Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pendidikan Sebagai Proses Menjadi

Ilustrasi Pendidikan sebagai proses menjadi. Republika.co.id

Dunia, seperti yang dikemukakan oleh Teilhard de Chardin, dalam Leahy, adalah dunia yang terus ada dalam proses “menjadi” (Chardin, 1993:276). Artinya, bahwa adanya alam semesta ini bukan seketika. Sebagai bagian dari dunia, manusiapun mengalami keadaan bertumbuh atau berkembang menurut teori evolusi Darwin. 


Proses pertumbuhan dan perkembangan manusia dari dalam kandungan ibu hingga manusia senja adalah bukti yang tak terbantahkan dari adanya proses ‘menjadi. Namun, jika dirunut kembali ke belakang, manusia awalnya hanya sebatas sel tunggal saja yang belum terbentuk. Akan tetapi, karena semuanya terus menjadi, maka jadilah manusia seperti kita sekarang ini. 


Proses ‘menjadi’ yang berkelanjutan setiap saat ini seyogyanya senada dengan konsep Nietzsche, tentang ubermensch atau manusia unggul. Bagi Nietzsche tidak ada konsep finalitas dalam diri manusia. Sebab manusia adalah makhluk transenden, yang melampaui situasi keterberiaannya sejak diciptakan. Singkat kata, manusia itu bersifat dinamis bukan statis.


Seruan untuk melampaui keberadaan kita sebagai manusia adalah wajar dan urgent sebab banyak pemikir yang melihat manusia tak lebih dari sekadar binatang. Sehingga di kemudian hari sederetan ‘manusia-manusia lain’ bermunculan. Manusia-manusia lain ini kemudian dikenal dengan sebutan; manusia serigala, manusia harimau, atau bahkan manusia super versi Nietzsche tadi. 


Pendefenisian-pendefenisian seperti ini bila diperhatikan secara kritis, maka kita akan tiba pada kesadaran bahwa memang manusia tidak lain adalah mirip/sama dengan makhluk-makhluk ciptaan lainnya terutama binatang. Akan tetapi, manusia diberi privelese oleh Sang Pencipta sebagai ciptaan unggul atau dalam tafsiran Aristoteles disebut sebagai animal rational, binatang yang berakal budi. Akal budi di sini menjadi pembeda yang mutlak antara manusia dan binatang. 


Meski demikian, sifat atau karakter kebinatangan acap kali masih melekat kuat dalam diri manusia. Hal inilah yang menurut Hadiwijono seperti dikutip Nanuru dalam tafsirannya atas konsep manusiasuper karya Nietzsche disebutkan bahwa manusia hanyalah semacam tali, yangmenghubungkan binatang dan manusia unggul. (Nanuru: hal.5).


Melihat fenomena ini, pendidikan hadir sebagai ‘tali’ yang bukan sekadar menjembatani binatang dan manusia tetapi sekaligus menegasi profil keduanya. Pendidikan tidak lain adalah seperti yang dikemukakan oleh Heidegger dalam Paideia karya Setya Wibowo (2017:13), sebagai proses pembalikan seluruh diri manusia. ‘Proses pembalikan atau proses menjadi’ ini dimulai dari kondisi tak terdidik menjadi terdidik. Dari tak beradab menjadi beradab, manusia kalos kagathos (elok dan baik).


Hukum atau proses menjadipun berlaku bagi mahasiswa. Artinya, menjadi sekadar mahasiswa bukan tujuan hidup seorang mahasiswa. Mahasiswa harus melampaui profil kemahasiswaanya agar iapun mencapai apa yang diidealkan oleh Nietzsche, menjadi manusia unggul.



Menjadi mahasiswa super hero bukan sesuatu yang abstrak atau eksklusif milik Nietzsche. Melainkan juga menjadi idealis pendidikan bangsa Indonesia. Bahkan dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 2 telah dirumuskandengan sangat jelas bahwa, pendidikan nasional bangsa Indonesia adalah pendidikan yangberdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 mengarah pada tiga nilai yakni; Agama, kebudayaan nasional Indonesia dan adaptasi terhadap perubahan zaman.


Di sini tampak jelas pula bahwa selain UUD tahun 1945, Pancasila juga menjadi tolok ukur sistem pendidikan bangsa dan negara. Karena itu, setiap mahasiswa Indonesia yang hendak menanggapi seruan ‘menjadi’-nya Nietzsche harus menjadi mahasiswa yang Pancasilais. 


Menjadi mahasiswa pancasilais berarti, sungguh-sungguh berakar pada Pancasila dan pada saat yang sama menghasilkan buah atau nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dengan balutan persaudaraan Bhineka Tunggal Ika.


Penulis, Oktofianus Oki
Mahasiswa Filsafat Unwira Kupang


Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta

Posting Komentar untuk "Pendidikan Sebagai Proses Menjadi"