Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Janji yang Pudar

Gambar dari HerStory

Penulis: Angela Florida Mau | Editor: Fredy Suni

Tafenpah.com - Setelah sarapan pagi, Afma datang dan kami pun pergi menjemput teman kami dan langsung pergi ke Seruni. Kemudian kami tiba di Kampus. Memesan sebuah penginapan dan kami pun menghabiskan seharian penuh ditemani suasana yang nyaman dari keindahan alam di Kampus. 


Bagi sebagian teman kami yang merupakan turis asing, pemandangan sawah, gua, pura dan peninggalan sejarah di bali menjadi daya tarik tersendiri untuk mereka kunjungi. Seorang temanku bernama Allison tidak henti-hentinya memfoto segala sesuatu yang ada disana. Tapi bagiku ini sih biasa-biasa saja. pikiranku terganggu dengan Rama yang hari ini sudah tiba di Bali. Kami pun bermalam di sana tetapi tidak dengan Devi, ia harus pulang. Aku hanya diam saja pada malam hari dan berusaha untuk cepat memejamkan mata, tak sabar menunggu esok hari tiba.


Esok pagi kami pun bersiap untuk pergi ke Kuta. Seperti yang sudah aku janjikan, hari ini adalah pertemuanku dengan Rama setelah beberapa tahun kami tidak berjumpa. Aku sudah tak sabar menantinya. Perjalanan dari Kampus pun terasa lambat. Sopir taksi Online ini menjalankan mobilnya dengan lambat. Padahal jalanan disini sepi. Aku sudah tak sabar ingin menemui Rama, sudah ingin rasanya aku berada di dekatnya dan menghabiskan satu minggu ini bersamanya.


Aku teringat malam kemarin gejala penyakitku kambuh. Aku harus menyembunyikannya dari Rama, dia tidak boleh tahu akan hal ini, paling tidak untuk saat ini. Aku mengecek tempat obat-obatanku di dalam tas ransel dan isinya hanya untuk dosis satu hari saja. Aku harus membawanya terlebih dahulu. aku meminta kepada sopir untuk mampir dahulu ke Dieng No.40. Setelah tiba, aku langsung berlari dan nampak Allison pun ikut turun karena ia ingin menggunakan toilet.


Aku langsung pergi ke kamar tidur untuk membawa obat-obatanku yang aku simpan di Koper besar. Aku membawa semua persediaan obatku dan menyimpannya di tas kecil yang akan aku bawa setiap hari agar aku tidak lupa. Saat hendak pergi, kepalaku kembali merasakan pusing yang hebat. Kali ini terjadi secara mendadak dan membuat tubuhku seketika lemas dan lunglai. Aku terduduk di tempat tidur berusaha menenangkan diri dan tak lama Alex pun datang menghampiriku. Ia mengajakku untuk segera pergi karena teman-teman kami sudah menunggu. Aku ingin sekali pergi, tapi jangankan untuk berjalan, berdiri pun aku kesulitan karena ruangan ini terasa berputar-putar. Aku terjatuh terbaring.


“Are you ok Sinta?”Alex kaget melihatku terjatuh dengan wajah yang pucat. Ia keluar meninggalkanku dan tak lama kemudian datang kembali membawakanku segelas air. Ia mengatakan bahwa teman yang lainnya ia suruh untuk pergi duluan saja ke Kuta dan ia akan menemaniku disini hingga kondisi tubuhku membaik. Aku lalu meminum obat yang tadi aku ambil dan setelah itu kondisiku membaik. Aneh sekali, padahal aku sudah rutin meminum obat ini tetapi akhir-akhir ini gejalanya semakin sering kambuh. Aku harus memberitahukan Rama bahwa aku tidak jadi ke Kuta hari ini, tapi apa alasanku? Tidak mungkin aku memberitahukan hal ini padanya? Tidak untuk saat ini. Aku memberitahukan Rama bahwa aku tidak bisa ke Kuta hari ini, mungkin dia akan kecewa.


