Alasan Filosofis: Kenapa Kita Merasa Sendirian di Tengah Malam?

Penulis : Frederikus Suni | TAFENPAH.com

Alasan Filosofis: Kenapa Kita Merasa Sendirian di Tengah Malam? Foto: Freepik


TAFENPAH.com - Kesendirian sejatinya bukanlah sesuatu yang perlu kita takuti. Sebab pada hakikatnya, kita adalah pribadi yang berjalan sendirian, sistem sosial dan konstruksi budayalah yang kemudian datang untuk menyatukan kita.

Ketika malam mencapai puncaknya dan dunia luar mulai senyap, sistem sosial itu lumpuh sejenak. 

Aktivitas berhenti, gawai meredup, dan interaksi membeku. Di saat itulah, dalam keheningan malam yang pekat, kita kerap dihadapkan pada pertanyaan reflektif yang mengusik batin: "Mengapa hidupku hanya begini-begini saja?" 

Sebuah pertanyaan sederhana, namun mendasar, yang sekaligus menjadi pemantik api filosofis dalam diri manusia.

Filsafat selalu bergerak untuk mencari jawaban atas keresahan eksistensial semacam ini. 

Kendati demikian, filsafat tidak pernah hadir untuk memberikan satu jawaban yang mutlak, kaku, dan akurat. Ia tidak datang untuk mendikte. 

Sebab pada akhirnya, dalam kesunyian tengah malam itu, setiap orang memiliki jawaban dan jalan sunyinya masing-masing.

Dilema Tengah Malam dan Absennya Konstruksi Sosial

Dalam kesunyian di tengah malam, tidak jarang kita terjebak dalam dilema. Ketika dunia menjadi begitu sepi, pikiran kita justru menjadi sangat bising. Dalam kondisi tersebut, kecenderungan terbesar kita adalah menghakimi dan menyalahkan diri sendiri atas segala kegagalan.

Padahal, jika kita mau mengubah sudut pandang, kesendirian di tengah malam adalah ruang altar terbaik untuk kembali meninjau (review) apa saja yang sudah kita lakukan sepanjang hari. 

Momen ini adalah jeda yang intim, sebuah kesempatan untuk beristirahat sejenak dari hiruk-pikuk dunia luar, terlebih dari sistem sosial dan konstruksi budaya yang sepanjang siang kerap memaksa kita untuk terus bersosialisasi dan memakai "topeng-topeng" formalitas.

Ketika kita berbicara tentang kesendirian yang menggetarkan ini, mau tidak mau kita akan berhadapan dengan pemikiran filosofis dari para pemikir eksistensial. 

Salah satunya adalah Martin Heidegger. Filsuf asal Jerman ini sangat terkenal dengan terminologinya yang bernada satirisme sosial, sebuah konsep yang ia sebut sebagai: Keterlemparan (Geworfenheit).

Memaknai 'Keterlemparan' dari Malang hingga Kamar Tengah Malam

Ingatan saya terbang kembali ke masa-masa kuliah di semester dua, saat saya menimba ilmu di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Widya Sasana Malang, Jawa Timur. 

Saya masih ingat dengan jelas apa yang disampaikan oleh mantan dosen filsafat saya yang kini mengemban tugas pastoral sebagai Uskup Sanggau, Kalimantan Barat yakni Mgr. Valentinus Saeng, C.P.

Beliau pernah mengatakan bahwa pada hakikat atau dasarnya, ketika kita lahir, di situlah kita "terlempar" ke dunia ini tanpa siapa-siapa. 

Orang tua hanyalah perantara biologis dan historis. Namun secara esensi, kita adalah makhluk yang sendirian, baik secara eksistensial, spiritual, maupun filosofis.
Tentu saja, refleksi mendalam dari Mgr. Valentinus Saeng ini merupakan jembatan kontekstual dari ajaran Martin Heidegger tentang keterlemparan tadi. 

Heidegger menegaskan bahwa manusia dilempar ke dunia dalam kondisi sendirian. 

Maka, kesepian yang menyergap kita di tengah malam sebenarnya adalah momen sakral. Itulah momen ketika kita dipaksa sadar akan keberadaan diri kita sendiri secara utuh dan otentik, yang dalam istilah Heidegger disebut sebagai Dasein (berada-di-sana).

Di sisi lain, Jean-Paul Sartre, tokoh eksistensialisme Prancis, menawarkan pandangan yang sejalan namun memberikan sentuhan kebebasan. Sartre menyebut bahwa "manusia dihukum untuk bebas." 

Bebas dalam artian kita sendirilah yang memegang kendali penuh untuk menentukan makna hidup kita. 

Ketika sistem sosial tidak lagi mendikte kita di tengah malam, kita bebas merumuskan siapa diri kita sebenarnya.

Menelusuri Lorong Sunyi Bersama Friedrich Nietzsche

Provokasi pikiran dari Heidegger dan Sartre ini menemukan bentuknya yang paling radikal ketika kita mempertemukannya dengan pemikiran sang filsuf kontroversial, Friedrich Nietzsche. 

Dalam sejarah pemikiran Barat dan Teologi Kristen, Nietzsche barangkali paling diingat lewat maklumatnya yang menghentak: "Tuhan sudah mati!"

