Kefa Air dan Restu Leluhur Dawan di Bandar Udara Jack Ukat Kefamenanu

Frederikus Suni | TAFENPAH

Menempatkan adat di barisan depan pembangunan adalah bentuk kesadaran bahwa manusia tidak hidup di ruang hampa
Bandar Udara Jack Ukat Kefamenanu. Ilustrasi gambar: Tim Marketing TAFENPAH.COM


TAFENPAH.COM - Di atas hamparan Nu’af atau bukit Sasi yang membentang gagah di Kelurahan Sasi, Kecamatan Kota Kefamenanu, angin bertiup membawa aroma tanah basah dan harapan baru. 

Kawasan Bandar Udara Jack Ukat Kefamenanu tidak sekadar menjadi titik koordinat di peta penerbangan, melainkan menjadi panggung pertemuan antara modernitas pembangunan dan akar tradisi yang kokoh.

Di sini, di tengah desir angin perbatasan, Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) menggelar ritual adat yang khidmat. 


Sebuah langkah sakral yang menjadi pembuka jalan bagi uji coba pendaratan perdana Kefa Air, maskapai yang digadang-gadang akan membelah awan dan menyatukan isolasi yang selama ini membentengi wilayah ini.

Menjaga Filosofi Kota Beradat

Bagi masyarakat di Bumi Biinmaffo, pembangunan bukanlah sekadar memindahkan batu atau mengaspal landasan pacu. Pembangunan adalah perwujudan dari napas budaya. 

Pelaksana Harian (Plh) Sekretaris Daerah Kabupaten TTU, Trinimus Olin, menegaskan bahwa ritual ini bukanlah seremoni kosong. Ia adalah manifestasi dari identitas Kefamenanu sebagai Kota Beradat.

“Yang pertama adalah kita kembali pada filosofi bahwa Kota Kefamenanu adalah Kota Beradat. Kota Beradat tidak sekadar akronim, tetapi mengingatkan kita bahwa nilai-nilai budaya dan nilai-nilai adat harus tetap kita lestarikan,” ujar Trinimus di sela-sela prosesi ritual.

Baginya, menempatkan adat di barisan depan pembangunan adalah bentuk kesadaran bahwa manusia tidak hidup di ruang hampa. 

Keberhasilan sebuah proyek besar seperti operasional bandara harus diselaraskan dengan harmoni antara Tuhan, alam, dan leluhur.

Sinergi dengan Tuhan, Alam, dan Leluhur

Bandar Udara Jack Ukat


Ritual yang dilaksanakan di wilayah adat Bikomi ini melibatkan para tetua adat setempat. Dipimpin oleh Usi Sanak, perangkat adat Bikomi memanjatkan doa-doa dan persembahan, memohon restu agar "tuan tanah" dan para leluhur memberikan jalan lapang bagi pesawat Kefa Air untuk menyentuh landasan dengan aman.

“Makna dari ritual adat ini adalah memohon restu sehingga alam dan para leluhur dapat mendukung seluruh upaya persiapan menjelang hari puncak tersebut,” tambah Trinimus.

Ikhtiar ini merupakan bentuk kerendahan hati pemerintah. 

Di tengah deru mesin dan ambisi kemajuan zaman, masyarakat TTU memilih untuk tetap bersimpuh, mengakui bahwa keberhasilan adalah berkah yang harus dijemput dengan cara-cara yang menghormati warisan nenek moyang. 

Kehadiran para tetua adat Bikomi dalam prosesi ini menjadi bukti bahwa pembangunan di TTU adalah milik bersama; hasil kolaborasi apik antara kebijakan pemerintah dan kearifan masyarakat lokal.

Pintu Gerbang Masa Depan
Bandar Udara Sasi Kefa


Uji coba pendaratan pesawat Kefa Air di Bandar Udara Jack Ukat Sasi bukan sekadar peristiwa teknis penerbangan. Ia adalah simbol bangkitnya konektivitas di wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste. 

Selama ini, tantangan geografis seringkali menjadi penghambat mobilitas warga, distribusi ekonomi, hingga akses pelayanan publik yang prima.

Dengan beroperasinya bandara ini, pemerintah optimis bahwa denyut nadi ekonomi daerah akan berdetak lebih kencang. 

Peluang investasi yang selama ini tertahan oleh sulitnya akses transportasi kini perlahan terbuka. Sektor pariwisata yang kaya akan budaya dan keindahan alam khas Timor pun siap menyambut para pendatang melalui jalur udara.

Harapan yang Mengangkasa


Saat matahari mulai bergeser di ufuk barat Bukit Sasi, doa-doa yang dipanjatkan para tetua adat seolah menjadi "lampu hijau" bagi masa depan TTU. 

Ritual adat ini telah menuntaskan tugas spiritualnya, memberikan rasa aman dan ketenangan batin bagi seluruh pihak yang terlibat.

Kini, mata masyarakat TTU tertuju ke langit. Menanti deru mesin pesawat Kefa Air yang akan memecah kesunyian udara di atas Kefamenanu. 

Sebuah langkah besar telah dimulai dari sebuah bukit, dengan doa yang membumbung tinggi, menyatukan teknologi modern dan restu leluhur demi masa depan Timor Tengah Utara yang lebih maju dan berdaya saing.

Kefamenanu kini tidak lagi sekadar menatap tanahnya sendiri, namun mulai berani menatap langit, menjemput asa, dan terbang melampaui batas.
TAFENPAH.COM
TAFENPAH.COM Salam Literasi. Perkenalkan saya Frederikus Suni. Saya pernah bekerja sebagai Public Relation/PR sekaligus Copywriter di Universitas Dian Nusantara (Undira), Tanjung Duren, Jakarta Barat. Saya juga pernah terlibat dalam proyek pendistribusian berita dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) ke provinsi Nusa Tenggara Timur bersama salah satu Dosen dari Universitas Bina Nusantara/Binus dan Universitas Atma Jaya. Tulisan saya juga sering dipublikasikan ulang di Kompas.com. Saat ini berprofesi sebagai Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Siber Asia (Unsia), selain sebagai Karyawan Swasta di salah satu Sekolah Luar Biasa Jakarta Barat. Untuk kerja sama bisa menghubungi saya melalui Media sosial:YouTube: Perspektif Tafenpah||TikTok: TAFENPAH.COM ||Instagram: @suni_fredy || ������ ||Email: tafenpahtimor@gmail.com

Posting Komentar untuk "Kefa Air dan Restu Leluhur Dawan di Bandar Udara Jack Ukat Kefamenanu"