Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Saat Mata Membuka Kata

 Penulis: Perboyre Bana |Editor: Fredy Suni

Sumber gambar: Jalantikus

(sebuah imajinasi fiktif di saat  senggang)

Tafenpah.com - Aku mencintai seorang perempuan. Aku mencintainya dengan sempurna, sesempurna gambaran cinta di film-film  india, sesempurna apa yang didambakan banyak orang dan sesempurna apa yang didefenisikan banyak orang. Itulah gambaran kesempurnaan cinta bagiku. Perempuanku ini bukan perempuan biasa.


Dia datang dari keluarga yang bisa kubilang ketat. Ayahnya adalah seorang yang berwatak keras namun penyayang, ibunya seorang yang kehadirannya selalu memberikan cinta. Saudara-saudaranya pun demikian, selalu hidup dalam kesempurnaan cinta.


Aku mencintainya dengan begitu sederhana pada awal mulanya. Ya karena aku mencintai kesederhanaannya. Sesederhana dari pintu tua. Begitu sederhananya hingga waktu diulur sebab tak ingin pada esok. Padahal pertemuan pertama kami bukanlah pertemuan yang menghebohkan. Tidak ada kata. Senyumpun tidak. Wajahnya manis dan khas. 


Sumber: PikiranRakyat

Itulah kata bagiku. Kata yang tidak terkatakan namun terpahami. Itulah yang membuatku enggan dekat apalagi harus terlebih dahulu menyapanya. Maklum, wajahku yang biasa-biasa ini tidak perlulah mendapatkan perhatian darinya.


Waktu…..!!!! ya, itu dia. Waktu yang berjalan tidak mau tahu itu, menempatkanku sebagai orang yang mencintainya, walau masih dalam hati. atau lebih tepatnya, aku mengaguminya. Dia yang selalu datang, akhirnya mau dibukakan percakapan. 


Aku menanyakan beberapa hal formalitas, seperti asal, tempat kuliah, apa lagu kesayangannya, dan berbagai macam hal lainnya. Dari setiap jawabannya, dia bukan pribadi yang terlalu tertutup. Dari setiap jawabannya, sinyal positif kuterima. Dari sanalah petualangan cinta kami dimulai. Dari sanalah hari penuh warna itu dimulai.


Tak ada hari tanpa mendengarkan suaranya. Tidak ada hari tanpa mendengarkan suaraku. Apa yang kulakukan diketahuinya. Ini lumrah ternyata bagi pasangan pacaran baru seperti kami. Banyak sekali mimpi yang dilukiskan di udara.


Pertemuan langsung bagi kami, adalah tatapan-tatapan afirmatif akan kata-kata yang sudah kami jajaki, mungkin semalam, atau kemarin, atau minggu lalu. Mata kami mencari cara agar cinta ini tetap, cinta ini tidak beralih.


Jika timbul keganjilan dalam setiap tatapannya, kami mencari penjelasan dalam percakapan-percakapan panjang di udara. Percakapan yang terjadi setiap hari. Percakapan yang tidak pernah membosankan. 


Percakapan hingga menjemput pagi, membuat malam pun cemburu. Memang tidak mudah bagi kami untuk menyatakan di depan publik status percintaan itu. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa harum cinta kami tercium oleh beberapa hidung yang peka, tapi enggan mengeksekusi keputusan. 


Tapi biarlah, kita tinggalkan mereka dengan segala macam prasangkanya, yang sekalipun benar itu.


Kebahagian kami itu tidak begitu lama. Setelah ku menemaninya hingga lulus kuliah, perempuanku ini pergi tanpa meninggalkan goresan. Gersang hati, luruh jiwa, menghiasiku. Warna-warni berubah menjadi layer abu-abu. Semuanya hambar. 


Seperti suatu sore awan tergambar di ujung timur menemani langkahku gontai menyusuri Lorong-lorong duka di belahan kota asing. Aku hanya menjumpainya sebatas foto masa lampau  sebelum kata pisah memenjarakan tubuhku dengan tubuhnya. Tentang aku, tidak lagi diketahuinya. Tentang dia, aku tak pasti.

Frederikus Suni
Frederikus Suni Hello pembaca Tafenpah...! Salam kenal dari saya Fredy Suni ya |Kunjungi juga situs baru saya di SuaraDiaspora.Wordpress.com Selamat membaca!! Terkait kerja sama bisa melalui email tafenpahtimor@gmail.com || || Instagram: @Literasi_Tafenpah

Posting Komentar untuk "Saat Mata Membuka Kata"