Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Cinta Segitiga

Yukepo.com


Malamku terasa melambat. Mata sulit terpejam. Suara hujan membuat suasana semakin sunyi dan dingin. Jam di dinding sudah berputar di angka satu. Kubuka novel yang kubeli tadi siang. Cerita romantisme penuh misteri sungguh sangat cocok dengan suasana hujan. 


".....kusandarkan kepalaku di bahunya yang bidang. Tercium bau wangi tubuhnya. Ku tak mau dia pergi. Tapi tugas negara harus dilaksanakan. Terbayang kesunyianku selama bertahun-tahun sendiri...."

Tiba-tiba terdengar sesuatu di luar. Kututup novelku. Seperti seseorang yang berjalan dengan tongkat. Hadduuhh...siapa itu yahh...oh Tuhan lindungi aku. Jantungku berdebar-debar. Spontan kuambil hp yang tadi baru aku charge. Kuhubungi temanku. Haduhh ngg diangkat lagi. Pasti sudah tidur lelap dia. Ini sudah jam 3 pagi. Semoga aman dehh. Tidur aja ahh, batinku.


Paginya....

"Thok..thok..thok!! Rin...!!"

"Ririn !!!" 

Tuh anak pasti masih tidur nih, batin Rino. Dia berputar menuju ke jendela di mana Ririn tidur.

"Rin...!! Thok..thok..thok...!"

Demi mendengar namanya dipanggil seseorang, Ririn bangun dan masih setengah sadar dia buka mata. Segera dia melangkah ke ruang tamu dan mengintip dari balik jendela. Ehh..itu kan motor kak Rino, bisik Ririn. Ririn berlari membuka pintu. Tak dihiraukannya rambut yang masih acak-acakan, baju piyama masih menempel di tubuhnya.


"Kak...kakak di mana", Ririn berjalan memutar ke halaman samping. Tengok kanan kiri. Ke mana sih kak Rino, motornya ada di sini orangnya nggak ada, Ririn ngedumel. Kak Rino ke mana sih ini.

"Pagi mbak Ririn..." 

"Ehh...pagi juga Bu Nurul", ternyata Bu Nurul tetangga sebelah sedang lewat.

"Cari siapa mbak?",tanya Bu Nurul.


"Saya cari teman. Tadi panggil-panggil nama saya Bu. Ini motornya ada di sini. Saya kesiangan karena semalam nggak bisa tidur. Trus sekitar jam satu saya dengar seperti orang jalan pakai tongkat. Saya ketakutan",Ririn menceritakan kejadian semalam.


"Ohhh...iya mbak Ririn. Semalam itu mbah Ponco lagi keliling ronda"

"Ohh begitu ya Bu. Syukur dehh" Mendengar penjelasan Bu Nurul membuat Ririn sedikit tenang.

"Lha bapak ibu belum pulang to mbak?",tanya Bu Nurul.

"Belum Bu. Besok dua hari lagi baru pulang",jawab Ririn

"Oh begitu too, ya sudah mbak, saya mau ke pasar dulu  ini"

"O njih Bu. Monggo"


Dari kejauhan dilihatnya kak Rino berjalan santai. Dia lemparkan senyum melihat Ririn sudah berdiri di depan rumah.

"Halo sayang...baru bangun ya" ,Rino mengacak-acak rambut Ririn yang sebahu.

"Ihhh..kakak ke mana aja sih", Ririn pasang muka manja


"Kakak cari sarapan di warung depan itu. Kakak bangun buka hp ada misscallmu jam tiga pagi ya kakak panik donk. Nggak sempat sarapan. Ada apa? Kamu nggak sakit kan ?",tanya Rino.

"Nggak. Ayo masuk dulu kak. Aku mandi dulu yaa..."

"Okay sayang. Nggak pakai lama yaa"

Ririn segera berlari-lari menuju kamar. Lima belas menit kemudian..

"Ayo ikut aku", ditariknya tangan Ririn

"Ke mana kak. Aku belum makan nih"

"Yuk ke warung makan. Setelah itu ikut aku"

"Kakak nggak kerja?"

"Yak ampun Rin. Ini tanggal merah sayang"

"Ehhh iyaya..hadduhh maaf...sampai lupa tanggal. Kakak nggak makan lagi?"

"Ehhh..kamu suka ya kalau aku gembul. Kan tadi aku sudah sarapan"

"Hahahaa...kirain kakak mau"


Hari masih pagi saat mereka sampai di suatu tempat yang sangat asri, indah mempesona. Sebuah taman lengkap dengan foodcourtnya. Tak sadar hp Ririn di dalam tas bergetar. Ehh siapa nih pagi-pagi, bisik Ririn. Telpon dari siapa, tanya Rino melirik dari samping. Ririn seketika salah tingkah. Aduhh kenapa Dito pagi-pagi nelpon sihh, bisa runyam.nih, batin Ririn.


"Hmm itu kak, teman kuliah Ririn"

"Ohh..ya udah diangkat aja. Jangan dimatiin dong kasian barangkali ada yang penting. Namanya siapa", ehh kok aku jadi kepo nanya-nanya nama segala, batin Rino.

"Iya kak...aku angkat ya. Halo Dito..."


Ohh namanya Dito. Kok sama dengan adikku ya. Ahh nggak mungkinlah. Dito kan di Sastra. Ririn di Ekonomi, batin Rino.

"Udah nilponnya?"

"Udah kak. Dia cuman ngasih tahu kalau nanti siang ada latihan padus di kampus.Dia mau jemput Ririn sekalian lewat ...", Ririn menjelaskan sambil menunduk nggak berani melihat wajah Rino.

"Namanya Dito?"

"Iya kak. Emangnya kenapa kak"

"Nggak apa-apa kok. Yuk pulang, udah siang nih. Kamu ntar siang mau dijemput kan"

Sikap kak Rino kok agak beda ya, batin Ririn.


Sedang di sisi lain, Dito merasa bingung harus bersikap bagaimana. Apakah aku harus cemburu. Kan belum tahu bagaimana hubungan mereka, batin Rino, aku besok mesti balik ke Jakarta lagi. Ahh aku harus terlihat dewasa di depan Ririn.


"Yuk sayang cepetan naik", Ririn segera naik ke atas motor. Hatinya agak lega, mas Rino sepertinya nggak berubah.

Sesampainya di depan rumah Ririn ada motor matic terparkir. Rino kaget, kok motor Dito di sini. Jangan-jangan..,ahh bukan kali, pikir Rino.


Dari jarak tiga meter Dito kaget demi melihat kakaknya berboncengan dengan Ririn. Begitu pula Rino dan Ririn. Mereka bersamaa n memanggil namanya.

"Dito..." ,teriak Rino, kamu kok di sini?"

Ririn pun dibuat kaget kenapa Dito datang pagi sih.

"Dit..kok pagi sih. Katamu siang. Oya kenalin kak ini Dito teman di kelompok padus di kampus"

Rino terlihat senyum-senyum, ujarnya,"Ohh kalian ini berteman to di grup paduan suara kampus. Baiklah. Rin, Dito ini adikku nomer tiga"


Ririn seketika shock. Sedangkan Dito salah tingkah nggak tahu mesti  ngapain. Skak mat deh gue, batin Dito.


Kontributor: Maria Agnes Indah Puspitowaty

Pegiat Literasi


Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News, NTTBANGKIT.COM. Pernah kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta. Lembaga Komunikasi dan Informasi (LKI) Partai Golkar DPD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

5 komentar untuk "Cinta Segitiga"