Apresiasi Pemprov NTT Terhadap TAFENPAH Sebagai Pusat Pengetahuan Adat Timor Barat

Apresiasi Pemprov NTT Terhadap TAFENPAH Sebagai Pusat Pengetahuan Adat Timor Barat

Frederikus Suni
Mahasiswa Program Studi Komunikasi PJJ, Universitas Siber Asia
Jl. RM Harsono, Ragunan, Jakarta Selatan 12550
Email: travelah2022@gmail.com

TAFENPAH Sebagai Pusat Pengetahuan Adat Timor Barat. Tafenpah.com

Abstrak - Di tengah minimnya atensi media arus utama (mainstream) di Kota Kupang terhadap eksistensi budaya lokal, TAFENPAH hadir sebagai motor penggerak pelestarian adat. 

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur di bawah kepemimpinan Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena secara resmi mengapresiasi www.tafenpah.com sebagai pusat pengetahuan adat Timor Barat. 

Bagi masyarakat Dawan, kebudayaan adalah fondasi etika dan moral. Guna menjembatani kesenjangan publikasi, TAFENPAH selama lima tahun terakhir konsisten mengakselerasi pesan-pesan kebudayaan lokal. 

Upaya ini sekaligus memosisikan TAFENPAH sebagai benteng pertahanan digital dalam memfilter arus informasi global yang mengancam jati diri generasi muda Timor Barat. 

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan subjek penelitian TAFENPAH. 

Adapun hasil penelitian ini menelaah dokumen video ucapan selamat Hari Ulang Tahun ke-5 TAFENPAH dari Gubernur NTT yang telah dipublikasikan melalui kanal YouTube PERSPEKTIF TAFENPAH, Instagram @tafenpah, dan TikTok @tafenpah.com.

Kata Kunci: Tafenpah, Gubernur NTT, Kearifan Lokal, Yellow Journalism, Masyarakat Timor Barat

A. Pendahuluan

Di tengah senjakala kepedulian media arus utama (mainstream) di Kota Kupang terhadap eksistensi budaya lokal, TAFENPAH hadir menembus ruang digital sebagai motor penggerak pelestarian adat. 

Langkah sunyi namun konsisten ini membuahkan hasil. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur secara resmi memberikan apresiasi tinggi kepada www.tafenpah.com sebagai salah satu pusat pengetahuan adat Timor Barat.

Bagi masyarakat Dawan, kebudayaan bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan fondasi etika, moral, dan napas hidup. 

Guna menjembatani jurang publikasi yang kian lebar, TAFENPAH selama lima tahun terakhir konsisten menggaungkan narasi kebudayaan lokal ke ruang publik. 

Upaya luhur ini sekaligus memosisikan TAFENPAH sebagai benteng pertahanan digital dalam memfilter arus globalisasi yang perlahan mengikis jati diri generasi muda di Bumi Lorosae (Timor Barat).

Ancaman degradasi budaya ini kian nyata menerpa berbagai lini kehidupan generasi muda. Salah satu pemicu utamanya adalah kecenderungan media lokal di Kota Kupang yang terjebak dalam pusaran jurnalisme sensasional. 

Ruang publik digital saban hari dijejali berita politik praktis, kriminalitas bombastis, kasus pembunuhan, hingga skandal perselingkuhan. 

Dampaknya fatal: generasi muda Timor Barat kehilangan kompas orientasi nilai. Mereka kian asing dengan tanah ibunya sendiri karena jarangnya pasokan edukasi yang berakar pada nilai-nilai kearifan lokal budaya Timor Dawan. BACA dan DOWNLOAD PDF DI SINI!

B. Landasan Teori dan Pembahasan

1. Yellow Journalism (Jurnalisme Kuning)

Yellow journalism atau jurnalisme kuning merujuk pada gaya pelaporan berita yang sensasional, provokatif, dan kerap melebih-lebihkan fakta demi memikat perhatian publik serta mendongkrak oplah atau klik (clickbait). 

