Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Nadiem Makarim: Mahasiswa Harus Berenang di Laut!

Presiden Joko Widodo dan Kemendikbud - Ristek, Nadiem Makarim membahas Kampus Merdeka. Foto Lukas-Biro Pers Sekretariat Presiden


Kementerian Pendidikan, Kebudayaan - Riset dan Teknologi (Kemendikbud-Ristek): Nadiem Makarim,”Mahasiswa itu harus berenang di laut, bukan hanya mampu berenang di kolam sendiri.”


Sadar ngak sadar, kita cenderung memilih untuk berenang di kolam, ketimbang di laut. Karena kadar tekanan air yang berada di kolam tidak begitu menantang, saat kita memilih untuk menceborkan diri di lautan lepas.


Kemendikbud – Ristek, Nadiem Makarim bersama Presiden Joko Widodo (Jokowi) membahas “Program Kampus Merdeka.” Tujuan dari Kampus Merdeka adalah membebaskan mahasiswa dan dosen dari sekat-sekat sosial dan apa pun yang selama ini menjadi penghalang kreativitas sumber daya manusia Indonesia. (15/6).


Dilansir dari detik.com, salah satu sekat mahasiswa dan dosen adalah sosial akademik, antara industri, riset dan pembelajaran, Selasa (15/6//2021).


Signal yang diberikan oleh Nadiem dan Jokowi menjadi penyemangat bagi mahasiswa dan dosen, terutama dalam menajamkan ilmu pengetahuan di berbagai universitas di dalam negeri maupun di luar negeri.


Faktor penghambat Kampus merdeka


Salah satu masalah serius yang dialami oleh mahasiswa adalah ketakutan untuk berenang di laut. Laut di sini sebagai metafora (perbandingan) kampus sendiri.


Alasan mahasiswa memilih kampus sendiri adalah kenyamanan. Ketika mereka berada di kampus sendiri, tentu mereka tidak akan bersentuhan dengan situasi dan kondisi (sikon) baru yang pastinya menguras emosi.


Akan tetapi, ketika mahasiswa diberikan ruang untuk mencicipi situasi di luar kampusnya, mereka pasti akan bersentuhan dengan “culture shock.”


Apa itu “culture shock?


Culture shock adalah situasi di mana seseorang memasuki geger budaya (kekagetan). Kita cenderung memilih berada di zona nyaman, ketimbang harus berjibaku dengan situasi dan pengalaman baru.


Mahasiswa yang takut untuk keluar dari kampusnya sejatinya tidak layak di era digital. Karena perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) harus dimanfaatkan oleh setiap orang.


Pemerintah melalui Kemendikbud – Ristek telah memberikan opsi/pilihan yang tepat bagi mahasiswa untuk mengembangkan softskill maupun hardskill di luar kampusnya sendiri.


Akan tetapi, semua ini dikembalikan kepada mahasiswa untuk memilih. 


Manfaat lain dari Kampus Merdeka


Adanya pemerataan akses pendidikan yang baik bagi setiap mahasiswa. Selain itu, mahasiswa juga bisa memiliki kesempatan untuk terjun langsung di lapangan. 


Jadi, ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan selama di kampus, mereka juga langsung menerapkannya (mengaplikasikan) di dunia nyata.


Peluang emas

Program Kampus Merdeka adalah pilihan tepat dan efektif bagi mahasiswa untuk menantang dirinya berenang di lautan lepas.

Pelaut yang tangguh sudah diuji oleh angin dan ombak ganas di tengah samudera perairan lautan. Begitu pun dengan mahasiswa yang mengambil program emas ini.


Kesempatan tidak datang untuk kedua kalinya. Jangan sampai penyelasan selalu mengejar kamu di hari esok dan lusa sobatku.


Salam literasi


Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta

6 komentar untuk "Nadiem Makarim: Mahasiswa Harus Berenang di Laut!"