Menjaga Akar Budaya Sabu Raijua di Panggung Nusantara: Kisah Julian Yusmar Dima Huda, Winner Putra Tari NTT 2026

Frederikus Suni | TAFENPAH

Kisah Julian Yusmar Dima Huda adalah cermin bagi generasi muda NTT. Sebuah pengingat hangat bahwa sejauh apa pun kita melangkah mengejar cita-cita bahkan hingga ke tanah Jawa untuk menuntut ilmu, akar budaya tempat kita dilahirkan akan selalu menjadi identitas paling megah untuk dibanggakan
Menjaga Akar Budaya Sabu Raijua di Panggung Nusantara: Kisah Julian Yusmar Dima Huda, Winner Putra Tari NTT 2026. Tafenpah.com




KUPANG, TAFENPAH.COM - Di tengah derasnya arus modernisasi dan gempuran tren global, anak-anak muda Nusa Tenggara Timur terus membuktikan bahwa akar tradisi bukanlah peninggalan masa lalu yang usang, melainkan identitas yang menuntun langkah mereka meniti masa depan.

Kisah inspiratif kali ini lahir dari panggung Pemilihan Putra Putri Tari NTT dan NTT Kids of the Year 2026 yang dihelat oleh Yayasan Elisabeth Gemilang di Kota Kupang. Di antara jejak langkah para finalis berbakat dari seluruh pelosok Flobamora, nama Julian Yusmar Dima Huda mengemuka, mengukir senyum bangga bagi masyarakat Sabu Raijua dan NTT secara keseluruhan.

Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada (UGM) asal Kabupaten Sabu Raijua ini berhasil menyabet gelar kehormatan sebagai Winner Putra Tari NTT 2026.

Proses Panjang di Balik Sorot Lampu Panggung
Gelar juara yang kini disandang Julian bukanlah hadiah instan yang datang begitu saja. Di balik senyum simpul dan gemulai gerak tari di malam Grand Final, ada perjalan panjang yang menuntut dedikasi, kerja keras, dan komitmen yang teguh.

Menjaga Akar Budaya Sabu Raijua di Panggung Nusantara: Kisah Julian Yusmar Dima Huda, Winner Putra Tari NTT 2026. Tafenpah.com



Sejak hari pertama memasuki masa karantina, Julian bersama para finalis lainnya ditempa dalam berbagai dinamika. Mulai dari pembekalan materi kepemimpinan, pemantapan pemahaman seni budaya, tantangan individu hingga ujian kolaborasi kelompok.

Bagi Julian, ajang ini bukan sekadar panggung kompetisi kecantikan atau unjuk kebolehan berbusana adat, melainkan sebuah kawah candradimuka. Di sinilah kepedulian terhadap pelestarian seni, budaya, dan potensi pariwisata daerah diuji dan diasah secara nyata.

Kecintaannya pada kebudayaan Sabu Raijua, sebuah pulau eksotis di selatan NTT yang kaya akan tradisi tenun ikat dan ritme kehidupan bersahaja menjadi napas utama yang menghidupkan setiap gerak dan tutur katanya sepanjang ajang berlangsung.

Menjaga Akar Budaya Sabu Raijua di Panggung Nusantara: Kisah Julian Yusmar Dima Huda, Winner Putra Tari NTT 2026. Tafenpah.com



Budaya Sebagai Identitas, Bukan Sekadar Peninggalan
Menjaga Akar Budaya Sabu Raijua di Panggung Nusantara: Kisah Julian Yusmar Dima Huda, Winner Putra Tari NTT 2026. Tafenpah.com


Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi UGM, Julian memahami betul kekuatan narasi dalam menyampaikan pesan-pesan kebudayaan. Baginya, amanah sebagai Putra Tari NTT 2026 membawa tanggung jawab moral yang jauh lebih besar daripada sekadar selempang kemenangan.

"Saya percaya bahwa budaya bukan hanya warisan masa lalu, tetapi identitas yang harus terus dijaga dan diperkenalkan kepada generasi berikutnya. Saya berharap dapat menjadi bagian dari generasi muda yang membawa budaya NTT semakin dikenal dan dibanggakan," ungkap Julian penuh keyakinan.

Ia menaruh harapan besar agar gelar ini menjadi titik awal berkarya. Melalui pemanfaatan media digital, kegiatan edukatif, serta kolaborasi inklusif bersama masyarakat lokal, Julian bertekad membawa kekayaan pariwisata dan kebudayaan NTT ke tingkat yang lebih luas.

Melangkah ke Ajang Nasional: Membawa Nama Flobamora
Menjaga Akar Budaya Sabu Raijua di Panggung Nusantara: Kisah Julian Yusmar Dima Huda, Winner Putra Tari NTT 2026. Tafenpah.com



Keberhasilan di tingkat provinsi ini sekaligus membuka pintu baru bagi perjalanannya. Sebagai Winner Putra Tari NTT 2026, Julian siap melangkah mewakili Provinsi Nusa Tenggara Timur di panggung nasional.

Langkahnya ke ajang nasional kelak bukan hanya membawa nama pribadi atau almamaternya, melainkan memikul kehormatan masyarakat Flobamora. Ia hadir untuk memperkenalkan kepada Indonesia betapa indahnya keberagaman, kehangatan, dan kedalaman makna tari serta tradisi Nusa Tenggara Timur.

Kisah Julian Yusmar Dima Huda adalah cermin bagi generasi muda NTT. Sebuah pengingat hangat bahwa sejauh apa pun kita melangkah mengejar cita-cita bahkan hingga ke tanah Jawa untuk menuntut ilmu, akar budaya tempat kita dilahirkan akan selalu menjadi identitas paling megah untuk dibanggakan. (Redaksi TAFENPAH)

Salam Literasi dari Perbatasan.
TAFENPAH.COM
TAFENPAH.COM Salam Literasi. Perkenalkan saya Frederikus Suni. Saya pernah bekerja sebagai Public Relation/PR sekaligus Copywriter di Universitas Dian Nusantara (Undira), Tanjung Duren, Jakarta Barat. Saya juga pernah terlibat dalam proyek pendistribusian berita dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) ke provinsi Nusa Tenggara Timur bersama salah satu Dosen dari Universitas Bina Nusantara/Binus dan Universitas Atma Jaya. Tulisan saya juga sering dipublikasikan ulang di Kompas.com. Saat ini berprofesi sebagai Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Siber Asia (Unsia), selain sebagai Karyawan Swasta di salah satu Sekolah Luar Biasa Jakarta Barat. Untuk kerja sama bisa menghubungi saya melalui Media sosial:YouTube: Perspektif Tafenpah||TikTok: TAFENPAH.COM ||Instagram: @suni_fredy || ������ ||Email: tafenpahtimor@gmail.com

Posting Komentar untuk "Menjaga Akar Budaya Sabu Raijua di Panggung Nusantara: Kisah Julian Yusmar Dima Huda, Winner Putra Tari NTT 2026"