Catatan TAFENPAH untuk 1 Tahun Kepemimpinan Gubernur NTT
[ Penulis : Frederikus Suni ]
selama 1 tahun kepemimpinan kaka Melki, saya melihat, mengamati sekaligus merasakan getirnya hati kaka, akibat tuduhan tak beralasan, provokator, kritik yang menyerang pribadi, sampai pada intrik politik, entah dari lawan politik maupun kalangan yang berseberangan.Namun, satu hal yang saya kagumi dari kaka Melki adalah keberanian dan kejujuran untuk mengakui, memperbaiki dan mereformasi segala sesuatu yang perlu diperbaiki.
![]() |
| Emanuel Melkiades Laka Lena (Gubernur NTT Periode 2025-2030). Tafenpah.com |
TAFENPAH.COM - Pertama - tama saya dan pembaca TAFENPAH mengucapkan selamat atas 1 tahun kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, Bapak Emanuel Melkiades Laka Lena dan Johanis Asadoma.
Fokus utama tulisan saya ini ditujukan kepada Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena.
Untuk lebih akrabnya, saya akan menggunakan nama kaka untuk penyebutan Gubernur NTT.
Mengapa?
Karena saya sudah mengenal kaka Melki Laka Lena, jauh sebelum ia menjadi Gubernur NTT. Tepatnya ketika kaka Melki masih menjabat sebagai Anggota DPR RI periode 2019 - 2024. Di mana, saya ditugaskan dari Pemimpin Redaksi (Metasatu.com) media nasional yang gulung tikar, dampak dari Pandemi Covid-19 untuk menangani liputan politik nasional regio Jakarta dan sekitarnya.
Dari jauh saya mengamati, kaka Melki adalah sosok yang tangguh
Karena sejak kaka Melki resmi dilantik per 20 Februari 2025 lalu, banyak kejadian besar yang terjadi dalam kehidupan sosial masyarakat NTT.
Kejadian atau peristiwa besar yang awal menggucang kepemimpinan kaka Melki dalam catatan TAFENPAH adalah isu Geothermal di daratan Flores dan sekitarnya.
Isu tersebut sangat viral dan menjadi trending topik pemberitaan media mainstream (nasional) bahkan internasional.
Dampaknya, masyarakat NTT berani dan bahkan sebagian warga dengan keras menuding kaka Melki semakin berani melawan otoritas Gereja Katolik yang terafiliasi dengan kelompok-kelompok pejuang lingkungan yang tersebar di Bali, Flores, dan Timor.
Tak hanya itu, dalam catatan TAFENPAH juga menemukan banyak perselisihan perspektif, gaya kepemimpinan yang menurut kelompok atau sebagian influencer NTT, kaka Melki lebih pada praktik seremonial.
Ada juga yang mengatakan kaka Melki mendapatkan dana dari perusahan pengembang Geothermal dll.
Sehingga kaka Melki di salah satu pertemuan dengan lantang mengatakan, penolakan masyarakat terhadap proyek pembangunan Geothermal di Flores dapat diselesaikan melalui dialog. Bukan hanya berteriak di media sosial!
"Ribut aja di medsos. Memangnya, kegaduhan yang disebarkan melalui media sosial dapat menyelesaikan masalah? Tidak! Persoalan Geothermal di Flores kita akan menyelesaikannya melalui ilmu pengetahuan, bukan berdasarkan katanya," tegas Melki.
Segala sesuatu kita harus buktikan melalui ilmu pengetahuan, kajian lapangan, riset dan berbagai pertimbangan lainnya, sebelum proyek pembangunan Geothermal di Flores berjalan. Jangan hanya menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut dengan katanya.
"Di bilang Melki terima uang dari pihak pengembang panas bumi. Paling gampang dicek ajalah susah amat. Rakyat diadu domba. Kemudian pemain-pemainnya di belakang layar semua nih. Kan ini gak fair. Menurut saya model begini yang menghambat proses pembangunan dan kemajuan di NTT," ujar Melki melalui laman akun Instagram pribadinya @melkilakalena.official pada Sabtu, 19 Juli 2025.
