Peran Perempuan dalam Membangun Timor Barat, Aurum Obe Titu Eki dan Serena Cosgrova Francis

Penulis : Frederikus Suni

Aurum Obe Titu Eki dan Serena Cosgrova Francis. Digital Imaging; Frederikus Suni/TAFENPAH.com dan ANALKOMPOP.com


TAFENPAH.com - Peran, partisipasi, keikutsertaan, keterlibatan, kontribusi perempuan di Timor Barat, dalam membangun provinsi Nusa Tenggara Timur di berbagai bidang terus meningkat, seiring dengan tingkat kepercayaan masyarakat.

Masyarakat Timor Barat, khususnya kota Kupang (Ibukota) provinsi NTT, sejak zaman dahulu sudah ada peran aktif perempuan dalam membangun daerah.

Kendati pun demikian, jika saya melihat dari sudut pandang (perspektif) kebudayaan Atoin Meto (Suku Dawan Timor),  mayoritas laki-laki hingga saat ini, masih menguasai kepemimpinan di ruang publik.

Memang bukan menjadi rahasia lagi, bahwasannya konsep, paham, filosofi, gaya kepemimpinan Maskulin (Paternialisme) dalam konteks kebudayaan, sosial, dan politik masyarakat Indonesia, khususnya di kawasan Timor Barat (Kupang), provinsi Nusa Tenggara Timur berakar kuat dan tidak tergantikan peran kepemimpinannya.

Sementara, paham Maternialisme (Feminisme) dalam tanda kutip, kehadiran perempuan identik sebagai kelompok lemah dan mereka perlu dilindungi, kerap kali teralienasi/terasing/tersisihkan dari figur/sosok kepemimpinan di ruang publik.

Ibaratnya, sesuai pemahaman saya, sosok perempun kurang lebih seperti seorang 'backing vocal' (suara tambahan) yang selalu mendukung penyanyi utama.

Meskipun begitu, kerja sama antara seorang laki-laki dan perempuan sangat dibutuhkan dan memiliki kedudukan penting dalam kondisi apa pun.

Karena pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosial. Makhluk yang melakukan segala sesuatu secara bersama.

Kebersamaan itulah yang terjawantahkan/terwujud/terealisasi dari kolaborasi kepemimpinan Kabupaten Kupang dan Wali Kota Kupang, provinsi Nusa Tenggara Timur


Pemerintah Kabupaten Kupang, Wali Kota Kupang sebagai Model Kepemimpinan Kolaborasi antara Sosok Laki-Laki dan Perempuan




Masyarakat Timor Barat Indonesia, khususnya di Kupang, provinsi Nusa Tenggara Timur per 20 Februari 2025 lalu, mulai merasakan fase kolaborasi kepemimpinan antara sosok laki-laki dan perempuan.

Figur atau sosok perempuan diwakili oleh Aurum Obe Titu Eki sebagai Wakil Bupati kabupten Kupang.

Aurum Titu Eki berpasangan dengan Yosef Lede selaku Bupati Kupang.

Mereka resmi dilantik oleh presiden Prabowo Subianto pada tanggal 20 Februari 2025 di Jakarta.

Informasi atau kabar baik ini pun tidak berhenti di kehadiran Wakil Bupati Kupang.

Karena pada saat yang bersamaan, Serena Cosgrova Francis (Wakil Wali Kota Kupang) mendampingi Christian Widodo (Wali Kota Kupang) go publik sebagai sosok pemimpin kolaboratif, setelah keduanya memenangkan pemilu 2024 lalu.

Berdasarkan data di atas, saya memberikan pandangan (perspektif) bahwasannya, kota Kupang memang layak menjadi role model (panutan, contoh) kepemimpinan humanis.

Humanisme merupakan salah satu kajian atau aliran dari Filsafat yang menekankan pada 4 poin utama, yakni; 

1. Nilai Kemanusiaan

2. Rasionalitas

3. Empati

4. Kebebasan Individu


Nilai Utama Apa Saja yang Tampak dalam Gaya Kepemimpinan Kolaboratif antara Kedua Perempuan Hebat Kota Kupang?

