Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sudahkah Kita Mengapresiasi Diri Sendiri?

Grid.id


Kita cenderung mengapresiasi keberhasilan orang lain, ketimbang diri sendiri. Padahal, secara psikologi, kita membutuhkan “self reward/penghargaan terhadap diri sendiri. Tujuan dari self reward adalah kita memanjakan diri dan memberikan ruang kepada diri kita untuk ikut merasa senang atas pekerjaan yang kita lakukan.


Kebanyakan dari kita sulit untuk memberikan self reward kepada diri sendiri. Termasuk saya. Hal ini memberikan tren negatif/kemunduran bagi semangat pelayanan kita.


Seorang mahasiswa yang mendapatkan IPK cum laude, tentu akan diapresiasi oleh dosen dan staffnya. Selain itu, kita pun ikut bangga dengan prestasi yang diraih oleh rekan kita di dunia akademik.


Tanpa sadar, kita telah menciptakan jurang kemarahan bagi diri sendiri. Akibatnya, kita tak pernah merasa cukup dan puas dengan diri sendiri. Kita hidup dalam apa kata orang. Bukan tentang apa yang kita miliki.


Dampak negatif dari perlakukan negatif terhadap diri berakibat pada mentoknya kreativitas dan semangat kita. Kita terus merasa rendah diri. Padahal kita punya waktu dan potensi untuk menjadi lebih baik dari rekan mahasiswa kita.


Lantas, faktor apa yang mempengaruhi seseorang untuk membenci dirinya sendiri?

Faktor yang paling penting adalah masalah “mindset/pikiran.” Apa yang kita pikirkan itulah yang akan kita hidupi. 


Jika kita hidup dalam irama pesimis/tidak percaya diri. Kita pun akan terus dikejar dengan rasa penyesalan. Akibatnya, hidup kita stagnan (terjebak) di tempat. Sementara orang yang  hidup dalam irama optimis terus berlari mengejar impiannya.


Secara dewi fortuna (keberuntungan), orang yang optimis akan segala sesuatu memiliki potensi kesuksesan lebih besar draipada mereka yang selalu pesimis (tidak percaya diri) dalam kehdiupan setiap hari.



Tentu kita tidak bisa menyalahkan keberhasilan orang lain. Yang perlu kita rekonstruksi/perbaiki adalah cara pandang kita.


Nah, salah satu cara yang tepat bagi kita untuk menjadi versi terbaik diri sendiri adalah “kenali diri.”


Kenali Diri Sendiri

Jika pembaca tafenpah ada yang pernah bersentuhan dengan ilmu filsafat, tentu kita tidak merasa asing dengan “know your self?kenalilah dirimu.”


Para filsuf Yunani kuno di salah satu gua pernah tertulis kalimat afirmasi demikian,” kenalilah dirimu sendiri.


Mengenali diri berarti kita siap untuk menerima kelebihan dan kekurangan diri sendiri. Tentu untuk menerima kelemahan diri sendiri itu sulit. Akan tetapi, jika orientasi/tujuan kita untuk transformasi (pembaharuan), apa pun kesulitan yang kita temui di sepanjang jalanan aspal akan kita singkirkan di bawah semangat mengenali diri.


Melepaskan Prasangka

WinNetNews.com


Orang yang hidup dalam kacamata prasangka tidak akan pernah merasa bahagia. Meskipun dalam etika nicomache filsuf Plato mengatakan,” tujuan tertinggi dan terkahir dari kebahagiaan manusia adalah kebahagiaan.”


Maka, saya pun memunculkan pertanyaan baru lagi untuk pembaca tafenpah.  


Model kebahagiaan apa yang sedang kamu kejar?


Tentu kita semua ingin merasa bahagia dalam kehidupan. Akan tetapi, apa yang kita impikan, belum tentu berjalan dengan rencana kita. Kecuali kisah romantis di pinggir menara Eiffel Prancis dalam karya novel yang terdengar romantis dna melankolis.


Takaran/ukuran kebahagiaan setiap orang itu berbeda. Ada yang cukup menikmati keluarga yang sederhana. Tapi, tetap aman dalam kondisi apa pun. Ada yang mengumpulkan banyak materi. Tapi ia sendiri merasa kesesakan dengan materi tersebut. Ada yang menyelesaikan pekerjaan dari bosnya sesuai dengan deadline yang telah ditentukan. Dan masih banyak lagi model kebahagian sesuai dengan karakter setiap orang.


Bagi saya model kebahagiaan itu sederhana yakni ingin memberikan self reward/penghargaan terhadap diri sendiri atas apa yang telah saya kerjakan.


Ketika saya keras terhadap diri sendiri, tentu penderitaan psikislah yang saya dapatkan. Untuk itu, saya selalu berusaha untuk selalu mengapresiasi diri dengan bermanja-manjaan. Meskipun kebanyakan terlalu forsir tenaga. Akibatnya saya sendiri tepar dengan rasa sakit itu.


Terakhir, saya berharap pembaca tafenpah bisa menemukan model kebahagiaan untuk selalu memberikan self reward/penghargaan terhadap diri sendiri.


Sekian dan semoga artikel ini bermanfaat untuk kamu.


Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News, NTTBANGKIT.COM. Pernah kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta. Lembaga Komunikasi dan Informasi (LKI) Partai Golkar DPD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Posting Komentar untuk "Sudahkah Kita Mengapresiasi Diri Sendiri?"