Hari Masyarakat Adat Nasional, Kemenbud RI Promosikan BIJO METO dari Usif Namah Benu, Komunitas Adat Boti NTT
[ Penulis : Frederikus Suni ]
![]() |
| Usif (Raja) Namah Benu, Konunitas Adat Boti NTT. Dokumentasi : www.tafenpah.com/instagram @tafenpahtimor |
TAFENPAH.COM - Salah satu seni musik dari masyarakat adat Dawan Timor NTT yang dipromosikan Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, khususnya di 'Hari Masyarakat Adat Nasional' adalah BIJO METO.
Apa itu BIJO METO?
BIJO METO adalah alat musik tradisional masyarakat adat Dawan Timor. BIJO METO terbuat dari bahan kayu pilihan, seperti : kayu Cemara, Mahoni, dan disempurnakan dengan beberapa sentuhan artistik Dawan.
Kapan Seniman Dawan Timor memainkan BIJO METO?
Masyarakat adat Dawan Timor biasanya memainkan BIJO METO di setiap acara kebudayaan. Acara atau perayaan kebudayaan masyarakat adat Dawan Timor tentunya sangat beragam.
Studi Kebudayaan Masyarakat Adat Desa Haumeni - Bikomi Utara TTU
Sewaktu saya masih kecil, saya sering mendengar petikan BIJO METO dari beberapa orang tua di kampung/desa Haumeni, kecamatan Bikomi Utara, kabupaten Timor Tengah Utara, provinsi Nusa Tenggara Timur, tepatnya ketika acara USA PENA.
USA PENA adalah Tradisi Perayaan sekaligus Permintaan Restu masyarakat adat Dawan Timor kepada alam, leluhur dan Tuhan), karena ketiga unsur/elemen/entitas tersebut telah menjaga kesuburan tanah, sehingga memberikan makanan dan minuman melimpah.
Untuk itu, dengan adanya tradisi USA PENA, secara resmi masyarakat adat Dawan Timor boleh memakan makanan baru (Mnah Feu) berupa; jagung, labu, kacang-kacangan, mentimun serta beragam makanan lainnya.
Ketika acara kebudayaan Dawan ini berlangsung, para seniman lokal, khususnya orang yang tahu dan paham untuk memainkan BIJO METO akan mengambil alat musik tersebut, lalu memainkannya dengan iringan lagu Dawan Timor.
Selain acara kebudayaan tersebut, beberapa kali saya pernah menyaksikan salah satu kerabat yang kini sudah (Almarhum), ketika berkunjung ke rumah, ia selalu membawa alat musik BIJO METO.
Di malam yang begitu sunyi, layaknya kondisi perkampungan tradisional pada umumnya di setiap daerah, terdengarlah bunyi bersahutan dengan irama merdu dari BIJO METO.
Lalu, apa relevansi BIJO METO dengan Hari Masyarakat Adat Nasional 2026?
![]() |
| Hari Masyarakat Adat Nasional, Kemenbud RI Promosikan BIJO METO dari Usif Namah Benu, Komunitas Adat Boti NTT. Dokumentasi : TAFENPAH.COM |
Sebagaimana yang saya katakan di awal tulisan ini, bahwasannya Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia telah memperkenalkan/mempromosikan BIJO METO, tepatnya di Hari Masyarakat Adat Nasional yang diperingati setiap tanggal 13 Maret.
BIJO METO bukan hanya sebatas alat musik tradisional etnis Dawan Timor. Lebih daripada itu, BIJO METO telah merepresentasikan nilai-nilai kearifan lokal budaya Dawan yang terjawantahkan/terwujud/terealisasi dalam bentuk rasa memiliki (sense of belonging), rasa keberadaan (sense of being), rasa kebudayaan (sense of culture), rasa komunikasi (sense of communications), rasa empati, semangat kebersamaan, gotong royong, persaudaraan, persatuan, dll.
Dari konteks pemaknaan lain dari BIJO METO, saya mengajak teman-teman untuk melihat sekaligus merefleksikan tujuan dibalik promosi masyarakat adat Dawan Timor oleh Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Relevansi
Pertama-tama refleksi kita tertuju pada postingan reels (video pendek) instagram @pelindungbudaya yang menampilkan Usif (Raja) Namah Benu, Komunitas Adat Boti, NTT yang sedang memainkan alat musik tradisional Timor yakni : BIJO METO.
Usif (Raja) Namah Benu dari Komunitas Adat Boti, NTT dalam video reels tersebut sangat jelas menikmati petikan BIJO METO.
Dengan berlatarkan Uim Bubu/Ume Kbubu, Usif Namah Benu juga menggunakan atribut kain adat Dawan berupa : Pilu (Bandingkan ; Blangkon atau penutup kepala dari masyarakat adat Jawa), Bete; kain adat yang dipakai sebagai pengganti celana. Selain itu, Usif Namah Benu juga makan Sirih Pinang ( Baca referensi tambahan makna Sirih Pinang : Amon Bernabas Tenis, Magister Linguistik UGM Promosikan Sirih Pinang di Forum Internasional dan Tips Lolos LPDP bagi Generasi Muda NTT)
Kedua: Pesan komunikasi dibalik Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia memposting Usif (Raja) Namah Benu dari Komunitas Boti, NTT, edisi spesial Hari Masyarakat Adat Nasional (13 Maret) bukan tanpa alasan.
Di mana, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia di bawah kepemimpinan Fadli Zon, seorang politikus, sejarawan, dan mantan aktivis menaruh minat besar terhadap pelestarian kearifan lokal budaya nusantara, khususnya Atoin Meto (Etnis Dawan Timor).
Apalagi, Menteri Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon beberapa kali berkunjung ke NTT, khususnya daratan Timor Barat, Kupang tahu potensi kebudayaan Dawan Timor yang belum sepenuhnya mendapatkan perhatian besar dari pemerintah, termasuk pemerintah provinsi Nusa Tenggara Timur.
Untuk itu, dengan adanya postingan Usif Namah Benu, Komunitas Boti NTT, di akun instagram @pelindungbudaya, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia secara sah dan konsentrasi untuk memajukan kearifan lokal masyarakat adat Dawan Timor.
Ucapan dan Harapan Kementerian Kebudayaan RI di Hari Masyarakat Adat Nasional
Peringatan Hari Masyarakat Adat Nasional menjadi momentum untuk menegaskan kembali peran penting masyarakat adat dalam menjaga keberlanjutan nilai, tradisi, dan pengetahuan budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Mari bersama menghormati dan mendukung keberlanjutan kebudayaan yang tumbuh dari masyarakat adat Indonesia.
Sumber :
Analisis redaksi TAFENPAH.COM, Pengalaman Penulis, dan Youtube : PERSPEKTIF TAFENPAH


Posting Komentar untuk "Hari Masyarakat Adat Nasional, Kemenbud RI Promosikan BIJO METO dari Usif Namah Benu, Komunitas Adat Boti NTT"
Posting Komentar
Diperbolehkan untuk mengutip sebagian materi dari TAFENPAH tidak lebih dari 30%. Terima kasih