Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Potensi Sastra Lahir Dari Seminari Tinggi SVD Surya Wacana Malang


Potensi Sastra lahir dari Seminari. Penulis sewaktu masih jadi Frater. Dokpri


Bersenandung di balik tembok biara, di sana ada keheningan. Dari keheningan, terciptalah olah rasa, pikiran dan tindakan untuk merangkai masa depan.

Masa depan dilatih dalam kehidupan yang mengutamakan budaya mandiri. Segala sesuatu dilakukan secara mandiri. Terlepas dari kehidupan komunitas atau bersama. Selebihnya, setiap orang diharapkan untuk menghargai privasi dan ketenangan (Silentium).

Silentium atau ketenangan adalah jalan menuju kreativitas. Kreativitas dipicu oleh kehidupan yang dilakoni dalam tempo tinggi. Tingginya tuntutan bagi setiap orang, berpotensi untuk melatih diri secara terus menerus menjadi pemenang dalam hidup.

Arti pemenang bukan seperti dalam pertandingan sepakbola. Di mana ada yang kalah dan menang. Tapi, kemenangan di sini adalah bagaimana setiap orang diberikan kebebasan untuk mengembangkan hobi dan minatnya masing-masing.

Hidup seorang Seminaris atau calon (Imam) Katolik bukan hanya berkutat pada doa. Memang doa adalah tujuan dari kehidupan membiara. Tapi, para pemimpin Seminari memberikan ruang ekspresi secara demokrasi. 

Artinya setiap orang bebas menekuni bidang apa saja. Tujuannya adalah seorang seminaris bisa hidup survival dan mengaplikasi apa yang ia pelajari dalam kehidupan di tanah misi. Karena hidup di tanah misi adalah hal yang sangat menantang.

Seminari Tinggi SVD Surya Wacana Malang.Dokpri


Sebagai contoh, Seminaris atau calon Imam Katolik (Frater), khususnya Serikat Sabda Allah (SVD), setelah menyelesaikan masa studinya, mereka akan dikirim ke negara di mana mereka melamar. Umumnya mereka akan menjalani masa tugasnya di luar negeri. Khususnya di benua Amerika, Afrika dan sebagian di Eropa, Australia dan Asia.

Hidup di daerah misi itu kita harus beradaptasi. Karena di sana kita bersentuhan dengan budaya baru, kuliner yang berbeda dengan lidah kita, cuaca dan keadaan sosial masyarakatnya.

Bejibun persoalan di atas hanya bisa diatasi dengan mental baja. Mental survival atau kemauan untuk bertahan dalam situasi yang sulit adalah menu dari setiap Misionaris SVD di daerah misi.

Bagi seorang Imam SVD, hal itu tidak menjadi halangan lagi.Karena selama di masa formasi atau pendidikan, mereka sudah terbiasa hidup dengan budaya lain. Bahkan ada yang hidup berdampingan dengan pemimpin dari negara lain.

Cara berpikir dan pola hidup itulah yang menjadi ciri khas bagi pendidikan Seminaris SVD. Selain itu, jalan untuk menuju pencerahan hidup adalah melalui keheningan.

Keheningan di balik tembok biara melahirkan diksi-diksi kerinduan. Melodi aksara menyatu dalam keheningan. 

Di dalam kehidupan membiara, setiap orang yang menjalaninya dilatih, dipress, dipoles dalam tensi yang tinggi. Hidup dalam aturan dan tekanan yang tinggi, menyebabkan paradigma atau pola pikir setiap orang untuk mengeksplor kemampuan dirinya.

Dari balik tembok biara, lahirlah Sastrawan besar yang mumpuni di dalam setiap bidang kehidupan. Esensi atau dasar dari pembentukan karakter seorang calon Imam SVD menjadi role mode atau cara yang efektif untuk diterapkan dalam diri setiap orang.

Relevansi pendidikan karakter dalam kehidupan membiara, menjadi cikal bakal lahirnya Sastrawan, Seniman dan Musikal dalam kehidupan nyata. Di sini saya tidak bisa menyajikan grafik dan data. Tapi, dari pengalaman yang saya alami, bisa menjadi data yang akurat, tanpa dimanipulasi oleh segelintir orang.

Karya-karya saya yang sekarang berceceran di Media Cetak (Konvensional) dan digital adalah bukti nyata dari pendidikan yang saya jalani di dalam kehidupan membiara sejak 6 tahun yang lalu.

Saya bangga pernah dididik dalam sistem formasi Serikat Sabda Allah (SVD). Tanpa sentuhan dari Biarawan Katolik (SVD), saya tidak memiliki apa-apa untuk dibanggakan.

Harapan saya, semoga ke depan dari tembok biara, semakin banyak pegiat literasi, penulis, Sastrawan hebat yang berpartisipasi dalam pengembangan literasi tanah air tercinta.


Salam tafenpah.


Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta

Posting Komentar untuk "Potensi Sastra Lahir Dari Seminari Tinggi SVD Surya Wacana Malang"