Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kilas Balik Konsisten Menulis Selama 10 Bulan di Kompasiana

Buku ini lahir dari rumah Kompasiana.



Kompasiana bagi saya adalah mutiara yang sangat berharga bagi perjalanan karir saya sebagai seorang penulis. 


Berawal dari salah satu artikel yang dibagikan oleh rekan-rekan penulis Freelance di grup WA, saya mulai gelisah dan berujung pada pertanyaan.


Pertanyaan saya waktu itu adalah bagaimaan cara supaya saya juga bisa menulis di blog atau website terbesar Asia Tenggara itu.


Rekan-rekan penulis menjelaskan secara rinci, mulai dari pendaftaran akun di Kompasiana. Kala itu saya hanya punya satu keinginan yakni bisa melebarkan sayap di Kompasiana.


Mendengar nama Kompasiana saja ada kebanggaan tersendiri dalam kehidupan yang berasal dari kampung pedalaman. Sebagai orang desa, saya punya mimpi yang besar. Seirama yang dikatakan oleh Ir. Soekarno;”Bermimpilah setinggi langit.


Saya mulai mencari tips atau tutorial di youtube dan google seputar persyaratan apa saja untuk bisa bergabung dengan Kompasiana.


Syukulah, mbak google memberikan jawaban yang pasti dan akurat. Tergantung kita punya kemauan untuk belajar atau tidak.


Hemat saya, di awal menulis di Kompasiana, saya menulis artikel yang berjudul,”Cinta Philia.” Cinta Philia ini adalah bagian dari filsafat cinta filsuf Yunani Kuno.


Tujuan saya menulis cinta Philia adalah dengan harapan untuk meminta restu kepada orangtua akan cintanya yang tak pernah berkesudahan dalam kehidupanku.


Cinta Philia ini adalah relasi antara kita dengan orangtua. Kasih yang tulus antara diri kita dan orangtua. 


Seiring dengan perjalanan waktu, diri saya dituntut untuk tetap konsisten dalam menulis. Namun, virus terberat saya dan semua orang yakni kemalasan selalu mengejar keseharianku.


Ketika saya berada pada fase kemalasan, saya selalu mengingat kembali tujuan awal saya menulis di Kompasiana yakni mengembangkan diri.


Manfaat


Manfaat yang saya dapatkan selama 10 bulan menulis di Kompasiana adalah relasi yang makin luas dengan berbagai pejabat Pemerintahan, Wartawan, Pramugari, Polri, Abri, PGRI, Penulis, Pengusaha, Motivator, Tokoh Agama, Dosen dan masih banyak profesi yang saya tidak bisa sebutkan semuanya.


Selain itu, kemampuan menulis saya semakin meningkat. Peningkatan semangat menulis telah mengajarkan saya untuk terus konsisten dalam memberikan ilmu yang bermanfaat bagi pembaca.


Manfaat yang terakhir adalah cuan, dan lebih penting adalah pemahaman untuk membangun personal branding di internet. 


Di mana dulu ketika saya mengetikkan nama saya di internet tidak akan keluar. Kalaupun keluar cuman akun media sosialku. Sekarang ketika saya mengetikkan nama saya, profil saya pun muncul dan karya-karya saya sudah terekam semua di internet.


Sebagai anak pedesaan tentu saya bangga dong. Karena jejak saya tidak akan pernah hilang dari sejarah.


Melalui Kompasiana saya tahu menulis dengan baik dan benar. Saya pun bisa menghasilkan buku dari karya saya yang pernah tayang di Kompasiana. Jika sekarang saya ingin menerbitkan buku lagi, wah 2-3 buku saya sudah bisa dapatkan dari ratusan artikel saya yang sudah tayang di Kompasiana maupun di blog pribadi saya tafenpah.com.


Dari rumah Kompasiana saya melebarkan saya di beberapa media online. Dan setiap hari saya menulis konsisten.


Terkadang saya dan rekan penulis yang lain bingung dengan produktivitas saya dalam menulis. 


Setelah mencari tahu, ternyata ada jejak keheningan pikiran dan latihan menulis jurnal harian selama hampir 6 tahun di dalam Seminari, ikut membantu saya dalam memproduksi karya setiap hari.


Proyek


Sebagai anak pedesaan saya bercita-cita untuk mendirikan taman bacaan di kampung halamanku. Karena saya ingin generasi di kampung halaman saya pun ikut mengembangkan bidang mereka.


Rencana tak akan berhasil, jika tidak ada aksi nyata. Untuk itu, media ini hadir sebagai cikal-bakal pendirian taman bacaan di kampung halaman saya.


Ke depan saya akan bekerjasama dengan berbagai pihak untuk mendukung impian saya dalam mendirikan taman bacaan di kampung halamanku. Saat ini pun ada rekan-rekan penulis dari Amerika dan Eropa yang sudah bersedia mendukung impian terbesar saya dalam membangun literasi di daerah perbatasan.


Inilah kilas balik perjalanan saya selama 10 bulan menulis di Kompasiana. Harapan saya, artikel sederhana ini bisa memberikan semangat bagi penulis pemula di mana pun untuk berani berkarya. Karena ketika alam semesta sudah terkoneksi dengan hati kita, tiada seorang pun yang berani menghalangi jejak langkah kita.


Salam Tafenpah







Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta

2 komentar untuk "Kilas Balik Konsisten Menulis Selama 10 Bulan di Kompasiana"