Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Universitas Waterloo Kanada dan Universitas Prasetiya Mulya Kolaborasi dalam Mengatasi Perubahan Iklim Indonesia

Penulis: Fredy Suni

Foto bersama utusan dari Universitas Waterloo Kanada dan Universitas Prasetiya Mulya | Foto: Humas Universitas Prasetiya Mulya

Jakarta, Tafenpah.com - Perubahan iklim yang terjadi di dunia, khususnya kota metropolitan Jakarta dan sekitarnya, ikut memberikan kecemasan, selain terganggunya aktivitas harian warga, menjadi keprihatinan Universitas Prasetiya Mulya.

Menanggapi fenomena alam yang tak bersahabat ini, Rektor Universitas Prasetiya Mulya, Prof. Dr. Djisman Simandjuntak berinisiatif untuk bekerja sama dengan Universitas Waterloo asal Kanada dalam mengatasi perubahan iklim.

Sebagaimana dalam keterangan press release dari Humas Prasmul dikatakan bahwasannya Rektor beserta jajarannya di Prasmul telah mendonasikan 750 ribu dolar untuk digunakan dalam memitigasi perubahan iklim yang terjadi di tanah air dan dunia saat ini.

Djisman menyatakan bahwa dalam kolaborasi ini, Prasmul akan berfokus pada riset terkait perdagangan karbon (carbon trading), pajak karbon (carbon tax), nilai ekonomi karbon (carbon pricing), dan carbon capital. 
Pemukulan gong sebagai penanda kerja sama kedua Universitas ini | Foto: Humas Prasmul


"Sejak awal, kami memiliki model pembelajaran yang berdasarkan pada kolaborasi antar-bidang keilmuan. Dengan terlibat di dalam FINCAPES, Prasmul akan menerapkan model pembelajaran itu, sembari melakukan capacity building dan mendalami aspek ekonomi dari perubahan iklim" ujarnya kepada Tafenpah, Kamis (23/2/2023).

Tentu saja, model pembelajaran Prasmul yang teruji sejak lama, bisa direplikasi dan dimanfaatkan oleh banyak pihak untuk menangani persoalan kompleks seperti perubahan iklim.

Sementara, Kevin Tokar, Kepala Kerjasama Pembangunan Kanada untuk Indonesia mengatakan dalam strategi itu, Kanada memandang Indonesia punya posisi yang sangat penting, terutama dalam hal perubahan iklim. 

“Seperti kita tahu, pemerintah Indonesia saat ini punya komitmen untuk melakukan transisi energi demi mengurangi emisi karbon. Pemerintah Kanada mendukung inisiatif baik tersebut" tandasnya 

Melalui proyek Flood Impacts, Carbon Pricing, and Ecosystem Sustainability (FINCAPES), kedua Universitas ini terus berkomitmen untuk menyumbangkan tenaga, pikiran, dedikasi, dan berbagai hal positif lainnya, demi kebaikan bersama.


Sebagai informasi umum; FINCAPES merupakan langkah konkrit pemerintah Kanada dari hasil pertemuan G20 yang diselenggarakan di Bali dan diumumkan oleh Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau pada 16 November 2022 lalu. 

FINCAPES adalah program kemitraan pemerintah Kanada dalam strategi Indo-Pacific di mana pemerintah Kanada ingin menjalin kerjasama dan hubungan baik dengan negara-negara di kawasan Asia-Pasifik. 

FINCAPES  memiliki tujuan untuk mendukung Indonesia dalam menyusun strategi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. 

Sementara itu, Direktur dari program Ilmu Statistik dan Aktuaria Fakultas Matematika Universitas Waterloo, Bill Duggan, menjelaskan bahwa terdapat tiga komponen program utama dalam FINCAPES. Ketiganya, dirancang untuk meningkatkan dan mempercepat kapasitas Indonesia dalam beradaptasi dan pencegahan perubahan iklim.


“Pada komponen pertama, para pakar dari Universitas Waterloo bersama mitra di Indonesia akan mengembangkan model risiko keuangan baru yang inovatif untuk membantu pemerintah daerah, industri, dan masyarakat rentan dalam memperkirakan dan mempersiapkan biaya sosial ekonomi yang terkait dengan perubahan iklim khususnya kerusakan akibat banjir,” kata Bill.