Setiap kita melakukan proses perubahan di NTT, tentunya tidak mudah. Karena pasti ada yang dirugikan dan ada yang diuntungkan. Dan masyarakat itu pada posisi yang pasti ditarik dalam konflik seperti ini.
"Yang dirugikan pasti pemain yang urusannya di fosil ini. Dan pastinya masyarakat ditarik-tarik. Isunya bisa apa saja. Sementara pemerintah pastinya dituntut untuk menyelesaikan pertikaian tersebut," sambung Melki.
Menurut saya kelompok penolak yang dikapitalisasi akan menghambat pembangunan wilayah NTT.
Dari kasus Geothermal, baru - baru ini kaka Melki dihadapkan dengan fenomena almarhum (YBR) di Ngada yang secara posisi, kaka Melki serba salah.
Apa pun itu, kaka Melki selalu rendah hati, mengakui kesalahan dengan mengambil tanggung jawab untuk memperbaiki sistem sekaligus meminta maaf ke publik, menunjukkan cara kepemimpinan kaka Melki sangat humanis. Meski terkadang pragmatis.
Baca Catatan TAFENPAH : Gubernur NTT Melki Laka Lena Kecam Para Provokator Isu Geothermal Flores, Ribut Aja di Medsos tanpa Riset dan Ilmu Pengetahuan
Memimpin NTT itu Unik dan Tidak Mudah
Menakhodai NTT pada dasarnya unik dan terdapat banyak varian atau gaya kepemimpinan hingga munculnya ragam perspektif (pandangan) dari lapisan masyarakat hingga elit di ruang publik.
Memimpin NTT memang tidaklah mudah! Karena banyak problematikanya.
Problematika itu juga dialami oleh pemimpin terdahulu, terutama kaka Victor Bungtilu Laiskodat (Mantan Gubernur NTT).
Kaka Victor Bungtilu Laiskodat (VBL) dihadapan media dan praktisi NTT pernah menyampaikan persoalan demikian.
"Sebagai pemimpin wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur, tentu saja saya menyadari pembangunan di NTT ini sangat kompleks," ujar mantan Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Bungtilu Laiskodat dalam acara Bedah Buku dan Launching antologi puisi religi Sang Mesias karya Pater Fritz Meko, SVD di aula Hotel Cahaya Bapa, Naikoten, kupang, sabtu (2/4/2022).
Saat itu, dalam keheningan batin, meski di aula Hotel Cahaya Bapa, Naikoten Kupang riuh dengan manisnya obrolan antara pemimpin provinsi, intelektual dari Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, tokoh agama, tokoh kritikus Sastra, Pekerja Pers, Influencer dan tamu undangan, saya menyadari satu hal, bahwasannya inilah surganya intrik kehidupan.
Lebih jauhnya, saya juga tahu bahwasannya selama ini tuntutan dari masyarakat NTT kepada pemimpin untuk lebih adil dan merata soal pembangunan, rasanya gampang diucapkan, tapi sulit untuk seorang pemimpin kerjakan.
Karena untuk membangun NTT secara keseluruhan itu tidaklah mudah. Mengingat letak geografis NTT yang terdiri dari gugusan pulau - pulau kecil dengan pemisah utamanya adalah laut.
Kontemplasi ini juga membawa saya pada satu kesadaran, sebelum berkomentar, cobalah kita memposisikan diri kita sebagai pemimpin wilayah.
Dalam kondisi tersebut, kita dituduh dan dikritik masyarakat dengan ragam perspektif atau pandangannya. Meskipun kita sudah bekerja dengan maksimal dan sesuai dengan mekanisme atau SOP-nya.
Apa yang akan kita rasakan? Tentunya, saya pasti marah dan kecewa. Apalagi kamu.
Itulah keadaan yang dialami oleh setiap pemimpin di NTT. Mereka serba salah dalam segala hal.
Perasaan itu yang kini menghantui kaka Melki Laka Lena.
Akan tetapi, kaka Melki Laka Lena memilih untuk terus bekerja dan terbuka dengan semua kritik sebagai bahan evaluasi.
Pro dan Kontra Masyarakat NTT Terhadap Kepemimpinan Gubernur Melki Laka Lena
Persoalan dan kompleksitas untuk membangun NTT, kadang kala terjadi pro dan kontra dalam kehidupan bermasyarakat.
