Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Persaudaraan Insani Menuju Indonesia Damai

Sumber gambar diolah dari Canva.com


Kedamaian adalah keutamaan hidup yang didambakan oleh setiap orang. Serentak diperjuangkan baik oleh perseorangan maupun dalam kebersamaan. Hal ini mempertegas bahwasan semua orang ingin hidup damai. 

Bangsa Indonesia dalam sila ke tiga Pancasila menegaskan aspek persatuan (persatuan Indonesia) sebagai basis perdamaian. Sila ke tiga Pancasila ini mengungkapkan realitas bangsa Indonesia yang plural dan mengharuskan kepada setiap warga negara untuk mampu hidup dalam keberagaman dengan menjujung tinggi rasa persaudaraan dan bergotongroyong menciptakan kedamaian bersama.

1.Masalah Sosial : Basis Krisis Perdamaian

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang plural ; memiliki keberagaman agama, budaya, bahasa yang meliputi semua dimensi kehidupan manusia. Namun keberagaman yang ada tidak menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang solid, kuat. 

Sebaliknya keberagaman yang ada justru menimbulkan berbagai fonomena sosial yang meresahkan masyarakat, menakutkan dan bahkan menimbulkan konflik berdarah. Hal ini secara khusus dimaksudkan pada keberagaman agama yang ada di Indonesia. 

Fenomena pluralitas agama di Indonesia dengan kuantitas dan kualitas para pemeluknya yang berbeda-beda, menimbulkan suatu bentuk tindakan kekerasan, radikalisme, intoleransi dan etnosentrisme atas nama agama dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. 

Hal itu telah dibuktikan dengan berbagai pristiwa yang secara tidak langsung mengafirmasi gagasan tersebut. Ada tendensi untuk saling menguasai di satu pihak dan mengeliminasi kelompok tertentu dari eksistensi dirinya sebagai bagian dari negara kesatuan dipihak lain. 

Fenomena sosial yang demikian kompleks tersebut menunjukan adannya suatu kelemahan baik dalam diri manusia Indonesia maupun dalam instansi pemerintahan yang berkewajiban mengurus dan mengakomodasi pluralitas agama ini dalam satu wadah yang adil dan beradab.

Manusia Indonesia dalam konteks ini mengalami suatu sindorom sadisme. Sindorom sadisme memaksudkan suatu kecendrungan yang ada dalam diri untuk menguasai orang lain atau kelompok lain. 

Jika kelompok tersebut berbeda dengan kelompoknya tendensi untuk menguasai sangat kuat dan sering diaktualisasikan dengan berbagai tindakan kekerasan, intimidasi dan radikalisme, intoleransi atas nama agama. Penyebab sindrom sadisme ini adalah minimnya pengetahuan tentang Indonesia dan kecakapan untuk hidup dalam keberagaman. 

Selain itu, doktrinisasi ajaran agama yang keliru/salah menjadi salah satu penyebab lahirnya sindorom sadisme. Doktrin yang mengatakan “yang lain” itu sebagai yang kavir adalah fakta sosial yang terjadi di negara tercinta ini. Dalam hubungan dengan itu, agama telah menjadi candu masyarakat Indonesia. 

Perlu ditegskan stereotip “agama sebagai candu masyarakat” merupakan suatu kritik terhadap fonomena sosial yang terjadi ketika agama mendominasi dalam segala lini; sosial, ekonomi, politik dan lain-lain.

Hal itu juga kita lihat dalam instansi pemerintahan, bahwa agama berpengaruh di dalamnya. Pengaruh agama itu nampak dalam berbagai bentuk kebijakan yang apabila dikaji kembali secara objektif rasional, maka akan ditemukan sifat intrumentalisme dari kebijakan itu sendiri. Sifat instrumentalisme memaksudkan adanya intensi tersembunyi dibalik suatu kebijakan yang mengatur pluralitas agama di Indonesia yaitu memberi kebebasan kepada pihak tertentu dan mengekang kebebasan bagi pihak lain. 

