Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Apakah Menjadi Penulis Itu Istimewa?

Ilustrasi gambar dari idntimes.com

Profesi penulis di era revolusi industri 4.0 sangat istimewa. Keistimewaan seorang penulis adalah relasi yang tidak dibatasi oleh latar belakang apa pun.


Selain relasi, menjadi seorang penulis adalah profesi yang paling diincar oleh banyak orang di tengah Pandemi Covid-19. Pandemi Covid-19 mengharuskan kita untuk melakukan kegiatan apa pun dari rumah. Selama di rumah, tentunya kita akan merasa jenuh, bosan, mumet dengan keadaan yang monoton. So, banyak orang yang mengalami stres, depresi akan keadaan yang tak kunjung membaik.


Keadaan batin yang tidak sehat menyebabkan banyak masalah pada keseharian kita. Di mana kita bisa menjadi pengganggu bagi orang lain. Misalnya, kita stres, depresi, marah, jatuh cinta, lalu kita bertindak frontal. Akibatnya tanpa sadar kita melukai sesama. Tapi, seorang penulis tidak akan mengalami hal demikian.


Kok bisa sih, emangnya apa keistimewaan dari penulis? Istimewanya menjadi penulis adalah ketika kita marah, jatuh cinta dan stres, menulis adalah jalan satu-satunya. Selain melepaskan unek-unek, hasil tulisan kita bisa dibaca oleh banyak orang. Nah, itulah cara berbagi seorang penulis.


Menulis adalah panggilan jiwa. Bila jiwa atau keadaan batin kita tidak tenang, maka kita akan lari kepada kegiatan menulis. Karena tempat curhat terbaik kita adalah mengolah aksara. Diksi-diksi kerinduan akan selalu menemani kita dalam keadaan apa pun.


Sobat, barangkali kamu belum menemukan nikmatnya berkencan dengan dunia aksara. Bila kamu sudah menikmatinya, saya yakin kamu akan ketagihan. Ketika kamu sudah memasuki fase kecanduan, kamu akan melupakan segala hal yang selalu mengganjal di dalam benak pikiranmu.


Setinggi apa pun ilmu yang kita miliki, tidak akan berguna, bila kita tak berbagi kepada orang lain. Berbagi bukan hanya soal materi, melainkan berbagi pengetahuan melalu tulisan.


Meracik aksara, membangkitkan adrenalin kita untuk terus menelanjangi akal sehat (common sense) kita dalam situasi apa pun. Daripada akal sehat kita gunakan untuk menghakimi sesama, mendingan kita gunakan akal sehat untuk mengedukasi sesama dan dunia melalui hasil karya kita.


Sobat, menulis juga kita bisa mendapatkan pundi-pundi rupiah loh. Ya, bila kita rajin menulis di salah satu portal media online, hasil tulisan kita akan diganjal dengan uang. Selain menulis di portan media online, kita bisa menulis novel, dan karya tulis yang lainnya. Karena profesi penulis tidak akan pernah kesepian jobs. 


Menulis juga membawa kita pada kepuasan batin. Hmmmm, emang menulis bisa memberikan kepuasan batin? Ya tentu saja bisa sobat. Asalkan kita menulis tidak ada paksaan dari orang lain.


Menulis adalah bagian dari pengembangan literasi bangsa kita. Karena sebagai generasi milenial, tugas utama kita adalah bisa memberikan warna tersendiri kepda bangsa tercinta. Menulis adalah pekerjaan yang tidak pernah mengenal masa pensiun. Karena menulis itu kita bekerja untuk dunia keabadian kat Pramoedya Ananta Toer.


Salam tafenpah 


Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News, NTTBANGKIT.COM. Pernah kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta. Lembaga Komunikasi dan Informasi (LKI) Partai Golkar DPD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

2 komentar untuk "Apakah Menjadi Penulis Itu Istimewa?"