Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mimpiku Seperti Cakrawala

Vence Sanbein


Lagu A million dreams karya The Greatest Showman masih terdengar sebelum aku membasuh tubuhku. *Lagu yang mengisahkan tentang sejuta mimpi. 


A*ku menatap jam dinding kosku sambil menyiapkan sarapan pagi. Sarapan ala kadar anak kos. Usai membasuh tubuh kusapa buku-buku yang berserakan di tempat tidur sembari menikmati *snack Jagung goreng (Penseka).


* Maklum kami orang timor tidak pernah lupa makanan lokal ataupun daerah kami sendiri walaupun sudah dikemas ke luar daerah. Kekhasan daerah NTT-ku  adalah makanan lokal yang kaya sumber daya. 


Misalnya; kopi Arabika asal Ngada memiliki keunggulan dan berhasil mencuri mata global. Tahun 2005, kopi Arabika di ekspor ke negeri Paman Sam, Amerika Serikat. Ada lagi mente yang berasal dari Flores, Timor, Sikka dan Lembata, selanjutnya diekspor ke India. Ah… aku tak sabar untuk segera menikmati kopi asal Bajawa itu.


Kota kami adalah bagian dari penikmat kopi Bajawa. Di kala senja menyapa kota kelahiranku, aku menikmati sesruput kopi Bajawa dan “laku tobe (bahan dasar ubi kayu). Laku tobe mengandung protein yang tinggi. Ibuku sering membuatkannya untuk kami sekeluarga.


Aku berjalan menyelusuri sebuah jalan pintas, tepat di depan ada halte. Sambil kuperhatikan HPku, sebuah mikrolet perlahan berhenti. 


Pukul 08.00 pagi, jam kuliahku akan dimulai setegah jam lagi. Dari Kilo 7, kami menempuh Kilo 8 dan akhirnya aku bergegas turun.  Unimor, Universitas Negeri Timor. Universitas aku menimba ilmu. Walau bagunan masih terlihat sederhana namun pengetahuan dan disiplin ilmu tidak kalah jauh dari universitas ternama. Fakultasku tepat di belakang fakultas Ekonomi dan Rektorat.  Fakultas pertanian. Program studi agrobisnis. 


 Bidang ilmunya adalah usaha berbasis pertanian. Kuhampiri kelasku, karena kulihat jam tanganku sudah hampir menunjukan 08.30 WITA. Aku berjalan kurang lebih 50 KM.


Kebanyakan mahasiswa yang tidak bersepeda motor akan berhenti tepat di depan rektorat dan melakukan perjalanan ke fakultas pertanian. 


Akhirnya aku mengikuti perkuliahan. Ahh… Hari ini hari pertama kuliahku, rasanya senang banget. Seiring dengan mesin waktu, aku sudah memasuki semester 3.Ternyata aku sudah sekian lama hampir 1 tahun lebih kunikmatin berbagai keadaan perkuliahan termasuk menimba ilmu, ritme kehidupan mahasiswa dan terlebih masalah hamil diluar nikah. Aih makin runyam dunia, jika sudah berhadapan dengan kehamilan di luar nikah.


Yah….. Pacaran adalah masa para remaja memperkenalkan diri terhadap pasangan mereka. Namun, bukan menyerahkan mahkota dan harga diri seorang perempuan kepada lelaki.


Memperkenalkan diri adalah belajar berteman, belajar saling menghargai dan belajar memahami setiap perilaku. Dalam psikologi cinta,  masa remaja adalah di mana seseorang bertindak lebih ( puber), invantil dan popularitas.  


Seseorang menghampiriku dari belakang.   

" putra " 

" yah "Sapaku balas.  Ternyata temanku Angga. Kami satu Prodi.   

" Bapa Prodi ada perlu " 

Aku langsung menghampiri ruang Ketua Program Studi. Kusapa dan aku dipersilahkan masuk.  Beliau tersenyum. Lalu beliau menyerahkan sebuah formulir.  Di situ tertulis list nama yang lolos seleksi beasiswa. Aku hampir melonjak.  Ah bukan melompat kegirangan.  

Ternyata Tuhan mengabulkan permintaanku.  



