Menjaga Akar di Era Digital: Refleksi Alfonsius Yanorius Molo untuk Masa Depan NTT

Frederikus Suni | TAFENPAH

Bagi Alfonsius Yanorius Molo, Sastra lokal NTT adalah bukti nyata bahwa modernitas tidak harus memutus hubungan dengan tradisi, keduanya bisa berjalan beriringan


Alfonsius Yanorius Molo, SH (Jurnalis). Tafenpah.com


TAFENPAH.com - Di tengah derasnya arus modernisasi dan pusaran algoritma media sosial, seorang jurnalis muda asal Numponi, Kecamatan Malaka Timur, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur membawa sebuah kegelisahan sekaligus harapan besar. Ia adalah Alfonsius Yanorius Molo, SH. Bagi Alfons, panggilan akrabnya, menjadi modern bukan berarti harus mencerabut diri dari tanah kelahiran.

​Melalui kacamata seorang jurnalis dan putra daerah, Alfons membagikan pandangan mendalamnya tentang sastra, tantangan generasi muda di ruang digital, hingga bagaimana seharusnya NTT melangkah ke masa depan tanpa kehilangan jati diri.

​1. Sastra Lokal NTT: Cermin Peradaban dan Kompas Kehidupan

​Bagi sebagian orang, sastra lokal mungkin terdengar seperti romantisme masa lalu atau sekadar warisan tutur yang usang. Namun bagi Alfons, sastra lokal NTT adalah cermin peradaban yang hidup.

​"Dalam sastra lokal, kita menemukan cara leluhur membaca hidup: bagaimana manusia menghormati alam, menjaga relasi sosial, memaknai penderitaan, dan merawat martabat," ungkapnya penuh penekanan.

​Di era di mana perubahan terjadi dalam hitungan detik, sastra lokal bertindak sebagai jangkar identitas. Alfons percaya bahwa dunia boleh bergerak maju secepat apa pun, namun kemajuan tanpa akar budaya hanya akan membuat sebuah generasi kehilangan arah. 

Sastra lokal adalah bukti nyata bahwa modernitas tidak harus memutus hubungan dengan tradisi, keduanya bisa berjalan beriringan.

​2. Melawan Jebakan Konsumerisme Digital: Saatnya Menjadi Produsen Narasi

​Sebagai seorang jurnalis yang akrab dengan dunia informasi, Alfons menyoroti fenomena anak muda NTT di ruang digital. Potensi mereka luar biasa besar, namun ada sebuah tantangan yang mesti dihadapi: jebakan konsumerisme digital. Banyak anak muda yang baru sebatas menjadi konsumen—menikmati tren, mengikuti arus hura-hura, dan menghabiskan energi pada hal-hal yang cepat viral namun cepat hilang.

​Padahal, NTT adalah lumbung cerita yang tidak akan pernah kering.

​Kekayaan Budaya: Cerita rakyat yang sarat makna, keindahan adat istiadat, keunikan bahasa daerah, hingga musik tradisional.

​Realitas Konten: Kita kerap kali lebih bangga mengulang dan membagikan cerita orang lain, ketimbang menggali dan membanggakan cerita dari tanah sendiri.

​Bagi Alfons, tantangan terbesar generasi hari ini adalah bagaimana mengubah mentalitas dari penonton menjadi pencipta yang berani mengangkat budayanya sendiri sebagai bahan produksi kreatif.

​3. Solusi Taktis: Menjadikan Digital sebagai Alat Pewarisan Budaya

​Untuk keluar dari jebakan tersebut, Alfons menawarkan tiga langkah taktis yang esensial:

Langkah 

1. Literasi Budaya

Aksi Nyata: Penguatan pemahaman sejarah dan nilai lokal pada anak muda.

Tujuan: Memastikan generasi muda tahu "siapa dirinya" sebelum terjun ke ruang digital.

2. Ruang Kreatif

Aksi Nyata: Penyediaan wadah untuk dokumentasi budaya secara modern.

Tujuan: Memproduksi tulisan, video, podcast, hingga film pendek berbasis lokalitas.

3. Peran Media Lokal

Aksi Nyata: Kolaborasi dengan platform alternatif seperti Tafenpah.com.

Tujuan: Menyelamatkan cerita-cerita kecil dari kampung agar tidak tenggelam oleh algoritma raksasa.

"Digital harus dipakai sebagai alat pewarisan budaya, bukan sekadar tempat konsumsi hiburan," tegas pria lulusan sarjana hukum ini.

​4. Pesan untuk Generasi Muda NTT: Modern Boleh, Global Boleh, Akar Harus Tetap Hidup

​Sebagai penutup refleksinya, Alfons menitipkan sebuah pesan bernada motivasi yang mendalam untuk seluruh anak muda NTT, dari kota hingga ke pelosok kampung:

​"Jangan pernah malu menjadi anak daerah."

​Dunia hari ini memang menuntut kita untuk cepat belajar, cepat berubah, dan cepat beradaptasi. Tetapi di tengah semua kecepatan itu, jangan sampai kita kehilangan bahasa ibu, kehilangan cerita kampung, dan kehilangan ingatan tentang leluhur.

​Orang yang tahu dari mana ia berasal akan berdiri lebih kuat dalam menghadapi masa depan. Karakter, keberanian, dan jati diri kita dibentuk dari akar budaya tersebut. 

Pada akhirnya, masa depan NTT tidak hanya dibangun oleh megahnya teknologi atau pembangunan fisik, melainkan oleh generasi muda yang sadar bahwa budaya adalah kekuatan, bukan beban.

​Dari Malaka Timur untuk NTT, Alfonsius Yanorius Molo mengajak kita semua untuk kembali pulang pada narasi-narasi yang memanusiakan manusia.

TAFENPAH.COM
TAFENPAH.COM Salam Literasi. Perkenalkan saya Frederikus Suni. Saya pernah bekerja sebagai Public Relation/PR sekaligus Copywriter di Universitas Dian Nusantara (Undira), Tanjung Duren, Jakarta Barat. Saya juga pernah terlibat dalam proyek pendistribusian berita dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) ke provinsi Nusa Tenggara Timur bersama salah satu Dosen dari Universitas Bina Nusantara/Binus dan Universitas Atma Jaya. Tulisan saya juga sering dipublikasikan ulang di Kompas.com. Saat ini berprofesi sebagai Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Siber Asia (Unsia), selain sebagai Karyawan Swasta di salah satu Sekolah Luar Biasa Jakarta Barat. Untuk kerja sama bisa menghubungi saya melalui Media sosial:YouTube: Perspektif Tafenpah||TikTok: TAFENPAH.COM ||Instagram: @suni_fredy || ������ ||Email: tafenpahtimor@gmail.com

Posting Komentar untuk "Menjaga Akar di Era Digital: Refleksi Alfonsius Yanorius Molo untuk Masa Depan NTT"