Seni Sebagai Jembatan Kemanusiaan: Pesan Persatuan Happy Salma dari Vatikan

[ Redaksi TAFENPAH ]

Seni Sebagai Jembatan Kemanusiaan: Pesan Persatuan Happy Salma dari Vatikan. Tafenpah.com


VATIKAN, TAFENPAH.COM - Di jantung spiritualitas dunia, suara dari Nusantara bergema dengan lembut namun penuh makna. 

Aktris dan seniman kenamaan Indonesia, Happy Salma, berkesempatan memberikan pidato dalam sebuah forum penting di Vatikan. Tidak sekadar berbicara tentang estetika, Happy membawa narasi besar tentang keberagaman Indonesia dan kekuatan seni sebagai bahasa universal kemanusiaan.


Indonesia dalam Bingkai Keberagaman



Mengawali pidatonya dengan penuh khidmat, Happy Salma memperkenalkan wajah Indonesia yang sebenarnya: sebuah negeri dengan lebih dari 17.000 pulau, 700 bahasa, dan 300 suku bangsa. Di hadapan para tokoh dunia, ia menegaskan bahwa bagi rakyat Indonesia, perbedaan bukanlah hambatan, melainkan nafas kehidupan yang sudah diakrabi sejak kecil.


"Leluhur kami mengajarkan konsep yang memungkinkan kami menghidupi perbedaan itu," ungkapnya dengan tenang melalui reels akun instagram pribadinya, @happysalma.


Tri Hita Karana: Harmoni yang Mendunia

Salah satu poin menarik dalam pidato Happy adalah pengenalan filosofi Tri Hita Karana. Ajaran luhur ini menekankan pada tiga hubungan harmonis: hubungan manusia dengan sesama, manusia dengan alam, dan manusia dengan Sang Ilahi.


Konsep ini dirasa sangat relevan dengan ensiklik Laudato Si’ dari Paus Fransiskus, yang mengajak seluruh umat manusia untuk merawat "rumah bersama" (bumi). Happy menekankan bahwa seni adalah sarana untuk membumikan konsep-konsep agung tersebut ke dalam keseharian melalui doa dan upacara adat.


Seni: Jembatan di Tengah Perbedaan

Dengan jujur, Happy Salma mengakui bahwa seni mungkin tidak memiliki kekuatan instan untuk menghentikan rudal atau membuka selat yang tertutup konflik. Namun, ia percaya sepenuhnya bahwa seni memiliki kekuatan magis untuk:


Membangun jembatan komunikasi antar jiwa.


Merawat hubungan yang retak karena perbedaan ideologi.


Menciptakan titik temu di mana manusia bisa saling memahami tanpa sekat.


Di akhir pidatonya, Happy mengajak para seniman untuk terus menjadi perancang proyek kemanusiaan yang melibatkan banyak orang. Karena pada akhirnya, hanya ada satu bahasa yang mampu menembus batas negara dan agama: Bahasa Kemanusiaan.


Melalui langkah Happy Salma, kita diingatkan kembali bahwa Indonesia punya harta karun berupa nilai-nilai toleransi yang sangat dibutuhkan dunia saat ini. Suara dari Vatikan ini bukan hanya kebanggaan bagi Happy, tapi juga bagi kita semua yang percaya pada persatuan dalam perbedaan.


Sumber Instagram @happysalma

TAFENPAH.COM
TAFENPAH.COM Salam Literasi. Perkenalkan saya Frederikus Suni. Saya pernah bekerja sebagai Public Relation/PR sekaligus Copywriter di Universitas Dian Nusantara (Undira), Tanjung Duren, Jakarta Barat. Saya juga pernah terlibat dalam proyek pendistribusian berita dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) ke provinsi Nusa Tenggara Timur bersama salah satu Dosen dari Universitas Bina Nusantara/Binus dan Universitas Atma Jaya. Tulisan saya juga sering dipublikasikan ulang di Kompas.com. Saat ini berprofesi sebagai Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Siber Asia (Unsia), selain sebagai Karyawan Swasta di salah satu Sekolah Luar Biasa Jakarta Barat. Untuk kerja sama bisa menghubungi saya melalui Media sosial:YouTube: Perspektif Tafenpah||TikTok: TAFENPAH.COM ||Instagram: @suni_fredy || ������ ||Email: tafenpahtimor@gmail.com

Posting Komentar untuk "Seni Sebagai Jembatan Kemanusiaan: Pesan Persatuan Happy Salma dari Vatikan"