Lahir dari Rasa Sakit: Perjalanan Grandprix Kadja Menjadi Ilmuwan Muda Kebanggaan NTT
Frederikus Suni | TAFENPAH
Ilmuwan muda NTT, Grandprix, menjadi unggul bukan berarti harus selalu menjadi orang paling pintar di dalam ruangan. Terkadang, keunggulan hanyalah tentang "bertahan di dalam ruangan tersebut cukup lama demi untuk bertumbuh dan menjadi lebih baik.
![]() |
| Kisah Ilmuwan muda Top Indonesia asal desa Tarus Kupang, Timor Barat. Foto: Kompas/Tafenpah.com |
JAKARTA, TAFENPAH.COM - Seringkali kita melihat keberhasilan seseorang hanya dari muara akhirnya saja. Kita mengagumi kilau toga, predikat Cumlaude, atau panggung kehormatan tempat mereka berdiri.
Namun, jarang ada yang mau menelisik jauh ke belakang ke masa-masa di mana air mata, rasa rendah diri, dan malam-malam tanpa tidur menjadi saksi bisnis sebuah perjuangan.
Inilah esensi mendalam dari sebuah potongan pidato inspiratif dalam acara TEDxUI yang belakangan ini menyita perhatian publik.
Grandprix T M Kadja, seorang pemuda asal Nusa Tenggara Timur (NTT), membagikan lembaran kisah hidupnya yang tidak instan, sebuah manifesto nyata bahwa "Resilience is born in pain, not in comfort" (Ketangguhan itu lahir dari rasa sakit, bukan dari kenyamanan).
Mimpi yang Terasa Nyata di Usia 16 Tahun
Bagi seorang anak daerah dari belahan timur Indonesia, menembus dinding salah satu kampus paling bergengsi di tanah air, Universitas Indonesia (UI), adalah sebuah keajaiban yang mendekati tidak nyata.
"Datang dari Nusa Tenggara Timur, momen itu terasa tidak nyata bagi saya. Bagaimana bisa?" kenang Grandprix T M Kadja dengan nada emosional saat berdiri di atas panggung penonton.
Ia menginjakkan kaki di pelataran UI dalam usia yang tergolong sangat muda, 16 tahun. Sebuah usia di mana remaja lain mungkin masih asyik bermain, Grandprix sudah harus memikul ransel idealisme dan merantau ribuan kilometer demi mengejar ketertarikan mendalamnya pada ilmu Kimia.
Terasing dan Tertinggal di Semester Pertama
Namun, romansa menembus kampus impian segera luruh ketika realita perkuliahan dimulai. Memasuki semester pertama, Grandprix langsung dihantam badai kultural dan akademik yang hebat.
Berada di dalam ruang kelas bersama anak-anak paling cerdas dari seluruh penjuru negeri membuatnya merasa "kecil".
"Saya merasa benar-benar kalah saing di semester pertama. Saya ingat betul, duduk di dalam forum diskusi, mendengarkan teman-teman sekelas beradu argumen dengan penuh percaya diri dan kecepatan berpikir yang luar biasa," ungkap Grandprix jujur.
Saat itulah, ego dan rasa percaya dirinya runtuh. Pemuda yang di daerah asalnya selalu menjadi yang terbaik di bidang kimia ini, menyadari satu kenyataan pahit: di ruangan ini, ia bukan lagi yang terbaik. Bahkan, mendekati pun tidak.
Bagi siapa saja yang membangun kepercayaan diri dari prestasi masa lalu, tamparan realita ini tentu sangat menyakitkan.
Membangun Kembali dari Reruntuhan
Pilihan bagi anak muda saat berada di titik nadir seperti itu hanya ada dua: mengepak koper lalu pulang membawa kekalahan, atau bertahan dan merangkak naik. Grandprix T M Kadja memilih jalan yang kedua.
Ia mulai membangun kembali rasa percaya dirinya yang hancur, tahap demi tahap. Ia membuang jauh-jauh rasa gengsi.
