Mengapa TAFENPAH Menyediakan Rubrik Suara Perempuan NTT?

[ Penulis : Frederikus Suni ]


Mama-mama Desa Haumeni antre air dengan jerigen kuning di mata air Oeapot saat subuh. Foto: TAFENPAH.COM


TAFENPAH.COM — Oeapot adalah urat nadi Desa Haumeni, Bikomi Utara, Timor Tengah Utara (TTU). Satu-satunya mata air untuk 197 KK.

Pagi itu beta ke sana. Bukan suara timba yang beta dengar, tapi keluh kesah. Mama-mama antre sejak jam 3 subuh, gendong jerigen, rebutan air yang makin kecil.

"Kalau hujan sonde turun, beta jalan 2 kilo lagi," kata Mama Lusia, 54 tahun, sambil lap keringat.

Dari situ beta sadar: cerita soal air di Timor selama ini pincang. Yang omong di berita bapa-bapa. Yang pikul jerigen sonde pernah ditanya.





Cerita yang Pincang

Mama-mama Desa Haumeni antre air dengan jerigen kuning di mata air Oeapot pagi hari. Foto: TAFENPAH.COM


Sesuai pengalaman beta sewaktu masih di kampung Haumeni, situasi ini bikin beta malu. Bahkan saat ini pun, ketika beta ingat lagi keadaan tersebut, beta pun menangis.

Kok bisa ya, tanah kelahiranku sampai sesusah dan sepahit itu kah hanya untuk mendapatkan air bersih?

Cerita itu berbanding terbalik dengan penemuan data dari 32 berita soal krisis air di Timor yang naik di 5 media nasional, 28 narasumber utamanya laki-laki: kepala dinas, anggota dewan, dan mereka yang memegang kekuasaan. Sementara dari pihak perempuan hanya 4 orang.

Padahal di Haumeni, Noemuti, Insana, yang tiap hari berurusan dengan air itu 100 persen mama-mama.

Ini pola lama. Liput panen, cari ketua kelompok tani. Liput adat, cari tua adat. Liput proyek, cari pak dewan. Pekerja Pers, dan Konten Kreator, termasuk beta sering lupa: yang tau detail lapangan itu yang kaki lumpur. Dan di Timor, yang kaki lumpur paling sering itu perempuan.

Akibatnya sederhana: publik dengar soal air dari orang yang sonde pernah antre. Kebijakan dibuat dari data kantor, bukan dari cerita jerigen.





Karena itu TAFENPAH buka rubrik Suara Perempuan NTT

1. Karena cerita soal hidup di Timor selama ini pincang


Di Haumeni, yang pikul jerigen itu 100 persen mama-mama. Tapi dari 32 berita soal krisis air di media nasional, 28 narasumbernya laki-laki yang pegang kekuasaan. Yang tiap hari antre sejak jam 3 subuh sonde pernah ditanya. Rubrik ini untuk luruskan yang pincang: kasih mikrofon ke yang kaki lumpur.

2. Karena yang tau detail lapangan justru paling sering dilupakan


Beta akui: Pekerja Pers, Konten Kreator, termasuk beta sendiri sering lupa. Liput panen cari ketua kelompok. Liput proyek cari pak dewan. Padahal yang tau "air su makin kecil" dan "harus jalan 2 kilo lagi kalau sonde hujan" itu Mama Lusia. Rubrik ini pengingat buat beta sendiri: turun, dengar yang paling dekat dengan masalah.

3. Karena kebijakan lahir dari data kantor, bukan dari cerita jerigen


Publik dengar soal air dari orang yang sonde pernah antre. Akibatnya, kebijakan dibuat pakai data rapat, bukan pakai cerita "beta pung pinggang su mau patah" karena timba 15 kali. Rubrik ini mau bawa cerita jerigen itu naik ke meja pembuat kebijakan.

4. Karena ini soal tanah kelahiran yang bikin malu dan menangis


"Tanah kelahiranku sampai sesusah dan sepahit itu kah hanya untuk dapat air bersih?" Kalimat itu sonde bisa dijawab pakai berita seremonial. Butuh ruang untuk keluh kesah, marah, dan akal mama-mama yang tiap hari bertahan. Rubrik ini wadah untuk rasa itu — supaya duka sonde ditelan sendiri.

5. Karena pola lama harus diputus


Liput adat cari tua adat. Liput tani cari pak ketua. Semua bapa-bapa. Padahal di Noemuti, Insana, Haumeni, yang urus air, urus kebun, urus hidup itu perempuan. Kalau Tafenpah sonde mulai tanya ke mama-mama, siapa lagi? Rubrik ini cara beta memutus pola lama, mulai dari diri sendiri.

Rubrik ini bukan karena Tafenpah paling tau. Tapi karena beta sadar, telinga beta masih kecil.

Kalau kamu mama, nona, nenek di NTT yang punya cerita harus didengar, ketuk pintu. Beta tunggu di TAFENPAH.

Karena Katong di Timor baru lengkap, kalau semua suara dihitung. Sonde boleh ada yang ketinggalan.

Disclaimer: Beta tulis ini, bukan beta anti, apalagi paling tahu, tapi beta hanya menyuarakan isi hati (cerita) dari katong pung sodari (saudara) perempuan.

TAFENPAH.COM
TAFENPAH.COM Salam Literasi. Perkenalkan saya Frederikus Suni. Saya pernah bekerja sebagai Public Relation/PR sekaligus Copywriter di Universitas Dian Nusantara (Undira), Tanjung Duren, Jakarta Barat. Saya juga pernah terlibat dalam proyek pendistribusian berita dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) ke provinsi Nusa Tenggara Timur bersama salah satu Dosen dari Universitas Bina Nusantara/Binus dan Universitas Atma Jaya. Tulisan saya juga sering dipublikasikan ulang di Kompas.com. Saat ini berprofesi sebagai Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Siber Asia (Unsia), selain sebagai Karyawan Swasta di salah satu Sekolah Luar Biasa Jakarta Barat. Untuk kerja sama bisa menghubungi saya melalui Media sosial:YouTube: Perspektif Tafenpah||TikTok: TAFENPAH.COM ||Instagram: @suni_fredy || ������ ||Email: tafenpahtimor@gmail.com

Posting Komentar untuk "Mengapa TAFENPAH Menyediakan Rubrik Suara Perempuan NTT?"