Darurat Bahasa Dawan di TTU: Menakar Kebijakan Bupati Falent Kebo Lewat Kacamata Friedrich Nietzsche

 Penulis : Frederikus Suni

Darurat Bahasa Dawan di TTU: Menakar Kebijakan Bupati Falent Kebo Lewat Kacamata Friedrich Nietzsche. Foto: Tafenpah.com


TAFENPAH.com - Setiap anak yang lahir, bertumbuh, dan besar di tanah Timor Barat, khususnya Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) seharusnya tahu dan fasih dengan bahasa Dawan. Realita inilah yang memicu keresahan sekaligus keprihatinan Bupati TTU, Yosep Falentinus Delasalle Kebo. Ia menyoroti fenomena generasi muda Kefamenanu di kawasan perbatasan Indonesia dan Timor Leste yang kian asing dengan bahasa ibunya sendiri, padahal lahir dari orang tua Atoin Meto.

Melansir pemberitaan Pos Kupang (28/8/2026), Bupati TTU Falent Kebo mengimbau seluruh kepala sekolah di wilayah kekuasaannya untuk mengkhususkan satu hari penuh wajib berbahasa Dawan. Tidak main-main, ia memberikan ultimatum keras kepada para insan pendidik agar mengawal program revitalisasi budaya ini secara serius.

Falentinus mengaku heran melihat murid-murid yang tidak lagi mampu menuturkan bahasa Dawan. Ia secara terbuka mempertanyakan komitmen para pendidik dan pihak sekolah.

"Kalian ngapain aja guru dan kepala sekolah ini? Tidur aja, makan gaji buta? Ini yang bilang negara bayar makan gaji buta ya kalian ini," tegasnya, Kamis (28/8/2026).

Ia menegaskan tidak ingin lagi menemukan anak sekolah yang buta bahasa Dawan. Jika kasus serupa kembali ditemukan, tindakan tegas berupa pencopotan jabatan kepala sekolah siap diberlakukan.

Baca JugaPendekatan Humanis dalam Diplomasi Perbatasan: Studi Co-existence Indonesia dan Timor Leste




Menakar Kebijakan Pemkab TTU Lewat Kritik Friedrich Nietzsche

filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche. Tafenpah.com


Mencermati keprihatinan Bupati TTU tersebut, menarik untuk meminjam pisau analisis filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche. Dalam karyanya, Masa Depan Pendidikan Kita (terjemahan Saut Pasaribu, IRCiSoD), Nietzsche melontarkan kritik satiris terhadap kebobrokan sistem pendidikan di negerinya.

Nietzsche menilai sistem pendidikan Jerman kala itu mengalami pergeseran makna akibat salah kaprah para pemangku kebijakan. Lembaga pendidikan umum hingga perguruan tinggi cenderung terdegradasi menjadi alat kontrol politik penguasa, alih-alih menjadi wadah pembentukan karakter, penguasaan bahasa, filsafat, dan seni. Akibatnya, lahir generasi yang terasing dari akar budayanya sendiri.

Pembaruan pendidikan, menurut Nietzsche, membutuhkan keberanian radikal: mengembalikan kedisiplinan bahasa dan nilai-nilai luhur ke dalam kurikulum utama guna membentuk mentalitas serta kebudayaan yang sejati.


Relevansi Pemikiran Nietzsche dengan Kebijakan Bahasa Dawan


Relevansi kritik Nietzsche terhadap kebijakan Pemkab TTU terletak pada pentingnya revitalisasi identitas lokal. Langkah Bupati Falent Kebo mewajibkan penggunaan bahasa Dawan di jenjang SD -SMP merupakan strategi penguatan karakter berbasis kearifan lokal. 

Sekolah dituntut tidak hanya mencetak kelulusan akademis formal, tetapi juga merawat akar budaya siswa agar tumbuh menjadi manusia seutuhnya.

Sebagai kawasan yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, TTU memegang peran vital dalam membentengi identitas nasional dan daerah. Di tengah pro dan kontra yang mengemuka, kebijakan Bupati Falent Kebo hadir sebagai langkah konkret untuk merawat nilai kearifan lokal Atoin Meto agar tidak tergerus arus modernisasi abad ke-21. Sinergi antara pemerintah, rohaniwan, lembaga adat, hingga institusi pendidikan menjadi kunci utama agar bahasa Dawan tetap lestari di tanahnya sendiri.

Kesimpulan

Keprihatinan Bupati TTU Falent Kebo terhadap lunturnya penguasaan bahasa Dawan di kalangan generasi muda Kefamenanu mendorong lahirnya kebijakan tegas: mewajibkan satu hari penuh berbahasa Dawan di tingkat SD - SMP, dengan ancaman pencopotan jabatan bagi kepala sekolah yang abai. 

Kebijakan revitalisasi ini relevan dengan pemikiran filsuf Friedrich Nietzsche mengenai pentingnya keberanian merombak sistem pendidikan untuk mengembalikan kedisiplinan bahasa dan akar budaya. Sebagai wilayah perbatasan, langkah ini menjadi strategi vital untuk membentengi identitas lokal masyarakat Atoin Meto agar tidak tergerus modernisasi.

Sumber: 

Buku Filsafat Pendidikan (Masa Depan Pendidikan) karya Friedrich Nietzche 

Pos Kupang

Analisis deskripsi kualitatif dari penulis


Dukung Penulis dengan  Jajan melalui akun

Gopay: 082140319973

BCA : 5930751466

A. N : Frederikus Suni

TAFENPAH.COM
TAFENPAH.COM Salam Literasi. Perkenalkan saya Frederikus Suni. Saya pernah bekerja sebagai Public Relation/PR sekaligus Copywriter di Universitas Dian Nusantara (Undira), Tanjung Duren, Jakarta Barat. Saya juga pernah terlibat dalam proyek pendistribusian berita dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) ke provinsi Nusa Tenggara Timur bersama salah satu Dosen dari Universitas Bina Nusantara/Binus dan Universitas Atma Jaya. Tulisan saya juga sering dipublikasikan ulang di Kompas.com. Saat ini berprofesi sebagai Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Siber Asia (Unsia), selain sebagai Karyawan Swasta di salah satu Sekolah Luar Biasa Jakarta Barat. Untuk kerja sama bisa menghubungi saya melalui Media sosial:YouTube: Perspektif Tafenpah||TikTok: TAFENPAH.COM ||Instagram: @suni_fredy || ������ ||Email: tafenpahtimor@gmail.com

Posting Komentar untuk "Darurat Bahasa Dawan di TTU: Menakar Kebijakan Bupati Falent Kebo Lewat Kacamata Friedrich Nietzsche"