Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Li'ana Atuk Bijael (Si Gembala Sapi) Noka Haumeni

Li'ana atuk bijael noka Haumeni.Waspada.id

Li'ana atuk bijael (Si Gembala Sapi) biasanya melekat dalam diri setiap anak desa. 


Li'ana atuk Bijael (Si Gembala Sapi) merupakan istilah yang sangat terkenal bagi setiap generasi kampung Haumeni. Tujuan pemberian nama “'Li'anaAtuk Bijael” adalah ketika seorang anak tidak bersekolah.


Li'ana berasal dari bahasa dawan yang berarti anak. Sebagai etnis dawan (Atoin Meto; orang yang menghuni tanah kering), kami bangga dengan sebutan demikian.


Li'ana penyebutannya beda dengan penulisannya ya. Li'ana bahasa tertulisnya. Sementara, penyebutannya adalah lian. Sobat, anggap saja kita sedang belajar grammer bahasa Inggris ya.


Li'an serupa filsafat Liyan yang mengarah pada sahabat atau diriku yang lain (sesamaku). 


Atuk bermakna penjaga. Sementara Bijael (sapi). Jadi, secara umumnya, li'ana atuk bijael bisa diterjemahkan sebagai bocah penjaga sapi atau bahasa kerennya “Si Gembala Sapi.”


Anak Desa

Sebagai anak desa, tentu keseharian kita selalu bersentuhan dengan alam. Di kala sore mendekat, kita bergerombolan berkelana menuju kebun. Tujuan kita pergi ke kebun adalah mencari rerumputan bagi hewan peliharaan kita.


Salah satu jenis ternak kesayangan anak-anak desa adalah Sapi. Terutama di negeri Timor manise.

Bangga

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis 10 provinsi dengan produsen/penghasil daging sapi terbesar di Indonesia. Di antara ke-10 provinsi itu, Nusa Tenggara Timur berada di urutan terakhir.


Sebagai orang NTT, saya ikut bangga akan pencapaian ini. Ternyata tanah kelahiranku yang selalu diragukan dan dianggap selalu terbelakang mampu memberikan kontribusi daging sapi terbesar dengan kualitas di negeri yang berkode nomor ponsel +62 ini.


Padang Sabana

Hamparan padang sabana telah memberikan kebebasan bagi hewan ternak untuk berlarian di alam bebas. Khususnya padang sabana yang terdapat di kampung Haumeni.


Haumeni adalah kampung saya. Letaknya di kecamatan Bikomi Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur.


Sejuta pemandangan selalu membawa keceriaan, canda tawa dan perasaan-perasaan positif dalam diri kami di tengah sabana.


Sesekali memincingkan mata menuju negeri Timor Leste yang tak kalah menawarkan pemandangan hijau, pegunungan yang mencungkil angkasa dan biasanya menghalangi mata kami untuk melepaskan kepergiaan senja di tengah samudera lautan.


Perubahan (Mobilitas)

Seiring dengan hujan teknologi setiap hari, generasi kampung Haumeni perlahan-lahan mulai bergerak menuju gaya hidup yang mengarah pada penyangkalan terhadap kebudayaan sendiri.


Di mana generasi Alpa (kelahiran 2010-an) enggan untuk disebut sebagai “L'iana Atuk Bijael.” Mengapa hal itu bisa terjadi? Ya, semua ini karena gengsi.


Budaya gengsi bahkan sudah merasuki sendi-sendi kehidupan generasi muda kampung Haumeni. Karakter generasi muda Haumeni digerus oleh banjir teknologi.


Kehadiran teknologi membawa pola pikir dan gaya hidup yang diadopsi/ambil dari kebudayaan luar. Untuk itu, sebagai pusat penguatan karakter generasi muda Haumeni, terutama kecintaan terhadap kearifan lokal atau budaya nenek moyan harus dikampanyekan oleh setiap orang yang mendagu sebagai kaum intelektual.


Cara terbaik untuk mengenalkan kearifan lokal kepada generasi Alpa adalah melalui kemasan artikel seperti yang saya ulik ini. Bisa juga melalui konten creator yang piawi dalam membuat kartun animasi dan ditayangkan di You Tobe, media sosial  setiap orang.


Tujuan dari kampanye ini adalah bagian dari visi dan misi  “Merdeka Belajar” yang dicanangkan oleh Kemendikbudristek, Nadiem Makarim.


Kita semua bertanggung jawab untuk melestarikan kembali kearifan atau kebudayaan kita. Budaya adalah lambang jati diri kita. Sampai kapan pun kita tidka akan pisah dari budaya. Untuk itu, liana atuk bijael selalu hidup dan menyejarah dalam keseharian kami generasi kampung Haumeni, Timor, NTT.


Salam Tafenpah











Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News, NTTBANGKIT.COM. Pernah kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta. Lembaga Komunikasi dan Informasi (LKI) Partai Golkar DPD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

3 komentar untuk "Li'ana Atuk Bijael (Si Gembala Sapi) Noka Haumeni"

  1. Klu bisa kata liana ditulis dgn tanda ' jdi li'ana..TQ.

    BalasHapus
  2. Li'an moen an esan fitsa tuek e neu amoente natuk bijae😁😁

    BalasHapus