Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Bangga Menjadi Generasi Kampung Haumeni


Penulis bangga menjadi generasi kampung Haumeni. Dokpri.


Generasi Haumeni memiliki kemampuan dalam segala hal. Tapi, sarana dan prasarana pengembangan diri tidak memadai. Penulis berharap, pemerintah kabupaten Timor Tengah Utara menyadari potensi terbesar ini.



Beberapa tahun yang lalu, penulis masih menikmati indahnya perbukitan, kenyamanan, udara segar, sabana yang luas dan jauh dari kelap-kelip kota.


Mungkin saat ini sebagian besar dari kamu masih penasaran dengan kampung penulis. Penulis adalah bagian dari generasi pedesaan Haumeni. Informasi tambahan, Haumeni adalah salah satu desa yang berbatasan langsung dengan Timor Leste.


Haumeni berada di kecamatan Bikomi Utara, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT).


Sejauh ini, bayangkan kamu pasti sudah disesaki dengan bejibun keindahan alam yang sudah tidak menjadi rahasia lagi seputar Nusa Tenggara Timur.


Ya, kampung Haumeni adalah salah satu dari bagian keindahan alam yang masih tersembunyi di mata global. 


Bila kamu ingin mencicipi keindahan alam di kampung penulis, pintu selalu terbuka untuk kamu. Tenang saja, di sana tidak ada diskriminasi apapun. Karena prinsip masyarakat Haumeni adalah “Nek Mese, Ansaof Mese, Tafen Hit Pah.” Artinya “Sehati, sesuara membangun bangsa kita.



Nek mese, ansaof mese, tafen hit pah adalah adalah filosofi kehidupan orang dawan. Orang dawan atau atoin meto. Atoin meto berarti orang yang menempati tanah kering.


Penulis bangga dengan identitas atoin meto. Karena dari atoin meto, penulis belajar untuk melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda.


Entah di manapun penulis selalu memegang teguh filosofi atoin meto. Lahir dari keluarga yang secara ekonomi tidak mampu di kampung Haumeni, tidak serta merta mengerdilkan cita-cita penulis untuk melihat dunia yang lebih luas.


Artinya penulis tidak mau masyarakat luar memandang dengan sebelah mata kepada aoin meto. Dari zaman dulu hingga kini, stereotip atau pandangan miring tentang atoin meto atau orang dawan masih sangat kental dalam kehidupan bermasyarakat.


Atoin meto dipandang sebagai pribadi yang terbelakang, kurang berpendidikan, kurang mampu dan hal-hal yang mengarahkan psikologi atoin meto untuk menyakini anggapan-anggapan tersebut.


Semakin atoin meto mendengarkan ucapan-ucapan negatif itu, alam bawah sadarnya sudah dibentuk secara permanen bahwasananya generasi atoin meto memang begitu.


Penulis bukan sombong ya, generasi kampung Haumeni itu cerdas dan berani. Masalahnya generasi Haumeni hanya kekurangan sarana dan prasarana untuk pengembangan diri.


Kendati minimnya sarana pendukung pengembangan diri, hal itu tidak mengurangi semangat kami untuk berjuang menjadi pemenang dalam segala bidang.


Pemerintah Timor Tengah Utara


Penulis akan merasa bahagia, bila pemerintah kabupaten Timor Tengah Utara menyadari potensi dari generasi emas yang masih tersembunyi di kampung Haumeni, dan memanfaatkan potensi itu untuk membangun tanah Timor ke arah yang lebih luas dalam segala bidang.


Di sini, penulis tidak minta banyak hal dari pemerintah kabupaten Timor Tengah Utara. Penulis berharap kepada pemerintah  untuk terus mendukung dan memberdayakan SDM yang ada di kampung Haumeni.


Caranya adalah menyediakan sarana dan prasarana pendukung softskill dan hardskill bagi generasi Haumeni dalam segala bidang.


Bukan hanya di kampung Haumeni, melainkan untuk seluruh masyarakat kabupaten Timor Tengah Utara. Karena masyarakat kabupaten Timor Tengah Utara sebagai gerbang menuju negara tetangga.


Sumber Daya Manusia yang berkompeten dalam segala bidang akan ikut memberikan kemajuan bagi kabupaten Timor Tengah Utara ke depan.


Mari membangun negeri dari pelosok-pelosok  perbatasan. Karena di sana ada ribuan bahkan jutaan orang yang masih menantikan sentuhan dari pemerintah, terkait pengadaan sarana dan prasarana pengembangan softskill dan hardskill.


Penulis juga ikut membangun generasi perbatasan melalui karya-karya penulis di Media. “Nek mese, ansaof mese, tafen hit pah.”


Salam hangat dan mohon maaf untuk semuanya. 




Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta

6 komentar untuk "Bangga Menjadi Generasi Kampung Haumeni"