Menguak Psikologi Komunal: Bagaimana Adat Membentuk Identitas dan Perilaku Masyarakat NTT

[ Penulis : Frederikus Suni ]

Menguak Psikologi Komunal: Bagaimana Adat Membentuk Identitas dan Perilaku Masyarakat NTT. TAFENPAH.COM

TAFENPAH.COM - Menguak psikologi atau hubungan kekerabatan masyarakat provinsi Nusa Tenggara Timur, melibatkan berbagai tafsiran (perspektif). Namun, yang pasti adalah psikologi komunal (komunitas) masyarakat provinsi Nusa Tenggara Timur terletak pada bagaimana pengaruh dari silsilah keluarga, hubungan darah seperti; keluarga inti, keluarga besar, kemudian berkembang ke suku, kampung/desa, sekawasan kabupaten, kota, provinsi hingga sahabat kenalan di mana, masyarakat NTT menjalin komunikasi lintas budaya.

Studi komunikasi juga mengandaikan bagaimana masyarakat NTT mempertanggungjawabkan identitasnya sebagai warga Indonesia yang berasal dari beragam perbedaan.

Dari perbedaan tersebut, saya menarik benang merah, bahwasannya relasi kedekatan (aspek psikologi) masyarakat NTT tidak bisa dipisahkan dari adat istiadat.


Adat Membentuk Identitas Masyarakat NTT




Pembicaraan tentang adat istiadat juga melibatkan studi filsafat. Karena dari filsafat, masyarakat NTT mempertanyakan jati dirinya.

Jati diri atau identitas masyarakat NTT selalu berpatokan pada kearifan lokal budayanya.

Melalui kearifan lokal budaya, masyarakat NTT sadar akan pentingnya merawat kekayaan nilai-nilai dari mana mereka lahir, bertumbuh, dan berproses.

Proses menemukan jati diri yang sarat dengan warisan leluhur, sama halnya dengan pencarian para filsuf Yunani kuno tentang kekuatan absolut (mutlak) dari semesta.

Pencarian akan eksistensi semesta juga dipengaruhi oleh kebiasaan setempat. Dalam hal ini, masyarakat NTT dalam membentuk identitas sosialnya, mereka selalu berpedoman pada etika dan moral, sebagaimana yang diajarkan oleh leluhurnya.

Leluhur Masyarakat NTT sebagai Sumber Pengetahuan




Proses pencarian data, pendalaman materi hingga penemuan ilmu pengetahuan dalam sejarah dunia tidak dipisahkan dari bagaimana cara hidup leluhur.

Leluhur masyarakat NTT telah meletakkan dasar ilmu pengetahuan bagi generasi penerusnya. Pengetahuan itu kita dapat menjumpainya melalui cara hidup mereka yang sangat minimalis (sederhana) tetapi berdampak positif terhadap warisan budaya nusantara.

Seperti; saling menghargai, menghormati orang yang lebih tua, gotong royong, membantu, menjaga persatuan, persaudaraan, dan tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip kearifan lokal budaya.

Karena dalam budaya, manusia terlebih masyarakat NTT mengenal asal usulnya, memahami tanda-tanda zaman, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan (etika dan moral) sampai pada bagaimana mereka menjalin ekosistem persahabatan lintas profesi, budaya, dan sebagainya.

Untuk itu, tidak berlebihan, jika saya mengatakan leluhur masyarakat NTT sebagai pusat ilmu pengetahuan.

Adat Mempengaruhi Perilaku Masyarakat NTT

Kebiasaan baik yang terdapat dalam setiap warisan kebudayaan leluhur masyarakat provinsi Nusa Tenggara Timur telah menjembatani generasi penerusnya untuk selalu mengingat serta berperilaku sesuai etika dan norma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Karena perilaku baik masyarakat NTT mencerminkan kekuatan warisan budaya leluhur.