Aurum Obe Titu Eki (Wakil Bupati Kupang). Tafenpah.com

Yang pasti, masyarakat di kota Kupang sangat bangga, karena kehadiran perempuan di ruang publik mendapatkan tempat yang setara/sama dengan laki-laki.

Aspek kemanusiaan tersebut, tampak dalam diri Aurum Obe Titu Eki (Wakil Bupati Kupang) dan Serena Cosgrova Francis (Wakil Wali Kota Kupang).

Sejauh ini, keduanya telah mengangkat status, martabat, kedudukan, jati diri perempuan sebagai sosok penyeimbang laki-laki dalam menjalankan roda pemerintahan.

Rasionalitas

Salah satu nilai humanisme yang ditonjolkan oleh Aurum Obe Titu Eki dan Serena Cosgrova Francis adalah bagaimana mereka menggunakan akal dan rasio dalam menakhodai roda pemerintahan kota Kupang.

Kehadiran kedua sosok feminis di ruang politik kota Kupang, juga secara simbolik menggambarkan, adanya ruang kreativitas dalam berpikir, berjejaringan, bekerja sama guna menciptakan lingkungan sosial yang ramah terhadap setiap orang.

Di samping, Aurum dan Serena juga memiliki kapasitas/kemampuan dalam setiap pengambilan keputusan di ruang publik.

Empati

Serena Cosgrova Francis (Wakil Wali Kota Kupang). Tafenpah.com



Pada aspek empati, sosok Wakil Bupati Kupang (Aurum Obe Titu Eki) dan Wakil Wali Kota Kupang (Serena Cosgrova Francis) benar-benar menonjolkan sisi keibuan dalam memimpin ruang publik.

Artinya: seiring dengan tingkat superioritas kaum laki-laki dalam memimpin ruang publik yang cenderung mengandalkan model kepemimpinan otoriter serta penuh kontrol sosial, sosok Aurum dan Serena menjadi penengah.

Penengah dalam artian, Aurum dan Serena berupaya untuk memimpin masyarakat kota Kupang dengan penuh cinta dan kasih.

Dampaknya, tingkat kepuasan masyarakat kota Kupang terhadap kepemimpinan pasangan Bupati, Wakil Bupati, Wali Kota, dan Wakil Wali Kota Kupang periode 2025-2030 mendatang sangat tinggi.

Tingginya kepercayaan publik terhadap kinerja Yosef Lede (Bupati Kupang) dan Christian Widodo (Wali Kota Kupang) juga atas peran keibuan Aurum Obe Titu Eki dan Serena Cosgrova Francis.

Sementara, ketika saya melihat dari sudut pandang kebudayaan Suku Dawan Timor (Atoin Meto), sosok Aurum Obe Titu Eki dan Serena Cosgrova Francis seperti bumi.

Bumi atau alam dalam keyakinan adat Atoin Meto (Suku Dawan Timur) adalah tempat yang selalu memberikan keteduhan, keberkahan, kebijaksaan, kasih sayang, dan menjadi laboratorium kehidupan setiap makhluk hidup.

Untuk itu, Suku Dawan Timor percaya akan keselarasan hidup, antara manusia dan alamnya.

Sebagai figur publik yang berasal dari rahim Timor Barat provinsi Nusa Tenggara Timur, Aurum Obe Titu Eki dan Serena Cosgrova Francis juga selalu menyelipkan nilai kearifan lokal budaya Atoin Meto dalam setiap pengambilan kebijakan dll.

Kebebasan Individu

Apabila saya melihat kembali ke belakang (flasback) terhadap konsep berpikir masyarakat klasik Indonesia, khususnya paham Paternialisme suku Dawan Timor, di sana saya akan menemukan berbagai kejanggalan.

