Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tradisi Famahea Niowalu Dalam Budaya Nias

Ilustrasi gambar dari KabarNias.com

Bila berkunjung ke daratan Pulau Nias, belum lengkap rasanya bila hanya mengunjungi desa Bawömataluo di Nias Selatan yang terkenal dengan atraksi hombo batu atau menikmati surfing di pantai Sorake dan Lagundri. 


Salah satu daya tarik dari Pulau Nias yang juga wajib untuk disaksikan ialah pesta pernikahan adat Nias, khususnya tradisi famahea ni’owalu. Bagi orang Nias sendiri, hal ini merupakan moment yang ditunggu-tunggu dan menarik untuk diikuti. 


Postinus Gulo, seorang Pastor Katolik, dalam bukunya yang berjudul: Böwö dalam Perkawinan Adat Öri Mörö’ö, mengatakan bahwa: “famahea ni’owalu  ialah penghantaran pengantin perempuan dengan cara ditandu oleh beberapa orang. Hal ini dilakukan ketika pengantin perempuan dihantar ke rumah pengantin laki-laki. 


Niassatu.com

Caranya ialah menyediakan sebuah kursi yang kuat, selanjutnya bagian bawah atau samping dari kursi tersebut, diikat dengan bambu.  Setelah pengantin perempuan duduk di atasnya, empat atau lima orang yang bertugas sebagai samahea atau pemandu mengangkat kursi lalu berarak pulang menuju rumah pengantin laki-laki.


Sementara ditandu, mempelai perempuan tak henti-hentinya menangis dan sedih karena harus meninggalkan orang tua dan kampung halamannya. Pengantin perempuan dengan bercucuran air mata melambaikan tangan untuk terakhir kalinya sebagai pertanda selamat berpisah yang dibalas oleh keluarga mempelai perempuan dengan lambaian tangan juga dan ucapan “dai-dai balala he”  yang berarti hati-hati di jalan. Namun, di balik air mata yang jatuh, ada kebahagiaan dan kebanggaan dalam diri seorang ibu yang melihat anaknya ditandu dan diarak layaknya seorang ratu. 


Famahea Ni’owalu mengandung makna sakral yang sangat dijunjung tinggi dalam masyarakat Nias. Famahea ni’owalu bisa menjadi simbol keagungan dan kehormatan si pengantin perempuan dan keluarganya. Dengan demikian, famahea ni’owalu menjadi simbol paling sederhana. Namun, powerful untuk menunjukkan kepada publik bahwa si pengantin ‘bersih’ dan layak dihormati/dijunjung/ditinggikan.


Tantangan zaman yang semakin berkembang juga mempengaruhi budaya famahea ni’owalu dalam budaya Nias. Tradisi Famahea Ni’owalu kerap hanya menjadi pelengkap dalam sebuah acara pernikahan, dimana pengantin perempuan hanya ditandu dari rumah mempelai perempuan menuju ke mobil pengantin yang sudah disiapkan. 


Praktik semacam ini kerap mengaburkan makna luhur dari tradisi famahea ni’owalu itu sendiri. Dengan demikian, adalah sebuah tugas mulia bila semua orang tetap mempertahankan nilai-nilai luhur dan tradisi yang sudah diwariskan oleh para nenek moyang sebagai sebuah kebanggaan dan kekhasan yang unik dari yang lain. Ya’ahowu.



Penulis Tafenpah: Ignasius Harefa
Mahasiswa asal Nias


Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News, NTTBANGKIT.COM. Pernah kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta. Lembaga Komunikasi dan Informasi (LKI) Partai Golkar DPD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Posting Komentar untuk "Tradisi Famahea Niowalu Dalam Budaya Nias"