Budaya pada satu sisi memang mengekang masyarakat NTT, seperti perbedaan status sosial antara laki-laki dan perempuan. Belum lagi pro kontra terkait pemberian belis (mahar) dari pihak laki ke perempuan, memicu berbagai persoalan sosial hingga saat ini dan di waktu yang akan datang.

Namun, pada saat yang bersamaan, budaya adalah jembatan pengetahuan baik dan buruk yang mengatur ketertiban sosial.

Selain itu, budaya menjadi pengingat atau alarm bagi masyarakat NTT untuk tidak melupakan, apalagi mengangkangi nilai-nilai leluhur hanya karena ingin mengejar kenikmatan sesaat, seperti pernikahan beda agama, dll.

Jauh dari persoalan di atas, saya perlu menggarisbawahi, bahwasannya budaya bukan hanya sebatas cerita masa lalu. 

Tetapi, budaya adalah kompas atau penunjuk arah, pedoman hidup, pengatur kebijakan, pengingat waktu, pengingat nilai-nilai etika dan moral serta beragam hal positifnya dalam kehidupan bersama. 

Entah kehidupan bersama sebagai keluarga inti, relasi persaudaraan, sesama suku, golongan, budaya, bahasa, ras, jenis kelamin, kepentingan kerja, sekolah, bisnis, dll.

Epilog

Sebagai epilog atau penutup dari tulisan sederhana ini, saya kembali menegaskan, apa pun yang terjadi dalam kehidupan kita sebagai masyarakat NTT, rasa persaudaraan, perasaan senasib, seperjuangan, sepikiran (konteks psikologi komunal), tradisi kearifan lokal budaya dari mana kita lahir, bertumbuh, dan berproses merupakan warisan budaya yang perlu kita hidupi (praktikkan) dalam kehidupan bersama.

Karena hanya dengan cara demikian, kebudayaan kita berdampak dan meninggalkan legacy baik bagi setiap generasi masyarakat NTT.

Akhirnya; bekerja dan bergaullah dengan semua orang. Karena dengan cara demikian, kita pun membuktikkan kepada dunia, bahwasannya budaya leluhur NTT bukan sebatas wacana, tetapi budaya yang selalu hidup, menginspirasi, dan berdampak terhadap peradaban dunia, terlebih kemajuan bangsa Indonesia.

Disclamer ; Apabila ke depannya, rekan-rekan pembaca yang mengutip sebagian tulisan ini untuk kepentingan apa pun, dimohonkan untuk mencantumkan TAFENPAH.COM sebagai sumber referensinya.

TAFENPAH juga terbuka untuk segala saran, kritik, dan apa pun masukkannya, demi perbaikan karya ini ke depannya, asalkan kritij yang membangun, bukan menjatuhkan!

Sekian dan terima kasih. Salam literasi.


Instagram @tafenpah dan @suni_fredy


Tiktok ; @tafenpah.com








TAFENPAH.COM
TAFENPAH.COM Salam Literasi. Perkenalkan saya Frederikus Suni. Saya pernah bekerja sebagai Public Relation/PR sekaligus Copywriter di Universitas Dian Nusantara (Undira), Tanjung Duren, Jakarta Barat. Saya juga pernah terlibat dalam proyek pendistribusian berita dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) ke provinsi Nusa Tenggara Timur bersama salah satu Dosen dari Universitas Bina Nusantara/Binus dan Universitas Atma Jaya. Tulisan saya juga sering dipublikasikan ulang di Kompas.com. Saat ini berprofesi sebagai Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Siber Asia (Unsia), selain sebagai Karyawan Swasta di salah satu Sekolah Luar Biasa Jakarta Barat. Untuk kerja sama bisa menghubungi saya melalui Media sosial:YouTube: Perspektif Tafenpah||TikTok: TAFENPAH.COM ||Instagram: @suni_fredy || ������ ||Email: tafenpahtimor@gmail.com

Posting Komentar untuk "Menguak Psikologi Komunal: Bagaimana Adat Membentuk Identitas dan Perilaku Masyarakat NTT"