Jika fonomena-fonomena semacam itu didiamkan, maka persatuan yang kian hari kian terancam, bahkan mengalami degradasi, pada suatu saat akan memuncak dan berujung dengan konflik besar-besaran. Kedamian akan tetap menjadi cita-cita ideal yang tak ada harapan untuk diwujudnyatakan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 

Sebagai antisipasi terhadap hal itu, sudah saatnya, kita baik sebagai orang perseorangan maupun kelompok dalam kebersamaan, memutuskan tali perpecahan, konflik, radikalisme atas nama agama ini. Masing-masing kita, harus keluar dari kepicikan cara berpikir yang bertentangan dengan konsteks Indonesia dan pada saat yang sama bergandengan tangan merajut persaudaraan dan perdamaian, memerangi radikalisme dan etnosentrisme agama. 

Kedamaian adalah keutamaan hidup yang didambakan setiap orang, serentank diperjuangkan baik oleh perseorangan maupun dalam kebersamaan. Hal ini mempertegas bahwa semua orang ingin hidup damai. 

Bangsa Indonesia dalam sila ke tiga Pancasila menegaskan aspek persatuan (persatuan Indonesia) sebagai basis perdamaian. Sila ke tiga Pancasila ini mengungkapkan realitas bangsa Indonesia yang plural dan mengharuskan kepada setiap warga negara untuk mampu hidup dalam keberagaman dengan menjujung tinggi rasa persaudaraan dan bergotongroyong menciptakan kedamaian bersama.


2. Kolektif sebagai Medium Merajut Perdamaian

Bangsa Indonesia memiliki suatu ikatan batin yang mengikat seluruh anak bangsa dari Sabang sampai Marauke yaitu “nurani kolektif“. Dengan “nurani kolektif“, memaksudkan suatu kesadaran bersama bahwa kita sebagai bangsa Indonesia dalam satu pengalaman sejarah pernah mengalami apa yang disebut dengan “pengalaman senasip dan sepenanggungan“. Hal itu merujuk kepada pengalaman dijajah oleh bangsa penjajah dan juga pengalaman bersatu padu tanpa memandang perbedaan, bergandengan tangan dalam keberagaman, berperang melawan penjajahan. Inilah yang sebenarnya menjadi wajah Indonesia hari ini. 

Spirit nurani kolektif ini jangan pernah dipudarkan oleh pengaruh ajaran sesat yang berasal dari berbagai macam sumber entah itu agama, atau yang lain.
Jika hari ini bangsa Indonesia dan seluruh masyarakat Indonesia dicemaskan dengan berbagai fonomena sosial kerana pluralitas agama, maka jalan yang mungkin untuk memutuskan tali perpecahan tersebut adalah kembali ke akar bangsa kita. Salah satu akar yang mengikat kita semua adalah pengalaman masa lalu yakni pengalaman senasip dan sepenanggungan. 

Pengalaman tersebut memang sudah terjadi di masa lampau, namun memiliki sumbangan besar bagi bangsa Indonesia di masa sekarang dan masa yang akan datang. Sumbangan tersebut adalah persatuan dan perdamaian. Para pejuang bangsa telah menunjukan hal itu; di dalam keberagaman mereka bersatu,  berjuang melawan penjajahan dan membuahkan kebahagiaan suatu kemerdekaan yang tiada taranya. 


Hari inipun hendaknya seluruh anak bangsa dari Sabang sampai Marauke bersatu tanpa memandang perbedaan, bergandengan tangan dalam keberagaman, berperang melawan intoleransi, radikalisme dan lain-lain yang mengatasnamakan agama. Sejarah bangsa kita adalah dasar dari hidup bersama kita sekaligus sebagai batu loncatan untuk menanggapi tantangan yang terjadi hari ini maupun hari akan datang. 

Bapa pendiri bangsa kita Ir. Soekarno pernah menyeruhkan “jasmerah“ yang artinya jangan sekali-kali melupakan sejarah. Seruan itu memiliki makna dan berpengaruh besar untuk bangsa Indonesia sepanjang masa. Seluruh manusia Indonesia diajak untuk tetap bersatu, berdamai dalam ikatan persaudaraan (nurani kolektif) atas dasar sejah bangsa dan sejarah perjuangan bangsa Indonesia membentuk bangsa ini menjadi bangsa yang besar dan bersatu.

3. Pancasila sebagai Payung Persaudaraan

Pancasila merupakan payung bersama seluruh bangsa Indonesia (manusia Indonesia) dengan semboyan Bhineka Tungga Ika (berbeda-beda tetapi tetap satu). Semboyan tersebut mengungkapkan realitas bangsa Indonesia yang plural baik agama, suku, ras dan lain-lain. Oleh sebab itu setiap tindakan yang de facto bertentangan dengan semboyan tersebut merupakan kealpaan kesadaran kolektif sebagai bangsa yang plural. 