Alex tiba-tiba teringat bahwa di Denpasar ada Museum Bali yang ingin dia kunjungi. Aku menawarkan untuk mengantar Alex pergi ke Museum Bali. Meskipun ia menolak karena mengkhawatirkan kondisiku saat ini, tapi akhirnya dia pun setuju. Kami pun pergi ke Museum bali. Alex sangat gembira bisa mengunjungi tempat itu. Di tengah “Tour” Alex yang khusyuk mendengarkan penjelasan dari salah seorang pemandu disana, aku berjalan keluar karena Rama sudah berada di depan Museum. Sebelum berangkat, aku meminta agar Rama datang ke Dieng No.40 dan ia menyetujuinya.


Di luar Museum, aku melihat seorang pria yang selama ini aku impikan untuk bertemu, dia sedang duduk di sebuah motor matic, menungguku di terik matahari siang ini. Aku harus bersikap seperti biasa. Aku tarik napas dalam-dalam dan berjalan mendekatinya.


“Hai” kata itu yang Rama ucapkan padaku, sepertinya dia malu-malu, atau masih tak percaya aku, temannya dulu sekarang ada di hadapannya.


“Apa kabar Rama, kamu terlihat sama seperti dulu.” Aku tersenyum dilihat dari dekat, Rama memang tidak banyak berubah, dia tetaplah Rama dengan rambut ikal, hanya saja dia sekarang lebih tinggi dariku dan lebih dewasa. Aku tidak kuat jika berdiri di parkiran dengan matahari yang membakar kulitku. Rama sepertinya canggung untuk berbicara denganku dan hanya tersenyum saja. aku mengajak dia untuk mencari tepat untuk mengobrol.

Pixels

Kami tiba di sebuah restoran vegetarian, dan mengobrol lama. Meski awalnya canggung, lama-lama Rama berbicara panjang lebar. Sampai kami selesai pun kami terus berbincang dan aku rasa kami makin akrab. Rama sempat terlihat resah melihat aku mengajaknya ke restoran vegetarian, tapi setelah aku mengatakan yang sebenarnya, ia sepertinya merasa lega. Entah apa yang ada di pikirannya.


Alex menghubungiku dan menunggu di depan Kampus setelah mencariku yang hilang. Rama menawarkan untuk mengantarkanku tapi aku tidak bisa meninggalkan Alex sendiri. Jadi aku beritahu Alex agar mencari Taksi dan menjemputku disini. Rama menanyakan kemana besok aku akan pergi.


“Terserah kamu mau bawa aku kemana, Surprise me. Tunggu saja aku di Monumen. Ground Zero.”

“Ingat, Jam tujuh malam ya… dan Terima kasih untuk hari ini.” Jawabku sambari tersenyum.

Rama lalu berpamitan dan pulang. Tak lama Allison datang dan kami pun pulang ke penginapan.


Esoknya, aku dan Alex pergi ke Kuta. Kami tiba di hotel tempat teman kami menginap. Pagi itu aku hanya berdiam diri di hotel, tak sabar menunggu jam tujuh malam.


Sudah hampir jam tujuh, aku dan Alex keluar dan berjalan menuju Monumen Ground Zero, monumen yang mengingatkanku pada kejadian bom yang mengerikan. Tak lama kami pun sampai dan saat menuju kesana, kami bertemu dengan teman lainnya. Mereka mengajakku ke sebuah pub tapi aku menolaknya. Aku melihat Rama sudah berada menungguku. Aku melambaikan tangan mendekatinya.

“Kamu mau kemana malam ini?” Tanya dia.

“Entahlah, bawa aku kemana saja.” Jawabku sambil mengambil helm yang dipegangnya dan menunggu di motor yang ia parkirkan tak jauh dari sana. Dia membawaku ke pantai kuta dan kami berjalan di pesisir pantai. 


Aku mengajaknya ke sebuah café dan memesan minuman disana. Kami duduk di luar untuk menikmati deburan ombak malam. Aku merasa senang bisa ada di dekatnya dan tanpa sadar aku menyandarkan kepalaku di pundaknya.

