan tapi pasti meruntuhkan dominasi media massa konvensional.




 

b. Peran Audiens

Partisipasi audiens media massa konvensional dan media massa digital juga berbeda. Di mana, audiens media massa konvensional, khususnya kelompok usia dewasa hingga tua bahkan kalangan akademis cenderung memilih untuk membaca, mendengarkan, menonton berita-berita yang bersumber dari media konvensional.

Karena informasi yang bersumber dari media konvensional lebih akurat, berimbang, terverifikasi, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Potretan itu sangat kontras atau berbeda dengan partisipasi audiens di media digital yang tidak terkontrol, liar, sesuka hati, dan bebas.

Artinya; partisipasi audiens media massa digital dalam satu sisi memudahkan adanya umpan balik, sehingga pengelola media bahkan pekerja media selalu mendapatkan insight untuk memperbaharui informasi secara kontinyu (terus-menerus).

Namun, pada saat yang bersamaan pula, ada potensi penyalahgunaan hak dalam berpendapat. Di mana, audiens media digital yang berasal dari berbagai latar belakang profesi, suku, agama, kepentingan dll, kerap kali saling menyerang individu tertentu melalui kolom komentar.

Penyerangan individu atau dalam bahasa mahasiswa Filsafat adalah Logiccal Fallacy semakin tidak terkontrol dalam keseharian audiens media digital.

Tentunya, ini bukan jargon pledio atau pembelaan saya. Namun, dalam realita, fenomena itu sedang berkembang dan berakar kuat dalam audiens media digital.

Kendati pun demikian, ada kelebihan dari audiens digital yakni secara tidak langsung mereka terlibat aktif dalam penyebarluasan pesan, mendukung kemajuan ekonomi kreatif hingga menciptakan ekosistem persahabatan yang kuat dalam mendukung industri media tanah air.

c. Dampak terhadap Pembentukan Opini Publik

Pembentukan opini publik antara media massa konvensional dan media massa digital pada dasarnya berbeda.

Perbedaan yang paling mencolok dari kedua generasi media ini adalah terletak pada identitas top down (komunikasi satu arah dari media ke publik), penjaga gawang (gatekeeper), agenda setting, framing (bingkai berita), akurasi, dan kepercayaan yang biasanya dipraktikkan oleh media massa konvensional.

Sementara, pembentukan opini publik dari media massa digital terletak pada viralitas, partisipasi aktif, pengaruh influencer atau tokoh publik dan berkembangkan konten generatif (User Generated Content).

Berikut adalah tabel perbandingan Pembentukan Opini Publik media massa konvensional dan digital

 

 

Media Konvensional

Media Digital

 

Komunikasi satu arah (linear)

Komunikasi dua arah (non linear)

 

Terkontrol

Cepat dan real time

 

Verifikasi

Tergantung mood pengelola media

 

Top Down artinya opini bersumber dari media menuju publik

Bottom up artinya; informasi dari publik dan kembali ke publik

 

Tidak mengandalkan viralitas

Viralitas

 

Kaku

Fleksibel dan terbuka

 

Monoton

Mengalir

 

Berikan contoh kasus untuk memperkuat jawaban Anda

Berdasarkan buku ‘MANAJEMEN MEDIA KONTEMPORER (Mengelola Media Cetak, Penyiaran, dan Digital)’ karya Muhammad Ikhwan saya berpendapat sekaligus memberikan contoh-contoh perbandingan antara media massa konvensional (media lama) dan media massa digital (media baru) sebagai berikut:

Media lama (konvensional) seperti Koran, radio, majalah hingga televisi memiliki susunan atau struktur organisasi penerbitan pers yang mencakup : Pemimpin Umum, Pemimpin Redaksi, Pemimpin Perusahaan hingga Redaktur Bidang yang menugaskan Reporter, Korensponden, dan Penugasan Khusus dalam mencari berita, kasus, informasi, kemudian mengelolanya, lalu mempublikasikannya kepada audiens.[1]

Sementara contoh model media massa Digital yang mendapatkan perhatian serius dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk mahasiswa di berbagai universitas dan perguruan tinggi di Indonesia adalah KOMPASIANA.

Sesuai dengan pengalaman saya menulis di Kompasiana, saya menemukan banyak pengalaman positif, pengalaman interaktif dan sangat real time. Selain, informasinya terus diupdate oleh USER atau pengguna.

Sesuai dengan ciri utama media digital, Kompasiana termasuk platforms User Generated Content. Karena setiap pengguna yang sudah memiliki akun dan terverifikasi bisa menuangkan opini, pendapat, dan gagasannya secara bertanggung jawab.



[1] Muhammad Ikhwan, Manajemen Media Kontemporer Mengelola Media Cetak, Penyiaran, dan Digital (Jakarta: Kencana, 2022), hlm. 27.

TAFENPAH.COM
TAFENPAH.COM Salam Literasi. Perkenalkan saya Frederikus Suni. Saya pernah bekerja sebagai Public Relation/PR sekaligus Copywriter di Universitas Dian Nusantara (Undira), Tanjung Duren, Jakarta Barat. Saya juga pernah terlibat dalam proyek pendistribusian berita dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) ke provinsi Nusa Tenggara Timur bersama salah satu Dosen dari Universitas Bina Nusantara/Binus dan Universitas Atma Jaya. Tulisan saya juga sering dipublikasikan ulang di Kompas.com. Saat ini berprofesi sebagai Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Siber Asia (Unsia), selain sebagai Karyawan Swasta di salah satu Sekolah Luar Biasa Jakarta Barat. Untuk kerja sama bisa menghubungi saya melalui Media sosial:YouTube: Perspektif Tafenpah||TikTok: TAFENPAH.COM ||Instagram: @suni_fredy || ������ ||Email: tafenpahtimor@gmail.com

Posting Komentar untuk "Pembentukan Opini Publik Media Massa Konvensional dan Digital"