Memang, selama 1 tahun kepemimpinan kaka Melki, saya melihat, mengamati sekaligus merasakan getirnya hati kaka, akibat tuduhan tak beralasan, provokator, kritik yang menyerang pribadi, sampai pada intrik politik, entah dari lawan politik maupun kalangan yang berseberangan.
Namun, satu hal yang saya kagumi dari kaka Melki adalah keberanian dan kejujuran untuk mengakui, memperbaiki dan mereformasi segala sesuatu yang perlu diperbaiki.
Saya juga melihat kaka Melki menyadari betul, bahwasannya segala sesuatu yang telah terjadi merupakan proses yang mau tidak mau dilewati untuk membangun NTT.
NTT kawasan yang kaya akan kearifan lokal dan pariwisatanya
Kekayaan tersebut dihadapkan dengan kerasnya dinamika sosial, geografis, ekonomi, dan politik.
Belum lagi karakter masyarakat NTT yang ceplas ceplos, spontan, jujur (apa adanya) meskipun terdengar menyakitkan. Tapi, itulah wajah dan keadaan asli masyarakat yang kaka Melki Laka Lena pimpin.
Apalagi, di era kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, siapa saja boleh menyampaikan ide, gagasan, kritik dan lainya.
Meskipun sebagian kritik tidak berbasiskan data.
Tetapi kaka Melki selalu terbuka untuk menerima semua kritik tersebut untuk dijadikan sebagai evaluasi diri, tim, dan seluruh pengambilan keputusan di ruang publik.
Saya selalu percaya, kaka Melki punya kecintaan besar untuk memajukan NTT. Akan tetapi, problemnya selalu sama yakni tiadanya persatuan lintas stakeholder, baik internal maupun eksternal untuk bekerja sama.
Mengingat, setiap pribadi, kelompok, organisasi dan sejenisnya punya tujuan masing-masing.
Maka, sekali lagi saya meminjam kutipan dari pemimpin NTT periode sebelumnya, seperti di bawah ini.
"Sebagai pemimpin wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur, tentu saja saya menyadari pembangunan di NTT ini sangat kompleks," ucap mantan Gubernur NTT, Victor Bungtilu Laiskodat.
Solusi Kolektif Masyarakat NTT
Sepahit, sekeras-kerasnya kritik masyarakat NTT terhadap gubernur Melki Laka Lena, pada akhirnya kita semua butuh kolaborasi.
Melalui kolaborasi kita diajak untuk saling bekerja sama, menumbuhkan minat membaca, menulis, rasa memiliki, rasa mencintai, rasa keberadaan, rasa budaya, empati serta kita pun memiliki rasa ingin tahu yang lebih akan ilmu pengetahuan.
Karena dalam pengetahuan, kita mendapatkan kejernihan berpikir, berpikiran mendalam, kritis tapi solutif, bukan sebaliknya kritik tanpa data dan menyerang pribadi seseorang!
Dengan menyadari keterbatasan kita, terutama tantangan pemimpin dalam membangun NTT. Alangkah baiknya, kita (masyarakat) NTT butuh sinergitas dan kolaborasi lintas masyarakat untuk terus menyuarakan budaya literasi iman, literasi membaca, menulis, literasi keuangan, hingga pengembangan diri secara berkesinambungan demi perkembangan SDM NTT ke arah yang lebih baik.
Epilog (Penutup)
Saya percaya, kaka Melki adalah pribadi tangguh, pejuang, dan visioner.
Di bawah kepemimpinan kaka Melki Laka Lena dan Johni Asadoma, NTT akan lebih maju dan berdaya saing.
Terima kasih kaka Melki untuk setiap proses, niat, dan komitmennya dalam mereformasi NTT yang jauh lebih baik.
Mohon maaf, bila dalam proses penyajian analisis ini, saya kekurangan data dan salah ucap.
_Salam dari saya_
Frederikus Suni
Jakarta, 22 Februari 2026

Posting Komentar untuk "Catatan TAFENPAH untuk 1 Tahun Kepemimpinan Gubernur NTT"
Posting Komentar
Diperbolehkan untuk mengutip sebagian materi dari TAFENPAH tidak lebih dari 30%. Terima kasih