Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menikmati Lensa Malam Kota Metropolitan Jakarta

Lensa malam kota metropolitan Jakarta

Hai sobat Tafenpah, di episode kedua ini, saya akan kembali mengisahkan dramatisasi kehidupan malam kota metropolitan Jakarta.


Jakarta adalah gudang nostalgia bagi perantau. Kehidupan malam kota Jakarta sangat indah. Dan surganya Jakarta kita bisa saksikan pada malam hari.

Ilustrasi gambar oleh: Merahputih.com

Karena sepanjang perjalanan, sejauh mata memandang, segalanya sangat menakjubkan. Hujan kelap-kelip serta bunyi klakson moda transportasi ikut memberikan kenikmatan tersendiri bagi setiap orang.


Memotret Rindu Untuk Bercerita di Hari Tua

Seminggu yang lalu, saya, Handri, Ory, Adri dan Bung Gusty Lake beserta keluarga ikut merayakan pesta pernikahan saudara sepupu kami di Cileungsi (Jawa Barat). 


Perayaan sakral berlangsung dengan sangat sederhana. Rombongan saya tiba pada malam hari. Setelah menikmati hidangan malam, Handry Nule sibuk berdansa bersama nona-nona Malaka, NTT.


Sementara, Ory Oki sibuk melepaskan rayuan maut kepada salah seorang nona manis asal Malaka juga.


Arah jarum jam tanganku menunjukkan pukul 2.30 WIB, kami berpamitan dengan sang mempelai, lalu berkonvoi dari arah Cileungsi (Jawa Barat) kembali ke Jakarta.


Malam itu, bung Gusty berperan sebagai “tour guide” atau penunjuk jalan. Maklum kami belum menguasai setiap sudut-sudut kota metropolitan Jakarta.


Perjalanan malam yang sangat melelahkan. Namun, rasa capek, ngantuk seketika terbayar lunas, ketika kami bersantai ria di depan gedung MPR RI.


Sembari menikmati secangkir kopi hangat, kami mengabadikan momentum itu dengan swafoto. 


Foto, video dan tulisan adalah dokumentasi yang paling otentik (asli) untuk bercerita di hari tua.


Sang pelaut ulung , Ory Oki merangkap tugas sebagai fotografer dadakan. Dan hasil jepretannya pun memiliki kualitas yang kurang lebih serupa dengan jepretan fotografer nasional dan internasional Bung Tonny Syiariel (rekan kompasianer).


Bukan hanya itu saja, sang bidadari Adri pun ikut nyimplung menjadi kameramen dadakan. Begitu pun dengan Hadri dan saya.


Kami semua ikut terlibat dalam pendokumentasian tersebut. Bejibun gaya “welcoming atau selamat datang, salam dua jari, gaya patung pun kami peragakan, bak model papan atas negeri ini di depan “audiens atau penonton.


Sayangnya, malam itu, kami berperan sebagai model, produser sekaligus audiens. Komposisi nada kerinduan ini pun merambah ke jantung semesta.


Alam semesta terpaku menatap kegembiraan kami di depan gedung MPR RI. Beruntung, kami bukanlah pemilik suara “demagogi” atau orang yang meminjam suara rakyat untuk berteriak di depan gedung MPR. Gegara satu dan lain hal terkait dengan urusan politik.


Spiral waktu pun terus berputar, kami meneruskan perjalanan menuju kontrakan di Kapuk Pulo, Cengkareng, Jakarta Barat.


Euforia itu masih ada di setiap tikungan. Apalagi track lurus daerah Jelambar. Spidometer motor ikut menjerit di angka 80-100 km.


Perlahan tapi pasti, hujan kelap-kelip malam kota Metropolitan hilang bersama embun pagi yang sudah mulai bertebaran di sepanjang halaman kontrakan.


Sobatku, demikian potretan lensa malam kota metropolitan. Terima kasih untuk kehadiranmu di rumah Tafenpah.


Jakarta, 25 Agustus 2021






Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta

6 komentar untuk "Menikmati Lensa Malam Kota Metropolitan Jakarta"