“Indahnya malam ini.” Ucapku.

Dia hanya melihatku dan kembali menatap lautan yang gelap.


“I have something for you. Tommorow, we should meet again at this place.” Ucapku.“Aku juga punya sesuatu untukmu. Besok jam empat sore. Kita bertemu di Ocean 360.” Dia menjawab.Apa? Dia juga punya sesuatu untukku? Aku sebenarnya tidak akan memberi apa-apa. Aku hanya akan meminta dia untuk jadi pacarku. Karerna setelah selesai kuliah, aku berencana akan kembail ke Jakarta. Aku beranjak dan mengangguk. Aku jadi penasaran apa yang akan dia berikan padaku.


Kemudian kami pulang dan dia mengantarku ke hotel. Untung kunci kamar aku yang pegang. Temanku belum pulang dan aku sepertinya akan langsung tidur. Kepalaku pusing, aku mencoba menidurkan tubuhku untuk meredakannya. Tapi tetap saja, tubuhku mulai lemas dan aku terjatuh di tempat tidur. Kasur ini bau amis, apa ada bangkai hewan disini? Aku berusaha bangun dan mencari sumber bau amis itu. Aku terkejut ada noda merah di kasur dan di bajuku. Hidungku berdarah, kepalaku seperti dipukul sesuatu dan itu menyiksaku. Aku mengobrak-abrik tas dan mencari obatku. Aku mencari kemana-mana dan itu tidak ada. Aku hanya menemukan sebuah wadah yang kosong, obatku hilang. Sepertinya aku menjatuhkannya entah dimana.

Aku menangis, aku tak tahu harus bagaimana, aku mencoba menelepon temanku tapi tidak ada yang menjawabnya. Aku tidak mau menghubungi Rama, aku tidak bisa memberitahukannya sekarang. Kepalaku semakin sakit dan aku hanya terbaring di lantai dan penglihatanku mulai kabur dan semuanya gelap.


Aku terbangun di ruangan yang serba putih dan sepertinya ini bukan hotel. Aku melihat ternyata hidungku dipasang sebuah selang dan tangan kiriku juga terpasang selang infus. Ketika aku melihat sekitar, nampak ayah tersenyum melihatku siuman. Alex juga terlihat ada disana dan sepertinya senang melihatku. Aku masih lemas dan tidak bisa berbicara. Kemudian ada seorang perawat yang mendatangiku dan memeriksaku. Mereka tampak bukan orang Indonesia, dari wajahnya itu jelas bahwa perawat yang mendatangiku adalah orang asing. Dia berbicara dengan ayahku menggunakan bahasa inggris dan terlihat di pakaiannya ada tulisan Sydney.


Ayahku segera menggenggam tanganku. “Tenang saja, kamu akan sembuh. Kita sudah berada di tempat yang tepat.” Ucapnya. “Sebentar lagi ibu akan datang, dia sedang di perjalanan.” Tambahnya.Aku kembali terpejam, tampak samar-samar terdengar suara ayah berteriak dan beberapa orang masuk ke dalam ruanganku. Lambat laun suara itu mulai memelan dan hilang.Aku terbangun di suatu tempat, aku berdiri dan disana nampak Rama sedang menungguku dengan membawakan seikat bunga mawar putih. 


Aku menghampirinya namun ia menatapku dengan tatapan kosong. Aku mencoba menggenggam tangannya tapi tangannya tak bisa kugenggam. Aku terbang melayang meninggalkannya lambat laun makin menjauh, terlihat dia menoleh keatas sambil tersenyum melihatku menjauh darinya. Aku hanya bisa meneteskan air mata.


Frederikus Suni
Frederikus Suni Hello pembaca Tafenpah...! Salam kenal dari saya Fredy Suni ya. Selamat membaca!! Terkait kerja sama bisa melalui email tafenpahtimor@gmail.com || || Instagram: @Literasi_Tafenpah

Posting Komentar untuk "Janji yang Pudar"