" kamu salah satu mahasiswa beprestasi. " katanya. Esok pagi setelah kusiap diri aku mngampiri sebuah rental. Setelah itu kutelpon ayah dan Ibu.  Aku akan menyuruh mereka untuk berhenti membayar uang kulihku. Kusampaikan kabar gembiraku bahwa aku mendaptkan beasiswa. Dalam telpon ayah dan Ibu juga menyampaikan agar aku dapat lanjut S2 dengan beasiswa yang ada.  


Aku menunduk dan hampir mengeluarkan airmata.  Aku mengingat kedua orangtuaku yang bekerja pagi sampai malam.  Ayahku adalah seorang nelayan, sedangkan Ibuku bekerja paruh waktu, mencuci pakaian di rumah rumah tetangga. Dari mereka aku bisa hidup. Dari mereka aku bisa mengenal duniaku dan mengejar mimpiku. Setidaknya mimpi itu akan kuwujudkan dan hari ini…… Ahh ….aku menyeka airmata yang jatuh. Airmata kebahagian. 


 Memasuki Bulan Desember…. 


Kuhampiri kios yang tidak jauh dari kos. Di atas cakrawala ada awan yang mulai menyatu,  membentuk pulau. Seketika itu awan malai terlihat gelap. Lalu ada gemuruh yang menyambar seketika berubah menjadi riuh rintik. Aku berlari secepatnya memasuki kamar kosku setelah menyelesaikan pembelianku. Memasuki semester 6, yang jelas aku sudah mempersiapkan Draft Proposal.  Semester 5 kemarin aku sudah mengajukan judul.  


Dua bulan kemudian aku akan mengikuti seminar proposal. Setelah selesai seminar proposal, aku menyiapkan diriku untuk penelitian. Aku mengunjungi Desa Sapalaboi yang berada di Kecamatan Biboki Selatan.  Aku menempuh jalan yang cukup panjang, hampir memakan waktu 2 jam. Akses jalan yang masih dibilang cukup memprihatinkan. Ada beberapa tempat seperti kelurahan Oebah dan jalan menuju ke arah Tokbesi.  


Minggu berikutnya aku menuju Desa Naikake dan Desa Fatunaisuan. Penelitianku adalah Bagaimana pembangunan daerah terisolir terkait Dana Desa. Dua bulan aku menghabiskan waktu penelitianku dan 2 Minggu aku mengerjakan hasil penelitianku. Dua hari kemudian aku memberanikan diri untuk konsultasi. Dosen pembimbing 1 dan 2 menyarankan hal yang sama yaitu penggunaan margin dan kesimpulan. 


Keduanya setuju setelah selesai aku bisa mengikuti seminar hasil penelitian. Esok aku mempersiapkan diriku untuk seminar hasil.  Lalu, sesudah itu aku mengikuti ujian skripsi. Semuanya berjalan lancar dan aku memberitahukan semuanya kepada ayah dan ibu.  Mereka turut berbangga. 


Dua bulan kemudian aku mengikuti Wisuda. Setelah Wisuda aku berpesan kepada kedua orangtua agar tidak perlu repot membuat acara. Uang yang ada digunakan untuk membeli beras atau kebutuhan sehari hari.  


Awal Februari, aku mengikuti tes Beasiswa online ( Beasiswa LPD ) namun aku gagal tepat setahun aku wisuda.  Aku sempat putus asa. Aku bahkan mengurungkan niatku untuk tidak lagi bertekad menempuh pendidikan S2 di tanah rantauan. Tapi aku menyadari bahwasan kedua orangtuaku bersusah payah siang dan malam hanya untuk memenuhi kebutuhan kami sehari-hari.  


Memikirkan itu, aku hampir menangis. Awal maret aku belajar bahasa inggris, kuikuti tes online secara gratis dan saat pembukaan Beasiswa, aku pun mencoba lagi.  Akhirnya aku berhasil lulus mengikuti Beasiswa dan mendapatkan rekomendasi dari kampus.  


Air mataku tumpah di malam itu. Aku menceritakan semua kepada ayah dan ibu. Keduanya memelukku. Karena mereka bangga mempunyai anak yang bertekad mempunyai mimpi yang tinggi. Mimpi bukan hanya sekadar mimpi. Namun membutuhkan tekad dan niat. Mimpiku ibarat cakrawala yang tinggi dan yang terlihat selalu indah.




Penulis  

Vence Sanbein  

Mahasiswa Unimor  

Kefamenanu


Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta

Posting Komentar untuk "Mimpiku Seperti Cakrawala"