Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tuhan Berikan Jodoh Terbaik Untuk Sahabatku

 

Roni memegang tangan Lina dengan penuh kasih sayang. Pixabay

**Sahabat akan selalu dekat di hati bahkan saat kamu terpuruk dan terjepit**


Lina sedang termenung di sudut kampus, tepatnya di bawah pohon perindang. Matanya tidak bisa lepas pada sederet kalimat di whatsapp.


"Aku tidak bisa adik. Jalan kita berbeda. Izinkan aku menjadi sahabatmu saja."

Kenapa sih aku harus kenal dia, dekat dia, kalau akhirnya harus begini, tangis hatinya.


Sudah satu tahun mereka berteman akrab. Lina waktu itu adalah mahasiswi baru di Universitas Brawijaya Malang. Lina bersama teman-temannya harus menjalani masa-masa perkenalan yang dipimpin oleh kakak kelasnya.


Mahasiswa baru (Maba) diberi perintah oleh para seniornya untuk berlari memutari kampus sebanyak 10x untuk putri dan 20x untuk putra, Lina berteriak kesakitan.


"Ahhhh....kakikuu",teriak Lina

"Kenapa Lin", tanya Mita teman barunya

"Kakiku kram...ahhh Mita toloongg...."

Mita kebingungan,"ehh iya..iya Lin. Aduh gimana nih. Bentar yaa..."

Mita lari memanggil kakak kelas.


"Kak...tolong tuh Lina kesakitan. Please kak", pinta Mita

"Di mana dia", jawab Roni. Mereka berlarian. Sesampainya di tempat, Lina masih kesakitan.

"Kak tolong...huhuhu...sakit banget",tangis Lina. Roni tidak tega juga demi melihat Lina menangis. Dia benar-benar kesakitan kelihatannya, batin Roni.

"Ok kamu tenang dulu. Coba tiduran. Rileks. Selonjorkan kakimu. Telapak kaki kudorong ke atas yaa..tahan"


"Aduh duh kaakkk....sakit..ahh...kok malah digituin sih"

Hmmm...dasar gadis manja..rasain loe,batin Roni.

"Nggak apa-apa. Ntar jadi enakan. Tahan dulu...sekali lagi ya."

"Kak aku nggak tahan. Sakit beneran ini."


"Bisa berdiri? Yuk jalan pelan-pelan",Roni terpaksa meranģkul Lina sambil jalan pelan-pelan menuju ruang istirahat. Sesampainya di ruangan, Roni mengangkat Lina untuk ditidurkan di tempat tidur. Tak sengaja mata mereka bertatapan. Sejenak suasana membuat mereka salting alias salah tingkah.


"Ehh maaf Lina. Aku tinggal ya. Kamu istirahat dulu" Roni cepat-cepat meninggalkan ruang UKS sebelum Lina mengetahui degup jantung Roni yang tak beraturan.


Ada apa ini kok aku jadi gemeter sih dekat Lina, bisik hati Roni. Dari jauh Mita berlari menuju ke arah dia sambil bertanya,"kak...gimana Lina"

"Nggak apa-apa kok. Biarkan dia istirahat"

"Oh baiklah. Terima kasih ya kak"

"Iya Mita, sama-sama"


Waktu berjalan tak terasa sudah hampir menginjak semester 3. Sementara itu bulan ini adalah bulan Ramadhan. Di mana Lina tengah menjalani puasa. Sedangkan Roni yang kristiani mencoba menjaga jarak demi menghormati Lina. Mereka telah menjadi pasangan yang akrab. Roni selalu ada untuk Lina. Dia cowok yang baik, dewasa dan cerdas. Saat ini Roni sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian akhir yakni ujian pendadaran. Otomatis hari-harinya begitu sibuk. Hampir tidak waktu untuk sekadar rileks. Suatu hari,...handphone Roni berbunyi. 


"Halo Lin.."

"Kak..kok nggak pernah kontak aku sih".

