Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Strategi Creative Approach: Pendidikan Karakter Indonesia Yang Maju Dan Modern

Dokumentasi Tafenpah

Penulis: Andi Darman | Editor: Fredy Suni

Tafenpah.com - Pendidikan karakter menjadi kebutuhan primer dengan mengingat banyak tindakan non-edukatif yangterjadi dalam bangsa. Banyak masalah terjadi seperti masalah intolerasi, terorisme, eksploitasi, hoax, pelecehan seksual, dan korupsi karena lunturnya karakter anak bangsa. Tindakan non-edukatif tersebut tidak hanya terjadi dalam masyarakat umum, tapi terjadi juga dalam lembaga pendidikan yang melibatkan dosen dan peserta didik.


Baca Juga: Rekonstruksionisme: Arah Baru Pendidikan Kritis Indonesia


Menurut Setyo Wibowo, pendidikan Indonesia gagal dalam membentuk pribadi yang berkarakter sesuai dengan jiwa bangsa Indonesia. Banyak orang rajin ke masjid atau gereja tetapi korupsi, intoleransi, dan pelecehan seksual karena tidak memiliki dasar pijakan berpikir atau alasan yang kuat untuk berbuat baik. Dengan itu, pendidikan karakter harus ditekankan kepada peserta didik Indonesia dewasa ini agar tidak terjebak dalam aktivitas ritual teknis belaka dalam kehidupan.



Perilaku-perilaku non-edukatif di atas tentu menambah beban bagi bangsa dan merusak tatanan kehidupan dalam masyarakat umum. Karena itu, pendidikan karakter sangat penting diterapkan kepada peserta didik dewasa ini untuk membentuk sikap empatif dan humanis terhadap sesama. Pendidikan karakter diharapkan mampu membentuk peserta didik yang menghargai hidup sesama, menghargai keutuhan dan keunikan ciptaan, serta menghasilkan sosok pribadi yang memiliki kemampuan intelektual dan moral yang seimbang.



Pengertian Pendidikan Karakter

Dokumen Tafenpah

Pendidikan merupakan proses pengembangan berbagai macam potensi yang ada dalam diri peserta didik agar dapat berkembang dengan baik dan bermanfaat bagi dirinya dan lingkungannya. Sedangkan karakter dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) didefinisikan sebagai tabiat (berwatak), sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain. Menurut Yahya Khan, karakter adalah sikap pribadi yang stabil hasil proses konsolidasi secara progresif dan dinamis, intgrasi pernyataan dan tindakan. Dengan itu, pendidikan karakter dapat diartikan sebagai cara berpikir dan perilaku yang membantu peserta didik  untuk hidup dan bekerja bersama dalam membangun dalam masyarakat.



Pendidikan karakter mampu membentuk jati diri peserta didik melalui kesatuan antara apa yang baik dan yang benar. Plato mengatakan bahwa pendidikan karakter sangat tepat dalam mencetak seorang filsuf yang mampu memimpin negara. Karena pendidikan karakter mampu mengabungkan tiga kenyataan penting yang ada dalam diri manusia, yakni negara, kebahagiaan dunia, dan kebahagiaan yang mengatasi dunia ini. Tiga kenyataan itu mampu mampu mencitapkan masyarakat yang demokratis, masyarakat yang hidup penuh dengan keadilan yang menjiwai kehidupan politik dan individu dalma bangsa. 



Strategi Creative Approach

Dokumen Tafenpah

Tan Malaka adalah salah satu founding father yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa dengan mengedepankan pendidikan karakter kepada peserta didik. Ia membentuk kepribadian dan identitas peserta didik sesuai dengan budaya Indonesia yang mengedepankan kemerdekaan dalam segala aspek, seperti pendidikan, politik, ekonomi, dan sosial. Untuk mewujudkan mimpi itu, Tan Malaka menerbitkan MADILOG (materialisme, Dialektika, dan Logika) untuk sebuah pembaharuan karakter pemikiran masyarakat Indonesia yang lebih maju dan modern.


