Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Apa Yang Kamu Berikan Untuk Negara di Bulan Sastra Indonesia 2021?

 

Ilustrasi gambar dari kalderaNew.com


“Utamakan Bahasa Indonesia”

“Lestarikan Bahasa Daerah”

“Kuasai Bahasa Asing”


Tak terasa kita sudah memasuki bulan bahasa nasional di Oktober ini. Oktober dikatakan sebagai bulan bahasa karena merujuk pada semangat Sumpah Pemuda yang kita peringatin setiap tanggal 28 Oktober.


Berawal dari Kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928 yang berisikan tiga poin yakni


“ Kami Putra dan Putri Indonesia bertanah air satu yakni tanah Indonesia”

“Kami Putra  dan Putri Indonesia berbangsa satu yakni bangsa Indonesia”

“Kami Putra dan Putri Indonesia berbahasa satu yakni Bahasa Indonesia.”


Apakah kita bangga bertanah air Indonesia? Pertanyaan sederhana tapi membutuhkan jawaban yang jujur dari hati kita. 


Sobatku, jika kita bangga dengan tanah air kita, mengapa harus ada provokator? Mengapa harus ada perpecahan di antara kita?  Mengapa sampai kini masih ada oknum tertentu yang selalu berjiwa intoleransi?


Pertanyaan-pertanyaan dasar di atas sebagai rujukan bagi kita untuk berefleksi akan kecintaan kita terhadap NKRI.


Karena pionir atau pendiri bangsa ini sangat mencintai perbedaan. Perbedaan itu indah dan unik bukan menjadi pisau bermata dua. Di mana yang satu tajam ke bawah dan yang satu tumpul ke atas.


Miris ketika saya melihat saudara-saudaraku diadu-dombakan oleh penyembah “DEMAGOGI.” Apa itu demagogi? Demagogi adalah orang-orang berintelektual tapi sayangnya, mereka tidak memiliki akses di salah satu lembaga ataupun institusi tertentu.


Sebagai langkah untuk mencapai tujuan mereka, tak ada jalan lain selain memanfaatkan jasa massal untuk mengadakan demo, berteriak di jalanan, berkicau ria di media sosial dan ikut menyalahkan pemimpin yang berkuasa di lingkungan tertentu. Baik dalam skala lokal, nasional maupun internasional.


Sebagai contoh nyata adalah kondisi terkini di Papua. Perpecahan yang dimotori oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM) itu adalah bagian dari skenario para elit tertentu yang bekerja sama dengan pihak global untuk terus menciptakan kekacauan di bumi Papua. Efeknya pun sangat berpengaruh bagi tanah air Indonesia.


Kasus-kasus lain pun kita bisa lihat di daerah kita. Yang sering kali ada tindakan anarkis dari sekelompok orang untuk mencapai tujuannya. Padahal dalam etika, untuk mencapai sesuatu tidak boleh menggunakan cara yang tidak baik.”


Utamakan Bahasa Indonesia, lestarikan Bahasa Daerah dan Kuasai Bahasa Asing

Ilustrasi gambar dari Cafeberita.com

Sebagai bangsa yang besar dengan kekayaan ribuan pulau, suku, ras, kepercayaan, serta SDM dan SDA kita seharusnya disegani oleh dunia internasiol. Bukannya kita mudah disetir oleh bangsa lain.


Kekayaan-kekayaan di atas hanya bisa disatukan dalam komunikasi searah. Artinya, bahasa Indonesia merupakan bahasa pemersatu bangsa ini. Melalui bahasa Indonesia, kita tahu komunikasi dengan suku maupun ras lain.


Jembatan komunikasi ini menciptakan kerja sama antar individu dalam membangun daerahnya dan berakhir pada skala nasional.

Di samping kita berbahasa Indonesia, ada ribuan kekayaan bahasa daerah kita yang perlu juga kita lestarikan. 


Melestarikan bahasa daerah merupakan bagian dari restorasi rasa dan pikiran yang menyatu dalam sense of life (kecintaan akan hidup) maupun sense of being (keberadaan) kita sebagai mahkluk berbudaya.


Bahasa daerah kita adalah bagian dari filsafat kebudayaan. Karena bahasa adalah simbol pemersatu. Untuk itu, tidak ada alasan bagi kita, selain terus mengkampanyekan atau melestarikan bahasa ibu kita.


Lebih jauhnya, kita harus mengikuti perkembangan zaman. Termasuk menguasai bahasa asing. Karena negara kita menjadi pusat perhatian dunia dari aspek apa pun.


Sebagai pusat dunia, kita akan selalu bersentuhan dengan pendatang dari bangsa lain. Nah, cara untuk berkomunikasi dengan mereka adalah melalui bahasa asing, terutama bahasa Inggris.



Bagaimana sumbangan kita di bulan bahasa ini?

Buku Jejak Aksara karya Fredy Suni

Entah apa pun profesi kita saat ini, kita semua memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk memajukan bangsa Indonesia dari aspek apa pun.


Mantan presiden Ameriak Serikat ke-35, John F Kennedy mengatakan; “Jangan tanyakan apa yang negara berikan kepadamu. Tapi, tanyakan kepada dirimu, apa yang sudah kamu berikan untuk negara.”


Terkait dengan cara kita memeriahkan bulan Sastra Indonesia tahun ini, kita cukup meningkatkan budaya membaca.


Kita boleh membaca apa pun. Karena dengan membaca kita tahu sejarah dari pendiri bangsa ini. Selain itu, kita pun ikut memberikan sumbangan kecil bagi peningkatan minat baca Indonesia.


Sobatku, selamat merayakan bulan Sastra Indonesia tahun 2021






Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News, NTTBANGKIT.COM. Pernah kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta. Lembaga Komunikasi dan Informasi (LKI) Partai Golkar DPD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Posting Komentar untuk "Apa Yang Kamu Berikan Untuk Negara di Bulan Sastra Indonesia 2021?"