Praktik ini berakar dari kompetisi media di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 di Amerika Serikat, yang dipelopori oleh William Randolph Hearst dan Joseph Pulitzer.

Karakteristik utamanya adalah perpaduan antara fakta dan fiksi, penggunaan judul yang mencolok, serta ilustrasi yang dramatis. 

Seiring berjalannya waktu, jurnalisme kuning bertransformasi ke ranah digital dengan fokus pada komodifikasi skandal, kriminalitas, dan gosip selebritas, yang kerap mengabaikan fungsi edukasi dan tanggung jawab sosial media (EBSCO, 2026).

2. Situs Web (Website)

Dalam ekosistem media modern, website memegang peranan krusial sebagai medium diseminasi informasi tanpa batas. 

Abdullah (dalam Ikhwan, 2022) mendefinisikan website sebagai sekumpulan halaman internet yang tersusun dalam beberapa laman terintegrasi dan menyediakan beragam informasi yang dapat diakses melalui jaringan internet. 

Melalui fleksibilitas inilah, sebuah situs web mampu bertransformasi menjadi perpustakaan digital yang hidup.

3. Tafenpah: Oase di Tengah Gersangnya Informasi Budaya

Menanggapi maraknya praktik jurnalisme kuning di Kota Kupang, TAFENPAH lahir pada 1 April 2021. 

Kehadirannya menjadi wadah penampung kisah-kisah keseharian masyarakat adat Dawan Timor yang diterjemahkan ke dalam publikasi digital.

Lahir sebagai web blog, TAFENPAH sejak awal tidak pernah didesain untuk menyaingi konglomerasi media di Kota Kupang secara finansial maupun struktur organisasi. TAFENPAH lahir dari sebuah keresahan yang mendalam. 

Media arus utama yang sejatinya berfungsi sebagai kompas moral bagi generasi muda, justru terjebak dalam intrik pejabat dan urusan vulgar rumah tangga.

Kondisi tersebut sangat kontradiktif dengan jati diri masyarakat Dawan Timor Barat yang relijius, menjunjung tinggi kekeluargaan, persaudaraan, gotong royong, dan hormat pada leluhur. 

Di tengah situasi ini, generasi muda berada di persimpangan jalan ingin mengkritik tetapi tak punya kuasa (power), hingga akhirnya sebagian memilih bersikap apatis.

Oleh karena itu, TAFENPAH hadir memutus kebuntuan tersebut. Atas dedikasi murni sebagai filter informasi dan pusat pengetahuan budaya Dawan, TAFENPAH akhirnya mendapatkan apresiasi resmi dari Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur pada 12 Maret 2026.

4. Apresiasi Gubernur NTT




Dalam sebuah sambutan hangat yang disiarkan di berbagai platform digital, Penjabat Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, menyampaikan ucapan selamat yang setinggi-tingginya kepada platform literasi www.tafenpah.com yang kini genap berusia lima tahun.

Beliau menegaskan bahwa di tengah derasnya arus modernisasi, menjaga identitas budaya lokal adalah tanggung jawab kolektif.

Pemerintah Provinsi NTT mendukung penuh konsistensi TAFENPAH yang secara konsisten mempromosikan kearifan lokal masyarakat Dawan di Pulau Timor. 

Kebudayaan tidak boleh dipandang sebelah mata sebagai tradisi usang, melainkan sumber pengetahuan dan inspirasi hidup yang harus diwariskan antar-generasi.

Gubernur berharap TAFENPAH terus menjadi jembatan literasi yang memperkenalkan keunikan Timor ke panggung dunia, seraya menutup dengan seruan meluap-luap:
"Maju terus kebudayaan Dawan, Kebudayaan Timor. Ayo bangun Timor, ayo bangun NTT!"

5. Kearifan Lokal Atoin Meto

Secara geopolitik, Pulau Timor memang terbelah menjadi dua wilayah: Timor Barat yang masuk dalam bingkai NKRI, dan Timor Leste yang berdiri sebagai negara berdaulat. 