MADILOG merupakan karakter pemikiran baru yang perlu dimiliki oleh peserta didik Indonesia untuk merdeka, memperbaharui dan membangun bangsa Indonesia. Melalui MADILOG, Tan Malaka mengusulkan 3 (tiga) karakter pemikiran peserta didik Indonesia dewasa ini yang maju dan modern. Pertama, peserta didik dibentuk dalam kerangka berpikir yang timbul dari kenyataan riil (materi), bukan cara berpikir kuno yang penuh mistik. Kedua, peserta didik memiliki kemampuan dialektis dalam menjelaskan suatu kenyataan dari yang rendah sampai kenyataan yang sangat kompleks. Ketiga, peserta didik memiliki kemampuan logis dalam menganalisis suatu fenomena.



Bagaimana strategi Tan Malaka dalam mewujudkan tiga karakter tersebut dalam diri peserta didik Indonesia? Berdasarkan berbagai literatur yang penulis baca, Tan Malaka menggunakan strategi pendidikan karakter melalui strategi creative approach kepada peserta didik. Strategi creative approach mendorong peserta didik untuk memahami dan memecahkan masalah yang terjadi dalam masyarakat. Strategi creative approach memberikan kesadaran kritis kepada peserta didik terkait masalah bangsa yang dirusak karena tindakan non-edukatif. 


Dengan itu, karakter dari peserta didik Indonesia dewasa ini pun seharusnya mengedepankan strategi creative approach. Peserta didik tidak menjadi pribadi yang apatis dengan masalah-masalah sosial dalam bangsa, melainkan mereka menjadi agen perubahan kehidupan sosial. Mereka harus menjadi pribadi yang memiliki kemampuan dalam mengangkat derajat masyarakat ke arah yang maju dan modern. Mereka juga memiliki karakter budaya keindonesiaan yang mengutamakan sikap empati, suka menolong, gotong royong, dan menghargai perbedaan suku, ras, budaya serta agama yang ada dalam bangsa.


Tujuan dari stategi creative approach untuk membentuk karakter peserta didik dalam membangun konsep pemikiran dari kenyataan riil. Mereka tidak lagi terpaku pada pemikiran oranglain untuk menganalisis masalah. Mereka memiliki pemikiran tersendiri berdasarkan hasil analisis yang kritis dalam menjelaskan suatu masalah dalam masyarakat Indonesia. Mereka memiliki pengertian yang benar dan penilaian yang tepat berdasarkan analisis yang riil.


Peserta didik memiliki kemampuan dalam melihat persoalan yang riil di tengah masyarakat Indonesia. Mereka hadir di tengah masyarakat untuk melihat fenomena dan melakukan riset sosial. Hasil riset sosial bisa dijelaskan dengan kemampuan dialektis yang baik dan kritis untuk menemukan dampak yang negatif dan positif. Mereka juga memiliki kemampuan kritis dalam memecahkan persoalan yang terjadi dalam bangsa, baik dengan studi perbandingan atau dengan diskursus. Hasil diskursus bisa dijadikan sebagai konsep yang dipakai dalam mewujudkan bangsa Indonesia yang maju dan modern.


Penulis melihat strategi creative approach mampu membentuk peserta didik Indonesia menjadi pribadi yang lebih kritis. Mereka tidak lagi menjadi peserta didik yang hanya mengikuti pemikiran oranglain, tapi mereka memiliki kemampuan dialektis dan kritis yang tumbuh dari dalam diri sendiri. Mereka tidak lagi menjadi peserta didik yang menjalankan kewajiban untuk memiliki rasa hormat terhadap guru, sikap toleransi, rajin berdoa, dan sebagainya. Mereka memiliki karakter kritis dalam mengetahui alasan diterapkannya semua kewajiban itu.


Frederikus Suni
Frederikus Suni Jurnalis, Penulis, Blogger, Konten Kreator Kompasiana, Pep News, Eskaber, Editor Penerbit Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD) Jakarta, Pegiat Literasi Digital Indonesia, dan co-Founder Komen Lida: Komunitas Melek Literasi Digital Indonesia. Lahir di Desa Haumeni, Kecamatan Bikomi Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur. Pernah Studi di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Widya Sasana, Malang, Jawa Timur. Eks/mantan Frater di Seminari Tinggi SVD Surya Wacana, Malang. Founder TAFENPAH

Posting Komentar untuk "Strategi Creative Approach: Pendidikan Karakter Indonesia Yang Maju Dan Modern"