Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Overthinking Milenial Tentang Sahabat

Overthinking atau pikiran/harapan berlebihan kepada seorang sahabat. Olivia sahabat penulis sedang bersantai ria. Ilustrasi foto oleh Olivia.


Jangan menaruh harapan yang lebih kepada manusia, kecuali kepada Tuhanmu!


Sebagai generasi milenial, tentunya kita tidak terlepas dengan kehadiran seorang sahabat. Memiliki sahabat adalah hal yang sangat menyenangkan. Karena seorang sahabat bisa kita ajak untuk berbagi seputar curhat, memotivasi dan banyak hal lainnya.


Terkadang banyak kawula muda dengan spontal berceloteh di media sosial,”tega-teganya ya, kamu makan sahabat sendiri.”


Tatkala mata kita bersentuhan dengan ungkapan yang di atas, sejenak rasa kepo atau pingin tahu mulai menjalari pikiran kita. Ada banyak hal modus yang kita lakukan kepada orang yang sedang dirundung masalah tersebut.


Umumnya laki-laki yang mencoba untuk berpura-pura melontarkan ungkapan simpati, alih-alih modus kelas kakap.


“Dek, ada masalah apa?” Tanya lelaki

“Pokoknya ade deh!” 

“Ceritalah, siapa tahu ada solusinya. Kata lelaki


Alih-alih turut merasakan seperti yang dialami oleh si perempuan, di baliknya laki-laki biasanya menyimpan sejuta trik untuk mengincar gebetannya.


Perlu dicatat juga, bahwasannya tidak semua laki-laki seperti itu! Ada yang benar-benar tulus, tapi ada juga yang tidak tulus.


Bila berhadapan dengan hal demikian, saya sarankan kepada perempuan untuk mengikuti apa kata hatimu. Bila kata hatimu merasa nyaman, bolehlah kamu sharing atau sekadar berbagi cerita dengan lelaki yang menanyakan hal demikian.


Tapi, bila suara hati kamu tidak nyaman, mendingan kamu menjauhi lelaki itu. Karena lelaki hanya mengincar apa yang dia inginkan, setelah itu, ia pergi tak tahu rimbanya.


Sebalikna, ada juga perempuan yang bersikap demikian. Memang sangat sulit untuk membedakan mana yang tulus dan tidak di dunia maya. Tapi, alangkah lebih baiknya, sebelum bertindak lebih jauh, kita mendengarkan suara hati kita. Kira-kira orang yang menanyakan seputar keadaan saya ini benar-benar tulus membantu saya atau ada udang di baliknya?


Milikilah jiwa selektif dalam segala hal.


Sahabat adalah orang yang mengetahui apapun dari diri kita. Entah hal positif maupun negatif, seorang sahabat sudah saling mengenal. 


Nah, pas banget nih, pembaca tafenpah di mana pun, berikut adalah kisah saya dengan sahabat saya yang berasal dari Manado.


Tentunya sahabat saya adalah cewek dong. Hihihihi. Cantik pula orangnya. Ya, sebut saja Olivia. Gadis manis menawan hati ini berasal dari kota Manado.


Awal perjumpaan kami di Kantor Pusat Merry Riana Grup, Soho Kapital, lantai 42 Jakarta Barat. Saat itu kami mengikuti interview tahap akhir sebagai Copywriter.


Sejak saat itu persahabatan di antara kami terjalin dengan sangat baik hingga saat ini. Setiap hari, kami pasti sekadar “say-hello,” untuk berbagi cerita, motivasi dan apapun yang memberikan nilai positif. Terutaa dalam dunia kepenulisan. Maklum Olivia juga jago nulis loh.


Saking jagonya, saya ngajak Olivia untuk ikut membangun website ini, ia dengan guyonannya mengatakn, Fred berani bayar berapa, kalu aku juga ikut nulis!”


Ya, ampun Oliv, masa sama sahabat aja nulis pakai bayar segala lagi. Lagian pasti kamunya nulis juga jarang. Mau ngurus kuliah, ngajar atau pacar kamu juga, hihih. Ya, udah deh, kaga jadi ikut nulis. Katanya. Balasaku, terserah ah, capek ladenin dirimu yang sotoy.


Di sini saya mengalami overthinking atau pikiran yang berlebihan kepada Olivia untuk ikut gabung bersama saya dalam membangun website ini. Percaya kepada manusia boleh saja, tapi kita harus realistis. Bahwa tidak semua orang akan mengerti kemauan kita. Termasuk pasangan kamu juga kan?


 Pasti kamunya pingin ini dna itu, lalu pasanganmu pingin yang lain. Terjadilah miskomunkasi. Akibatnya, relasi tidak menjadi harmonis.


Tapi, saya bersyukur, meskipun saya dan Olivia tidak kolaborasi untuk membangun website ini, tapi relasi persahabatan kami akan tetap awet sepanjang perjalanan kami. Karena kami saling mengerti dan memahami. Dari suara hati, kami memilih mana sahabat yang baik dan mana sahabat yang tidak tulus.

Sahabat Olivia sedang menyiapkan diri untuk ngerjain tugas kuliah. Ilustrasi foto oleh Olivia.


Olivia kalau berani saya tunggu balasannya melalui satu artikel, jago doang di kandang, coba dong nulis untuk publik, hihhihih


Lalu bagaimana dengan kisah persahabatan kamu? Bila tertarik untuk berbagi kisah seputar sahabat, di sinilah platform online yang tepat bagi kamu untuk berbagi dan curhat seputar kelakuan sahabatmu.



Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta

Posting Komentar untuk "Overthinking Milenial Tentang Sahabat"