Dari Kegelapan Umbu Jodu Menuju Harapan: Kisah Irtaf Dapa Moni dan Lentera Cinta Orang Tuanya

Penulis : Frederikus Suni | TAFENPAH

Sosok muda inspiratif Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT), Irtaf Dapa Moni. Tafenpah.com


TAFENPAH.com - Terkadang, tempat paling terpencil melahirkan tekad yang paling megah. Di balik bukit-bukit Sumba Tengah, tepatnya di Desa Umbu Jodu, Nusa Tenggara Timur (NTT), langkah kaki seorang anak muda bernama Irtaf Dapa Moni terus mengalun. Di desa tempat ia lahir dan dibesarkan itu, malam tidak disinari terang lampu listrik, dan sinyal seluler adalah barang mewah.

Namun, kegelapan dan keterbatasan sarana justru menempa batin Irtaf menjadi besi baja. Dari sudut NTT yang kerap dianggap minim akses, ia membuktikan bahwa impian tidak pernah mengenal batas wilayah.




Berjalan Kaki 9 KM dan Hasil Jualan Pisang

Sosok muda inspiratif Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT), Irtaf Dapa Moni. Tafenpah.com


Bagi Irtaf, perjuangan menuntut ilmu bukanlah kalimat manis di atas kertas. Sejak bangku Sekolah Dasar (SD) hingga SMA, ia konsisten mempertahankan posisi juara pertama di kelasnya. Namun, di balik prestasi berkilau itu, ada keringat yang menetes di jalanan debu Sumba.

Untuk bisa sampai ke SMA, Irtaf harus berjalan kaki sepanjang 8 hingga 9 kilometer dari rumahnya menuju jalan raya, demi mencegat bemo (angkot) dengan ongkos Rp2.000. Demi rupiah yang tampak sederhana bagi orang lain itu, Irtaf tak segan berjualan pisang.

"Untuk mengakses internet atau mengerjakan tugas sekolah, saya harus berjalan ke rumah saudara yang ada sinyalnya. Tapi keterbatasan itu tak pernah membuat saya mengeluh. Justru itulah yang membuat saya berdiri tegak hingga hari ini," kenang Irtaf.

Keterbatasan sinyal dan listrik tak menghalangi semangatnya untuk berdampak. Terbukti, Irtaf berhasil mengemban amanah sebagai:

Duta GenRe Kabupaten Sumba Tengah 2024 (Tingkat Provinsi NTT)

Duta Baca Kabupaten Sumba Tengah 2024

Ketua PIK-R dan pengurus aktif Forum Anak Daerah

Juara 1 Lomba Pembuatan Film Pendek Tingkat Kabupaten (bertema "Kesehatan Reproduksi Remaja" yang ia raih saat masih duduk di kelas 9 SMP).

Meniti Langkah di Universitas Amikom Yogyakarta

Kini, kepak sayap perjuangan membawanya merantau jauh ke Pulau Jawa. Irtaf resmi terdaftar sebagai mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional di Universitas Amikom Yogyakarta.

Meskipun saat ini biaya kuliahnya masih ditopang oleh keringat orang tuanya—sambil menunggu pengumuman seleksi beasiswa KIP-Kuliah, semangat sosialnya tak lantas padam. Di tengah kesibukan kuliah, Irtaf tetap aktif dalam kegiatan organisasi gereja serta menjadi fasilitator di taman baca masyarakat.

Sebagai anak dari keluarga petani bersahaja, bayang-bayang kesulitan ekonomi dan rasa takut akan kegagalan kerap kali menyapa di heningnya malam.

"Ada fase di mana saya sering merasa takut - takut gagal, apalagi kalau memikirkan ekonomi. Tapi saya punya pendirian yang kuat: suatu saat nanti, saya pasti berhasil," tutur anak kedua dari tiga bersaudara ini mantap.

Orang Tua: Pondasi dan Lentera yang Tak Pernah Padam

Di balik daya tahan seorang Irtaf Dapa Moni, ada dua sosok tangguh di Umbu Jodu yang tak pernah berhenti melangitkan doa. Ayah dan ibunya adalah alesan terbesar mengapa Irtaf pantang menyerah.

Meski harus membiayai dua anak di perguruan tinggi, kakak Irtaf kini menginjak semester 7 di Kupang, sementara adiknya masih berusia 3 tahun, orang tua Irtaf tidak pernah menguncupkan harapan.

"Orang tua saya tidak pernah mengeluh. Mereka selalu mengusahakan yang terbaik untuk pendidikan kami. Mereka tidak pernah bilang 'TIDAK', mereka akan selalu berusaha. Saya sangat bersyukur memiliki mereka."

Harapan yang Menyala di Ujung Senja

Kisah Irtaf Dapa Moni adalah tamparan manis bagi siapa saja yang sering menyerah pada keadaan. Bahwa sejauh apa pun desa kita dari pusat kemajuan, dan sesederhana apa pun mata pencaharian orang tua kita, masa depan tetap milik mereka yang berani bertaruh dengan kerja keras dan rasa syukur.

Di tanah perantauan, Irtaf menatap masa depan dengan keyakinan teguh: Tuhan telah menyiapkan sesuatu yang indah di ujung jalan perjuangan ini.

Penulis: Tim Redaksi Tafenpah.com

Salam dari Flobamora untuk anak-anak bangsa yang sedang berjuang!
TAFENPAH.COM
TAFENPAH.COM Salam Literasi. Perkenalkan saya Frederikus Suni. Saya pernah bekerja sebagai Public Relation/PR sekaligus Copywriter di Universitas Dian Nusantara (Undira), Tanjung Duren, Jakarta Barat. Saya juga pernah terlibat dalam proyek pendistribusian berita dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) ke provinsi Nusa Tenggara Timur bersama salah satu Dosen dari Universitas Bina Nusantara/Binus dan Universitas Atma Jaya. Tulisan saya juga sering dipublikasikan ulang di Kompas.com. Saat ini berprofesi sebagai Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Siber Asia (Unsia), selain sebagai Karyawan Swasta di salah satu Sekolah Luar Biasa Jakarta Barat. Untuk kerja sama bisa menghubungi saya melalui Media sosial:YouTube: Perspektif Tafenpah||TikTok: TAFENPAH.COM ||Instagram: @suni_fredy || ������ ||Email: tafenpahtimor@gmail.com

Posting Komentar untuk "Dari Kegelapan Umbu Jodu Menuju Harapan: Kisah Irtaf Dapa Moni dan Lentera Cinta Orang Tuanya"