"Kan kk udah bilang lagi sibuk skripsi. Ini mau ujian. Doakan ya"

"Ya sekali-sekali say hello kek"

"Nanti kalau urusan kk udah kelar ya"

"Hmmm...okay dehh", suara Lina terdengar tak bergairah.


Di seberang sana Roni mulai berpikir, akankah aku dan Lina bisa bersatu? Aku dan dia punya perbedaan prinsip. Dia gadis muslim berkerudung, sedang aku cowok berkalung salib. Oh Tuhan berikan petunjuk-Mu, Roni memejamkan mata di kamar. Buku yang dari tadi dia buka..tak terbaca.


Aku bisa gagal ujian kalau begini terus. Aku harus ambil keputusan. Lebih baik sakit sekarang daripada besok. Diambilnya handphone, ditekannya nomor yang selama ini membuatnya rindu.

"Halo kak...tumben", suara Lina begitu bahagia mendengar hp nya berbunyi nyaring.

"Bisa kita bertemu?"

"Iya kak...bisa sekali. Kapan?"

"Sekarang"

"Ok kak. Di mana?"

"Aku ke rumahmu ya"

"Ok kak aku tunggu ya", betapa bahagianya hati Lina yang merindu. Sudah satu bulan lebih mereka tidak saling bertemu dan ber-say-hello. 

Terdengar lonceng pintu. Lina setengah berlari membuka pintu. Didapatinya Roni dengan wajah yang serius. Tidak ada senyum. Tidak wajah rindu. Kak Roni kenapa ya, bisik hati Lina.


"Masuk kak"

"Lin, kita bicara di teras aja yuk biar lebih rileks", pinta Roni.

"Ohh begitu ya, okay deh", hati Lina sudah mulai tidak enak nih.


Setelah mereka duduk di mana tempat duduk mereka terpisah oleh meja kecil. Dengan suasana teras yang agak temaram, mereka berdua membisu selama beberapa detik. Dan akhirnya, Roni memberanikan diri untuk membuka suara,"Ada sesuatu hal yang selama ini mengganjal di hatiku",ungkap Roni."Yakni ada kaitannya dengan hubungan kita"


"Emang kenapa kak. Hubungan kita baik-baik aja kok",jawab Lina

"Iya aku tahu hubungan kita baik-baik aja. Tapi ada satu hal yang sangat prinsip yang harus kita bicarakan jauh-jauh hari.", kata Roni.

"Apa itu",tanya Lina


"Lin...kamu menyadari kan kalau agama kita berbeda. Aku yakin kamu tidak mungkin ikut aku. Begitu pula sebaliknya."

"Kan besok-besok bisa kita pikirkan kak", pinta Lina.


"Tidak Lin. Harus dari sekarang kita putuskan. Aku sudah pikirkan masak-masak selama satu bulan ini. Aku memutuskan, bahwa lebih baik kita bersahabat sebagai kakak dan adik"

Demi mendengar itu, hati Lina seperti disambar petir. Rindunya ternyata berbuah kepahitan. Tapi memang benar apa yang dikatakan kak Roni. Aku harus menjadi gadis yang dewasa dalam berpikir.

"Baiklah kak kalau itu yang menjadi keputusan kakak. Aku menyadari memang, kita tidak bisa bersatu. Tapi kakak janji ya akan selalu ada dalam kesulitanku"

"Iya adikku, kakak janji", Roni memegang tangan Lina dengan penuh kasih sayang. Dalam hatinya dia berdoa, Tuhan berikan jodoh yang terbaik untuk gadis yang aku sayangi ini.


Cinta itu tak pernah salah, tapi manusia sendiri yang menciptakan jurang pemisah antara satu dan yang lainnya.

 


Ditulis oleh Maria Agnes Indah Puspitowaty

Kompasianer




Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta

2 komentar untuk "Tuhan Berikan Jodoh Terbaik Untuk Sahabatku"