Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kolaborasi Mentok, Rekan Penulis Milenial Kecewa

(Senna Simbolon rekan penulis milenial)


Dunia milenial itu penuh dengan drama kehidupan. Seakan-akan dramatisasi kehidupan kian tak menentu, kapan berakhirnya. 


Kehilangan adalah hal yang paling menakutkan bagi setiap orang. Terutama generasi milenial. Ada yang kehilangan orang-orang yang dicintainya. Kehilangan harapan, masa depan, tempat tinggal, barang berharga hingga kena blokir dari rekan penulis sendiri.


Hmm, menarik ya untuk mengulik kisah persahabatan milenial. Berbicara mengenai milenial, tentu kita harus tahu arti dan latar belakang dari kata milenial.


Milenial

Milenial biasanya disebut sebagai generasi Y. Kelompok ini lahir pada tahun 1980 hingga akhir 2000-an. 

Sebagian besar penguasa teknologi saat ini adalah generasi milenial. Teknologi adalah teman perjalanan mereka. Ke mana mereka melangkah, di situlah ada teknologi. Sekadar catatan tambahan bagi pembaca tafenpah.


Persahabatan Antar Penulis

Kisah persahabatan milenial, teruntuk penulis itu sangat unik. Sekitar 7 bulan yang lalu, saya kehilangan seorang sahabat yang juga berprofesi sebagai penulis. Sebut saja namanya Senna Simbolon atau biasanya disapa Senna.


Kisah perkenalan kami berawal dari penerbitan buku novel perdana saya di Inspo Creative. Saat itu, Senna mengikuti lomba yang diadakan oleh penerbit sendiri. Puji Tuhan, Senna berhasil masuk 5 besar dari sekian ratus penulis.


Itulah kebanggan tersendiri bagi Senna, apalagi saat itu ia masih berstatus sebagai mahasiswi tingkat akhir, Prodi Ilmu Perpustakaan di Universitas Sumatera Utara (USU).

Torehan prestasi itu ikut melambungkan namanya di penerbitan Inspo Creative sekaligus rekan mahasiswinya. Saya pun menawarkan kerjasama untuk projeck kolaborasi.


Kolaborasi yang kami garap adalah seputar kearifan lokal budaya setempat. Di mana saya menulis tentang budaya Timor. Sedangkan Senna menulis tentang budaya Batak, Sumatera Utara.


Kami sangat antusias untuk menyukseskan projek tersebut. Senna pun membuat list atau jadwal minimal 2 Minggu sekali saling bertukar artikel untuk dikoreksi. Target kami selesai pada akhir September 2020. Namun, seiring dengan berjalannya waktu,  entah mengapa saya ada perasaan untuk Senna.


Saya jujur mengatakan perasaanku kepada Senna. Meskipun ia sudah memiliki pacar. Anggap saja ini sebagai hiburan bagi pembaca tafenpah.


Tuhan tahu apa yang kita butuhkan, bukan tentang apa yang kita inginkan


Memang apa yang kita rencanakan, belum tentu berjalan sesuai dengan jadwal yang sudah ditetapkan dengan kalkulasi matematis. 2 Minggu pertama Senna menagih artikel saya untuk dikoreksi. Saya mengulur waktu 2 Minggu ke depan. Tak masalah mas. Kata Senna.


Semakin lama saya menunda Senna sudah merasa jengkel dan ilfeel dengan ucapan saya. Ditambah lagi dengan ungkapan perasaanku, makin memperkeruh situasi. Apalagi beban skripsinya harus diselesaikan pada bulan yang sama pula.


Rentetan peristiwa kecil itu ikut mengaburkan motivasi kami untuk kolaborasi mega proyek bagi saya dan Senna. Namun, apa boleh buat, apa yang kita butuhkan, belum tentu dikabulkan oleh Tuhan. Mengingat, Tuhan tahu apa yang terbaik untuk kita.

Senna fokus dengan penyelesaian skripsinya. Sementara saya sibuk bekerja kala itu. Mungkin waktu itu belum ada jodoh untuk menggoalkan hasil kolaborasi kami.


Blokir Nomor Kontak

Jujur ya, terkadang perempuan itu sulit untuk dimengerti. Mood-nya tidak bisa diprediksi dengan pasti dan akurat.


Gegara ketertarikan saya pada Senna, ditambah lagi dengan rasa kecewa menciptakan miskomunikasi di antara kami.


Senna sangat kecewa dengan saya. Karena impian untuk memiliki buku hasil kolaborasi budaya tidak tercapai.


Akhirnya, Senna memberikan peringatan keras kepada saya untuk berkomitmen terhadap ucapan saya. Saya berada pada posisi dilema. Nomor kontak pun seketika diblokir oleh Senna.


Saya sangat menyesali peristiwa tersebut. Setelah sekian lama tak bersua dan menyapa, beberap hari yang lalu, entah angin apa yang menggerakan hati kami untuk saling memaafkan dan melupakan kejadian yang sudah berlalu.


Saya merasa lega dengan ucapan Senna. Dosa yang sudah lama menggelembung di benak pikiran, akhirnya diringankan dengan kata maaf. Tapi, hasil kolaborasi itu tak berjalan lagi. Yang terpenting rasa persahabatan antar penulis tetap berjalan.


Saya yakin dan percaya bahwasaanya suatu saat kami bisa kembali kerja bareng untuk menuntaskan naskah-naskah kebudayaan yang sudah lama tersimpan rapi di dalam file Laptop.

Salam literasi milenial.



Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta

Posting Komentar untuk "Kolaborasi Mentok, Rekan Penulis Milenial Kecewa"