Kejanggalan tersebut, saya akan meramunya dalam berbagai pertanyaan dasar, seperti berikut ini ;

Mayoritas penduduk Timor Barat Indonesia menganut kepercayaan Katolik dan Kristen, akan tetapi mengapa perempuan selalu identik dengan posisi kedua dalam sistem kasta atau kebudayaan?

Apakah perempuan tidak layak untuk memimpin ruang publik?

Di manakah letak kelebihan laki-laki dalam memimpin ruang publik?

Padahal secara rasio atau akal sehat, entah itu dia perempuan atau laki-laki pada dasarnya memiliki kapasitas dalam berpikir, bertindak, mengambil keputusan, memecahkan masalah, bekerja sama, dsb.

Namun, pemikiran saya di atas dalam bayangan atau imajinasi terdengar indah, layaknya kisah percintaan di dunia perkontenan. 

Tapi dalam realitas, terutama kebudayaan suku Dawan Timor yang menempatkan laki-laki sebagai pemimpin tunggal, absolut, dan lebih superior dalam memimpin ruang publik, ketimbang perempuan sudah lama berakar dalam diri setiap masyarakat di kawasan perbatasan Indonesia dan Timor Leste.

Untuk itu, dengan adanya Aurum Obe Titu Eki dan Serena Cosgrova Francis di ruang publik, khususnya bidang politik dan pemerintahan, perlahan tapi pasti, pandanga hidup paternialisme dalam suku Dawan Timor berubah.

Perubahaan itulah yang sedang dihayati, dialami, dan dirasakan oleh seluruh masyarakat di kota Kupang dan sekitarnya.

Karena Aurum Obe Titu Eki dan Serena Cosgrova Francis telah membuktikan bahwasannya perempuan juga memiliki kapasitas dalam memimpin ruang publik.

Kini, ruang publik di kota Kupang semakin terbuka, berpihak pada perempuan dan hampir setiap lini kehidupan, peran perempuan Timor Barat sangat dibutuhkan.

Bandingkan data terbaru tahun lalu yang mengatakan bahwasannya mayoritas pekerja dengan penghasilan menegah ke atas di pulau Timor dan umumnya NTT, kini dikuasai perempuan.

Untuk itu, di kota Kupang saat ini tidak ada ruang diskriminasi terhadap perempuan dalam berkarya, berekspresi, guna membangun NTT menunu kejayaannya.

Sumber ; Analisis TAFENPAH dan ANALKOMPOP.com

Penulis : Frederikus Suni 
Instagram ; @suni_fredy
Instagram Tafenpah ; @tafenpahtimor dan @analkompop
Youtube ; PERSPEKTIF TAFENPAH
Tiktok  ; @tafenpah.com

Kerja sama publikasi silakan hubungin admin TAFENPAH melalui kontak WhatsApp ; 082140319973






TAFENPAH.COM
TAFENPAH.COM Salam Literasi. Perkenalkan saya Frederikus Suni. Saya pernah bekerja sebagai Public Relation/PR sekaligus Copywriter di Universitas Dian Nusantara (Undira), Tanjung Duren, Jakarta Barat. Saya juga pernah terlibat dalam proyek pendistribusian berita dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) ke provinsi Nusa Tenggara Timur bersama salah satu Dosen dari Universitas Bina Nusantara/Binus dan Universitas Atma Jaya. Tulisan saya juga sering dipublikasikan ulang di Kompas.com. Saat ini berprofesi sebagai Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Siber Asia (Unsia), selain sebagai Karyawan Swasta di salah satu Sekolah Luar Biasa Jakarta Barat. Untuk kerja sama bisa menghubungi saya melalui Media sosial:YouTube: Perspektif Tafenpah||TikTok: TAFENPAH.COM ||Instagram: @suni_fredy || ������ ||Email: tafenpahtimor@gmail.com

Posting Komentar untuk "Peran Perempuan dalam Membangun Timor Barat, Aurum Obe Titu Eki dan Serena Cosgrova Francis "