Ia mulai mengajukan lebih banyak pertanyaan, belajar lebih keras, dan menanamkan sebuah prinsip keras di dalam kepalanya.
"Confidence is not something that you inherit. It’s something that you should build and rebuild, again and again."
(Kepercayaan diri bukanlah sesuatu yang kau warisi. Itu adalah sesuatu yang harus kau bangun dan bangun kembali, lagi dan lagi).
Ia juga menambahkan sebuah refleksi mendalam mengenai arti keunggulan (excellence).
Menurut Grandprix, menjadi unggul bukan berarti harus selalu menjadi orang paling pintar di dalam ruangan. Terkadang, keunggulan hanyalah tentang "bertahan di dalam ruangan tersebut cukup lama demi untuk bertumbuh dan menjadi lebih baik."
Menjemput Predikat Terbaik di Usia 19 Tahun
Perjuangan itu mewujud dalam aksi nyata yang melelahkan. Grandprix memaksa matanya tetap terbuka di malam-malam yang panjang, mengulang kembali soal-soal kimia yang rumit, dan membolak-balik buku teks kimia yang tebal hingga lembar demi lembar materi tersebut akhirnya masuk akal di otaknya.
Ia memegang teguh keyakinan bahwa di mana pun ia berpijak, ia harus mendapatkan tempatnya lewat pembuktian kapasitas diri, bukan lewat belas kasihan atau alasan (excuses).
Bagi dia, alasan hanyalah milik orang-orang bermental semenjana (mediocres), dan ia menolak menjadi salah satu dari mereka.
Kerja keras tidak pernah mengkhianati hasil.
Disiplin dan repetisi yang ia lakukan berbuah manis. Konsep-konsep sains yang tadinya terdengar seperti bahasa asing, kini menjadi bahasa sehari-hari yang ia kuasai dengan fasih.
Di akhir masa studinya, Grandprix tidak hanya sekadar "bertahan" di Universitas Indonesia. Ia berhasil berkembang dengan luar biasa (thrive).
Pada Februari 2013, di usianya yang baru menginjak 19 tahun, pemuda tangguh dari NTT ini resmi diwisuda dengan predikat Cumlaude dan meraih IPK tertinggi di Departemen Kimia Universitas Indonesia.
Sebuah tempat yang dulunya ia takuti akan menghancurkan mentalnya, justru menjadi tempat yang melambungkan namanya sebagai lulusan terbaik hingga mengantarkannya menjadi seorang akademisi andal dan ilmuwan dunia.
Pesan untuk Generasi Muda
Kisah ilmuwan Grandprix T M Kadja menjadi refleksi mendalam bagi kita semua, khususnya pembaca setia Tafenpah.com. Di era yang serba instan ini, banyak dari kita yang takut akan proses yang menyakitkan. Kita menginginkan kesuksesan, namun enggan melewati malam-malam sepi penuh perjuangan.
Dari panggung TEDxUI, Grandprix telah mengetuk kesadaran kita: Jangan pernah takut pada rasa sakit dan ketertinggalan dalam proses belajar.
Jadikan rasa sakit itu sebagai rahim yang melahirkan ketangguhan (resiliensi). Karena pada akhirnya, kita menjadi kuat bukan karena beban hidup yang meringan, melainkan karena punggung kita yang semakin kokoh untuk menopangnya.
Kini, ia tidak hanya dikenal sebagai lulusan termuda, melainkan diakui sebagai salah satu World's Top 2% Scientist dan penerima Penghargaan Achmad Bakrie XX 2024 bagi kemajuan keilmuan Indonesia.
Kisah hidupnya membuktikan bahwa rasa sakit masa lalu, jika dikelola dengan ketekunan, akan melahirkan resiliensi sejati. (Tafenpah.com)

Posting Komentar untuk "Lahir dari Rasa Sakit: Perjalanan Grandprix Kadja Menjadi Ilmuwan Muda Kebanggaan NTT"
Posting Komentar
Diperbolehkan untuk mengutip sebagian materi dari TAFENPAH tidak lebih dari 30%. Terima kasih