Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kebanjiran Teknologi, Hati Tetap Hampa!

Kebanjiran teknologi, hati tetap hampa! Ruangguru.com



Teknologi hadir menyapa sekaligus mengubah apa pun yang ada di dalam kehidupan kita.


Kemajuan bidang IPTEK seharusnya menambah kadar kebahagiaan kita berlipat ganda. Bukan sebaliknya, kehadiran IPTEK malah memperkeruh situasi batin kita atau istilah anak ABG kota metropilitan Jakarta adalah “mood.”


Saya harus mengakui bahwasannya semakin kita mengetahui segala sesuatu yang berkaitan dengan teknologi, rasanya naluri kita ingin kembali kepada tempo dulu.


Sadar atau tidak sadar teknologi telah menciptakan kepalsuan diri. 


Apa itu kepalsuan diri?

Kepalsuan diri adalah sesuatu yang menyamar dalam diri kita. 


Contoh kasus. Cogito dan Ergo adalah sepasang kekasih muda yang sangat  dikenal banyak orang sebagai pasangan yang sangat bahagia dan romantis.


Mereka berdua selalu memamerkan momen kebersamaan mereka melalui kanal you tobe dan akun media sosial mereka.


Apa yang tersaji di dalam postingan mereka, berbanding terbalik dengan kehidupan nyata. Di mana keduanya kerap bentrokan fisik, adu mulut dan menyulap berbagai benda mati dan kebun binatang menjadi sesuatu yang terdengar fals di telinga.


Mengapa hal itu bisa terjadi?

Sebagai manusia tidak selamanya kita bahagia dengan diri sendiri. Ada saja hal yang terjadi di luar kendali kita.


Cogito dan Ergo di mata ribuan bahkan jutaan pasangan muda ibarat ratu dan pangeran di negeri dongeng dalam cerita rakyat yang penuh dengan kedamaian, kebahagiaan dan kesempurnaan hidup.


Akan tetapi, ketika kita mencari tahu lebih dalam lagi, di sanalah kita akan menemukan masalah di antara keduanya. Toh, mereka juga manusia yang punya batas kesabaran dan kelemahan. Terkecuali mereka adalah titipan peri yang terdengar romantis dan melankolis di telinga.


Alasan lain dari permasalah yang dihadapi oleh Cogito dan ergo adalah eksistensi. Eksistensi ini berkaitan dengan harga diri.


Setiap hari kita selalu dipaksa oleh dunia persuasif iklan bahwa cara untuk mencapai kehidupan yang lebih bahagia dan harmonis adalah harus mengikuti apa yang diperagakan oleh si bintang iklan.


Ya, karena memang di sana adalah tujuan dari pasar. Desain pasar yang dikemas dalam bentuk iklan sangat menarik dan bombastis. Semakin lama kita dibombardir dengan tayangan iklan demikian, alam bawah sadar kita pun beraksi.


Cara bereaksi alam bawah sadar kita meruncing pada pembelian produk demikian. Setelah memakai produk demikian, kita pun kembali mengalami permasalahan.


Masalah akan berkahir, jika kehidupan pun berkahir dalam hidup kita. Dan saya menamakan perkembangan IPTEK adalah bentuk manipulasi diri manusia sendiri. Terlepas dari manfaat yang sangat besar dari perkembangan IPTEK dewasa ini.


Kepalsuan diri yang dialami oleh Cogitio dan Ergo seirama yang kita alami setiap hari.


Bagaimana perasaan kita setelah mengetahui kepalsuan diri sendiri?

Ada yang merasa biasa-biasa saja dengan kepalsuan dirinya. Ada yang berusaha untuk menghindarinya tapi tidak bisa. 


Inilah konsekuensi dari produk akal budi kita. Tujuan kita menciptakan teknologi untuk mengurangi beban umat manusia. Justru semakin menambah beban psikologis bagi setiap orang.


Entah berapa ribu bahkan juta umat manusia yang melakukan bunuh diri setiap hari, gegara perkembangan IPTEK yang tidak dibarengi dengan semangat perenungan.


Untuk itu, kebijaksanaan sangat dibutuhkan dalam kehidupan umat manusia di era 21 ini.



Frederikus Suni

Jakarta,25/5/2021

 


Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta

Posting Komentar untuk "Kebanjiran Teknologi, Hati Tetap Hampa!"