Semboyan itu juga bermaksud menyadarkan dan membangkitkan semangat merajut persaudaraan dalam keberagaman menuju Indonesia damai. Menanggapi fenomena radikalisme, intoleransi, terorisme yang meretas perdamaian dan persaudaraan anak-anak bangsa, sudah seharusnya kita mengarahkan diri dan pikiran pada spiritualitas kebhinekaan yang terkandung dalam sila-sila Pancasila.
 
Ketuhanan Yang Maha Esa

Sila pertama ini, dirumuskan sebagai dasar pemahaman bersama akan pluralitas agama di Indonesia. Hal itu mengungkapkan bahwa “Ketuhanan Yang Maha Esa” tidak difondasikan pada satu ideologi agama tertentu, melainkan mengakomodasi kebebasan beragama dan pluralitas ekpresi keagamaan. 

Dengan demikian sila pertama ini menjadi jaminan bagi pluralitas agama dan tidak membiarkan tindakan diskriminasi, radikalisme, intoleransi atas nama agama membias dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Melalui sila pertama tersebut, negara juga menjamin kebebasan beragama dan ekpresi keagamaan dari setiap individu. Sebagai manusia Indonesia sila pertama Pancassila merupakan fondasi bagi tercapainya kedamaian dan persaudaraan, bahwa kita boleh berbeda agama dan ekpresi keagamaan namun kita tetap satu sebagai bangsa Indonesia.

Kemanusiaan yang adil dan beradab

Sila ini memberi jaminan bagi hak-hak asasi manusia tanpa terkecuali. Prinsip dasarnya adalah semua manusia memiliki kedudukan yang sama dihadapan hukum dan juga berkebebasan dalam memilih dan mengekpresikan keagaamaannya. UUD 1945 memberi fokus yang lebih terhadap hak asasi manusia. Hal itu dimaksudkan agar manusia Indonesia mampu hidup berdamai, bersaudara dalam keberagaman.

Persatuan Indonesia

Sila ini secara jelas mengungkapkan suatu undangan untuk mencintai bangsa Indonesia. Mencitai dimaknai sebagai sikap terbuka terhadap perbedaan, kecakapan untuk hidup bersama, bergotongroyong membangun bangsa Indonesia menjadi bangsa yang damai. 

“Persatuan Indonesia”  menjadi kritik sekaligus jawaban terhadap fonomena intoleransi, radikalisme dan tindakan kekerasan lainnya atas nama agama. Bahwa sebagai bangsa yang besar, kita plural, beranekaragam dan harus mampu hidup dalam ikatan persaudaraan, persatuan menuju Indonesia damai.
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan
Hal ini secara jelas merujuk pada komitmen bersama baik sebagai aparatur negara, pemerintah, masyarakat Indonesia secara menyeluruh terhadap demokrasi. 

Kita tahu bahwa demokrasi kita masih memiliki banyak kelemahan, namun bukan berarti dialienasikan dari sistem negara kita atau diganti dengan sistem yang berdasarkan ideologi religius tertentu. Di dalam kelemahan yang ada ini, sudah merupakan tugas kita bersama menyukseskan demokrasi Indonesia menuju indonesia bersatu, Indonesia maju dan Indonesia damai.

Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Keadilan sosial (bonum comune) merupakan sasaran akhir atau tujuan dari semua diskursus politik Indonesia. Bahwa di dalam diskursus tersebut, keadilan sosial harus terus diperjuangkan, meski dalam kenyataan belum sepenuhnya diwujudkan. 

Sila itu menjadi dasar dalam memutus tali diskriminatif, intoleransi, radikalis atas nama agama dan meningkatkan kualitas hidup manusia (pengentasan kemiskinan). Sehubungan dengan itu, kebijakan pemerintah hendaknya mengarah kepada tercapainya cita-cita bersama ini yakni menjadikan bangsa Indonesia bangsa yang damai, adil dan sejahtera.


Ditulis oleh Frater Marselinus Johan, SVD.
Seminari Tinggi SVD Surya Wacana Malang

Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta

Posting Komentar untuk "Persaudaraan Insani Menuju Indonesia Damai"