Komponen kedua, proyek FINCAPES akan berfokus pada peningkatan upaya penyerapan karbon di Indonesia dengan membantu melindungi dan merehabilitasi lahan gambut dan ekosistem bakau yang kritis. Proyek ini juga akan berusaha untuk melestarikan keanekaragaman hayati. Bagian dari proyek ini akan mengembangkan sejumlah laboratorium hidup bagi para ilmuwan dan mitra lokal untuk mengembangkan dan menguji metode baru. Selain itu juga dengan melakukan promosi dan mereplikasi solusi yang telah terbukti dalam skala yang jauh lebih besar.


Sedangkan, komponen ketiga FINCAPES akan mendukung pengembangan kebijakan tentang pajak karbon dan program pembatasan serta perdagangan karbon yang akan menjadi bagian penting dari pengurangan gas rumah kaca di Indonesia. Ini juga sebagai upaya Mekanisme Transisi Energi untuk membantu proses transisi Indonesia menjadi negara dengan energi rendah karbon.


Project Director Universitas Waterloo, Jean Lowry, menyatakan, nantinya hasil dari kolaborasi antar-kampus dan bidang keilmuan ini diharapkan dapat menghasilkan berbagai permodelan yang sudah teruji yang bisa dimanfaatkan dan diterapkan di Indonesia maupun di tingkat global. “Tentunya kami berharap nantinya hasil dari program ini dapat menjadi solusi atas perubahan iklim dalam skala yang lebih besar.”


Profesor Stefan Steiner, Ketua Tim FINCAPES dari Universitas Waterloo mengatakan, “Upaya yang efektif dan berkelanjutan sebagai respon terhadap ancaman emisi karbon sangat penting untuk kelangsungan hidup masyarakat di Indonesia dan di seluruh dunia. 

Dengan berfokus pada peningkatan harga dan perdagangan ka
rbon, serta solusi berbasis alam, FINCAPES akan membantu transisi Indonesia ke ekonomi rendah karbon dan menjadi tempat tinggal yang berkelanjutan dan lebih sehat.


Upaya ini sejalan dengan tema adaptasi perubahan iklim yang ditekankan dalam “Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim PBB” yang berlangsung baru-baru ini di Mesir (COP 27) sekaligus menggambarkan upaya PBB dalam membantu berbagai negara untuk bisa beradaptasi dengan meningkatnya dampak perubahan iklim.”

Dalam kesempatan yang sama, Rektor IPB, Arif Satria, mengatakan dalam kolaborasi FINCAPES, pihaknya akan berfokus pada riset terkait lingkungan hidup dan kehutanan. 

“Saat ini kami telah memiliki inovasi seperti Risk Fire System yang dapat memprediksi kebakaran hutan, enam bulan sebelum terjadi. Sehingga risiko kebakaran hutan dapat dicegah.” 

Sistem ini sudah diadaptasi oleh pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. 

“Kami juga punya Ecosystem Platform, yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi konversi lahan sebagai early warning system alih fungsi lahan yang dapat diterapkan di berbagai daerah.”tutup Rektor, IPB, Arif Satria.

Sumber; Humas Universitas Prasetiya Mulya
Frederikus Suni Admin Tafenpah Group
Frederikus Suni Admin Tafenpah Group Hi salam kenal ya!!! Saya Frederikus Suni, biasanya disapa Fredy Suni adalah pendiri dari Tafenpah. Profesi: Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Siber Asia (Asia Cyber University). Saya adalah mahasiswa Droup Out/DO dari Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang dan Universitas Dian Nusantara (Undira). Saat ini bekerja sebagai Talent Management di PT. Sunstar Media Indonesia sekaligus Kreator Konten Tafenpah Group, Kompasiana, Eskaber, Terbitkanbukugratis, Inspirasiana, PepNews. Saya pernah menjadi Wartawan/Jurnalis di Metasatu.com dan NTTPedia.id || Saya pernah menangani proyek dari Kementerian Komunikasi dan Informatika RI || Saya pernah magang sebagai Copywriter untuk Universitas Dian Nusantara (Undira) Jakarta. Saat ini fokus mengembangkan portal yang saya dirikan yakni: www.tafenpah.com || www.pahtimor.com || www.hitztafenpah.com || www.lelahnyahidup.com || www.sporttafenpah.com || Mari, kita saling berinvestasi, demi kebaikan bersama || Terkait kerja sama dan informasi iklan bisa melalui email tafenpahtimor@gmail.com || || Instagram: @suni_fredy || @tafenpahcom || @pahtimorcom || Youtube: @Tafenpah Group

Posting Komentar untuk "Universitas Waterloo Kanada dan Universitas Prasetiya Mulya Kolaborasi dalam Mengatasi Perubahan Iklim Indonesia "