Kendati dibatasi sekat teritorial, kedua wilayah ini diikat oleh akar kultural yang sama, yakni filosofi Atoin Meto.

Atoin Meto adalah identitas manusia Timor Dawan yang hidup menyatu dengan alam—tanah yang kering, bebatuan karang yang kokoh, pegunungan tinggi, hingga bentang pantai yang eksotis. 

Di balik lanskap alam yang menantang tersebut, tersimpan kekayaan kearifan lokal yang mengajarkan tentang arti persaudaraan, kesetiaan, serta harmonisasi segitiga kehidupan: antara manusia dengan sesama, dengan alam, dan dengan Sang Pencipta.

6. Masyarakat Timor Barat: Komunikasi Lintas Budaya

Kemiripan warna kulit, bahasa, tradisi, dan adat istiadat membuat hubungan persaudaraan masyarakat di perbatasan Timor Barat (Indonesia) dan Timor Leste tetap kokoh mengalahkan sekat-sekat politik. 

TAFENPAH mengambil peran strategis untuk menjembatani ide, gagasan, dan kegelisahan kultural kedua masyarakat serumpun ini.

Ribuan konten digital yang dikurasi rapi di laman www.tafenpah.com kini bertransformasi menjadi sumber kekuatan, inspirasi, sekaligus referensi berharga bagi generasi muda NTT dalam menghadapi tantangan komunikasi lintas budaya abad ke-21.

C. Kesimpulan

Kehadiran platform digital www.tafenpah.com merupakan antitesis sekaligus respons kritis terhadap maraknya praktik yellow journalism di Kota Kupang yang kerap mengabaikan nilai-nilai edukasi budaya. 

Melalui konsistensi selama lima tahun, TAFENPAH berhasil membuktikan bahwa ruang digital dapat dioptimalkan menjadi benteng pertahanan kearifan lokal. 

Apresiasi dari Pemerintah Provinsi NTT menegaskan bahwa merawat identitas kultural Atoin Meto di era globalisasi adalah sebuah urgensi yang tidak bisa ditunda.

Referensi

EBSCO. (2026). Research Starters: Communication and Mass Media - Yellow Journalism. Diambil kembali dari https://www.ebsco.com.
Ikhwan, Muhammad. (2022). Manajemen Media Kontemporer: Mengelola Media Cetak, Penyiaran, dan Digital. Jakarta: Prenadamedia.
Kanal YouTube Perspektif Tafenpah. (2026). Video Sambutan dan Apresiasi Pj. Gubernur NTT pada HUT ke-5 Tafenpah.
Suni, Frederikus. (2026). Wawancara Konfirmasi bersama Gubernur NTT melalui Pesan Aplikasi WhatsApp (12 Maret 2026).
TAFENPAH.COM
TAFENPAH.COM Salam Literasi. Perkenalkan saya Frederikus Suni. Saya pernah bekerja sebagai Public Relation/PR sekaligus Copywriter di Universitas Dian Nusantara (Undira), Tanjung Duren, Jakarta Barat. Saya juga pernah terlibat dalam proyek pendistribusian berita dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) ke provinsi Nusa Tenggara Timur bersama salah satu Dosen dari Universitas Bina Nusantara/Binus dan Universitas Atma Jaya. Tulisan saya juga sering dipublikasikan ulang di Kompas.com. Saat ini berprofesi sebagai Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Siber Asia (Unsia), selain sebagai Karyawan Swasta di salah satu Sekolah Luar Biasa Jakarta Barat. Untuk kerja sama bisa menghubungi saya melalui Media sosial:YouTube: Perspektif Tafenpah||TikTok: TAFENPAH.COM ||Instagram: @suni_fredy || ������ ||Email: tafenpahtimor@gmail.com

Posting Komentar untuk "Apresiasi Pemprov NTT Terhadap TAFENPAH Sebagai Pusat Pengetahuan Adat Timor Barat"