Tentu, dalam tulisan ini saya tidak sedang ingin berdebat atau membahas persoalan teologis tersebut. Kutipan itu hanyalah sebatas pelengkap perspektif bagi Anda, para pembaca setia Tafenpah, untuk melihat bagaimana radikalnya manusia ketika dilepaskan dari segala sandarannya.

Dalam bukunya yang bertajuk "Manusia yang Asyik dengan Dirinya", Nietzsche seolah melempar pertanyaan fundamental: Apa jadinya ketika manusia benar-benar berdiri sendiri? Tanpa institusi agama yang memayungi, tanpa pelukan hangat budaya, dan tanpa sandaran dari masyarakat?

Melalui konsep tersebut, kita diajak untuk masuk ke dalam wilayah sunyi eksistensi. Sebuah fase di mana individu tidak lagi disokong oleh struktur luar, melainkan harus bertarung sendirian dengan keheningan batin, kehampaan tujuan, dan sebuah kebebasan yang di saat bersamaan terasa sangat menakutkan.

Buku ini bukan hanya bicara tentang kesendirian dalam arti fisik atau isolasi sosial, melainkan sebuah kesendirian filosofis, spiritual, dan eksistensial. 

Nietzsche mengupas lapis-lapis diri manusia ketika semua identitas sosial ditanggalkan: Siapakah kita ketika kita tidak lagi menjadi seorang anak, seorang pasangan, seorang pekerja, atau seorang warga negara? Apa yang tersisa dari diri kita ketika nama, jabatan, dan peran sudah tidak lagi relevan? Apakah mungkin membangun makna dan nilai hidup yang murni hanya dari dalam diri sendiri?

Buku "Manusia yang Asyik dengan Dirinya" ini menjadi sangat relevan bagi kita yang selama ini keliru memandang kesendirian sebagai sebuah beban sosial atau aib moral. 

Gagasan ini bisa kita gunakan sebagai lentera untuk menelusuri lorong-lorong pikiran kita yang sering kali bias. Terutama di tengah malam, saat sistem sosial dan konstruksi budaya benar-benar absen atau hilang sesaat dari diri kita yang otentik.

Kesendirian: Sebuah Pilihan Eksistensial

Menurut hemat saya, alasan filosofis mengapa kita selalu merasa sendirian di tengah malam bukanlah sesuatu yang harus bertransformasi menjadi beban moril. Sebab, hidup pada akhirnya adalah tentang pilihan.

Di titik ini, Nietzsche tidak sedang mengajak kita mengurung diri secara fisik. Ia sedang menuntun kita masuk ke dalam kesendirian eksistensial, spiritual, dan filosofis. 

Jika kita ingin belajar tentang bagaimana mengelola kesendirian secara fisik, mungkin kita bisa mencari pengetahuan dan menimba pengalaman dari para Seminaris, Biarawan/Biarawati Katolik, atau para petapa dan tokoh agama lainnya yang memilih jalan asketis (menjauh dari dunia). 

Mereka adalah contoh nyata bagaimana kesendirian fisik diubah menjadi ruang perjumpaan yang kudus.

Manusia telah terlempar dari dirinya sendiri sejak ia keluar dari rahim kandungan. 

Melalui pemikiran para filsuf ini, kita diprovokasi untuk tidak lagi ramah terhadap rasa takut saat malam mulai sepi.

Kesendirian di tengah malam bukan pula sebuah hukuman sosial. Justru dalam kesendirian yang absolut itulah, ketika ego duniawi kita meluruh, kita sering kali menemukan percikan cahaya otentik tentang untuk apa kita hidup, untuk apa kita berjuang, dan ke mana kita akan melangkah esok hari.

Mungkin itulah refleksi kecil yang dapat saya bagikan pada edisi kali ini. Tengah malam akan selalu datang, dan kesunyian akan selalu mengetuk pintu batin kita.

Sekarang kembali kepada Anda: Menurut sudut pandang dan perenungan Anda pribadi, makna lain dari kesendirian versi Anda itu seperti apa? Mari berbagi di kolom komentar.

Sumber : Pengalaman Pribadi | Analisis | berdikaribook


TAFENPAH.COM
TAFENPAH.COM Salam Literasi. Perkenalkan saya Frederikus Suni. Saya pernah bekerja sebagai Public Relation/PR sekaligus Copywriter di Universitas Dian Nusantara (Undira), Tanjung Duren, Jakarta Barat. Saya juga pernah terlibat dalam proyek pendistribusian berita dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) ke provinsi Nusa Tenggara Timur bersama salah satu Dosen dari Universitas Bina Nusantara/Binus dan Universitas Atma Jaya. Tulisan saya juga sering dipublikasikan ulang di Kompas.com. Saat ini berprofesi sebagai Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Siber Asia (Unsia), selain sebagai Karyawan Swasta di salah satu Sekolah Luar Biasa Jakarta Barat. Untuk kerja sama bisa menghubungi saya melalui Media sosial:YouTube: Perspektif Tafenpah||TikTok: TAFENPAH.COM ||Instagram: @suni_fredy || ������ ||Email: tafenpahtimor@gmail.com

Posting Komentar untuk "Alasan Filosofis: Kenapa Kita Merasa Sendirian di Tengah Malam?"