Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pada Masanya Egy Lake dan Fance Kolo Toben Uik No'o

Fance Kolo dan Egy Lake toben uik no'o. Ilustasi foto oleh Agusardhy

Semakin kita mengetahui ilmu pengetahuan dan teknologi, kenangan akan masa kecil pun kembali hadir dengan sendirinya. Seolah-olah alam bawah sadar kita sudah terkoneksi untuk menghadirkan kembali kenangan masa kecil, setiap kali kita melihat objek (benda) tertentu di sekeliling kita. Salah satu objek (benda) yang paling dikenang oleh Egy lake dan Fance Kolo adalah u’ik no’o (daun pisang).


Pada umumnya, daun pisang (uik no’o) biasanya dipakai untuk membungkus makanan. Tujuannya untuk meningkatkan cita rasa dari makanan tertentu. 


Akan tetapi, fungsi daun pisang (uik no’o) bagi Egy Lake dan Fance Kolo adalah dijadikan sebagai tempat untuk berteduh.


Awan pagi masih menutupi sebagian kampung Haumeni, Bikomi Utara, TTU-NTT. Pagi itu pun hujan lebat. Maklum musim hujan masih melanda kampung Haumeni dari akhir Desember hingga akhir Mei.


Durasi musim hujan yang panjang telah memaksa Fance Kolo yang tidak memiliki payung untuk menggunakan uik no’o (daun pisang) sebagai payung alami.


Egy Lake yang rumahnya di persimpangan 4 ob to’kof pun mengikuti gaya Fance Kolo. Mereka berdua berbagi rasa dengan menggunakan uik no’o menuju SDK Haumeni.


Sepanjang turunan upu belo, sebagian seragam mereka sudah basah. Namun, mereka memaksa untuk meneruskan perjalanan menuju ke sekolah untuk mencari ilmu. 


Paulus Lake yang waktu itu meminjam payung Isto Siki pun rusak. Gegara angin puting beliung di pagi itu. Ia pun memutuskan untuk menggunakan daun pisang yang diambil dari Us Fone Upu Belo yang terkenal keganasannya pada zaman itu.


Uik No’o melambangkan kesederhanaan


Puluhan generasi Haumeni pernah melewati kisah yang di atas. Uik no’o secara filosofi melambangkan kesederhanaan generasi Haumeni dengan alam.


Generasi Haumeni begitu dekat dengan alam. Bahkan uik no’o bisa digunakan dalam setiap situasi. Entah musim hujan atau pun musim panas yang mencapai 38-40 derajat Celcius di pulau Timor.


Toeb uik no’o (daun pisang dijadikan sebagai payung) telah melahirkan generasi Haumeni untuk lebih peduli pada lingkungan.


Anak-anak Haumeni tidak pernah studi tentang ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan JPIC (Justice, Peace, Integration of creation). Namun, kecintaan dan kedekatan mereka dengan alam adalah bagian yang patut diapresiasi oleh semua orang.


Entar aktor utama yang menggunakan daun pisang sebagai payung itu siapa? Kapan? Di mana?. Itu tidaklah penting bagi generasi Haumeni. Terutama Egy Lake dan Fance Kolo.


Anak-anak Haumeni hidup dari alam, makan dari alam, berteduh di alam, tidur di alam dan meninggalkan kembali kepada alam. Hubungan emosional ini seirama ungkapan filsuf Baruch de Spinoza yang memandang satu substasi yang sama dan satu yakni alam semesta dalam kehidupan manusia.


Hal ini menandakan bahwasaanya setiap orang itu hidup dari alam dan pada waktunya akan kembali kepada alam.


Pesan dari Egy Lake

Teruntuk generasi Haumeni yang saat ini berada di mana pun, jangan sekali-kali melupakan sejarah masa kecil kita yang penuh dengan kisah dramatis di bawah payung uik no’o.


Meskipun kehidupan kita kini berbeda dan terpisah-pisah. Namun, kita memiliki satu kesamaan sejarah yakni toeb uik no’o (Payung yang menggunakan daun pisang).


Ir. Soekarno mengatakan bahwa “Jas Merah; jangan sekali-kali melupakan sejarah.” Melupakan sejarah masa kecil sejatinya adalah kesombongan hakiki.


Terima kasih untukmu pembaca tafenpah budiman, saya menantikan kisah-kisah heroik dan dramatis serta keunikan dari setiap kebudayaan nusantara.


Salalam Tafenpah


Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta

Posting Komentar untuk "Pada Masanya Egy Lake dan Fance Kolo Toben Uik No'o"