Perempuan dalam Bayangan Peradaban, Catatan Kritis dari Mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandira Kupang
Penulis : Igansius Mano - Mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandira Kupang
konsep “dekonstruksi” sebagai jalan gerakan feminis untuk menyelesaikan problemlematika perempuan saat ini
![]() |
| Perempuan dalam Bayangan Peradaban, Catatan Kritis dari Mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandira Kupang. Foto; Ignasius Mano/Tafenpah.com |
TAFENPAH.COM - Kita semua tidak pernah tahu dari mana kita berasal. Menurut Heidegger kita hadir begitu saja,terlempar entah dari mana (faktisitas). Dan,karna terlempar begitu saja, kita pun tidak pernah menginginkan untuk hadir sebagai seorang perempuan atau laki-laki.
Oleh karena itu menurut Jean Paul Sartre kita bebas dan berhak untuk bereksistensi, menentukan diri sesuai dengan keinginan pribadi. Konsep pemikiran dari kedua filsuf ini sangat kontroversial dengan konsep manusia sebagai gambar dan rupa Allah yang sudah diyakini oleh agama-agama besar didunia.
Bahkan dalam kebudayaan-kebudayaan masyarakat lokal tertentu meyakini bahwa kahadiran manusia sudah ditentukan oleh sesuatu yang lain untuk tujuan tertentu pula. Keteganagan kedua konsep tersebut menyebabkan kita bersikap dilematis dan sulit untuk menentukan diri sebagi individu yang otentik.
Untuk menjawab problem ketegangan tersebut kita diajak oleh Kierkeegard filsuf eksistensialis yang berasal dari Denmark yang menawarkan konsep sederhana bagaimana menjadi manusia yang otentik.
Untuk menjawab problem ketegangan tersebut kita diajak oleh Kierkeegard filsuf eksistensialis yang berasal dari Denmark yang menawarkan konsep sederhana bagaimana menjadi manusia yang otentik.
Kierkeegard membaginya dalam tiga tahap yaitu tahap estetik, etis, dan religius. Pada tahapan estetik dilihat sebagai tahapan rendah dan di sini individu didorong oleh nafsu, sensasi dan hasrat pemuasan diri.
Menurut Kierkeegard akibat dari tahapan ini individu akan jatuh pada hedonistik yang tidak teratur. Lalu pada tahapan etis, Kierkeegard mengatakan bahwa individu akan tumbuh dalam komitmen dan prisip sesuai dengan standar moral yang berlaku.
Di sini invidu selalu menjadikan sesuatu diluarnya sebagai standar kebaikan bukan hanya pada diri sendiri. Dan pada tahapan religius menurut Kierkeegard merupakan tahapan paling tinggi dan di sini menjadi ruang untuk manusia dapat mewujudkan diri secara sempurna.
Konsep yang ditawarkan ini terlihat sederhana menggambarkan fakta bahwa manusia sebagai makluk yang unik. Pertanyannya apakah posisi ini membuat manusia hidup dalam keistimewaan?. Ataukah sebagai penguasa atas ada yang lain?
Konsep yang ditawarkan ini terlihat sederhana menggambarkan fakta bahwa manusia sebagai makluk yang unik. Pertanyannya apakah posisi ini membuat manusia hidup dalam keistimewaan?. Ataukah sebagai penguasa atas ada yang lain?
Manusia dengan akal budi, pikiran secara tidak langsung berbeda dan sangat istimewa dari makluk yang lain namun bukan sebagai penguasa, fakta hari ini menunjukan ada banyak problem-problem besar yang terjadi, mulai dari kerusakan lingkungan, ketimpanagan ekonomi, sosial politik, dan lebih tingginya adalah problem kemanusiaan.Untuk mengkaji problem kemanusiaan yang terjadi saat ini penulis berangkat dari realitas perdagangan orang yang terjadi di NTT.
Tindak pidana perdagangan orang adalah problem yang sering terjadi dan NTT merupakan salah satu wilayah yang menjadi sasaran, dan data mengenai korban kebanyakan adalah perempuan.
Fakta ini tidak dapat dipungkiri namun penulis ingin mengarahkan kita pada pertanyaan mendasar mengapa kebanyakan korban TPPO adalah perempuan dan bukan laki-laki? Alasan yang didapat dari fakta lapangan adalah bahwa karena faktor kemiskinan. Pertnyaan lanjutan apakah hanya perempuan yang mengalami dan merasakan kemiskinan tersebut? Siapakah perempuan dan apa yang membuatnya dijadikan sebagai korban?
Fakta ini tidak dapat dipungkiri namun penulis ingin mengarahkan kita pada pertanyaan mendasar mengapa kebanyakan korban TPPO adalah perempuan dan bukan laki-laki? Alasan yang didapat dari fakta lapangan adalah bahwa karena faktor kemiskinan. Pertnyaan lanjutan apakah hanya perempuan yang mengalami dan merasakan kemiskinan tersebut? Siapakah perempuan dan apa yang membuatnya dijadikan sebagai korban?
Dalam kebudayaan-kebudayaan besar didunia perempuan selalu ditempatkan sebagai manusia yang lemah hal ini terbukti melalui sistem patriarki yang diyakini pada abad pertengahan disana perempuan memiliki peran terbatas dalam masyarakat. Dalam budaya dawan juga kita temukan sistem patriarki yang diamana menempatkan laki-laki sebagai penguasa atas warisan leluhur biasanya disebut “Atoin Amaf”.
Penerapan sistem ini secara tidak langsung membuat perempuan mengalami kesulitan untuk mendapatkan hak dan memainkan peran sebagai individu yang otentik.
Beranjak dari fakta ini kita dituntut untuk melihat lebih jauh alasan paling mendasar mengapa perempuan selalu dijadikan korban atau objek kekerasan ? Ada asumsi yang sering dijadikan sebagai jawaban atas problem ini yang mengatakan bahwa perempuan itu lemah,tidak mampu untuk menahan rasa sakit,tidak mampu bekerja dan berpartisipasi dalam ruang publik.
Beranjak dari fakta ini kita dituntut untuk melihat lebih jauh alasan paling mendasar mengapa perempuan selalu dijadikan korban atau objek kekerasan ? Ada asumsi yang sering dijadikan sebagai jawaban atas problem ini yang mengatakan bahwa perempuan itu lemah,tidak mampu untuk menahan rasa sakit,tidak mampu bekerja dan berpartisipasi dalam ruang publik.
Jawaban ini meyakinkan namun sangat ironis mengapa, karena secara kodrati perempuan dibentuk dengan kekuatan yang lebih besar melampaui laki-laki hal ini bisa kita lihat dari fakta riil bahwa perempuan itu mampu mengandung dan melahirkan.
Karena secara kodrati posisi perempuan sangatlah penting dan sebagai sosok yang mampu menjamin kemajuan dan pertumbuhan peradaban.
Problem besar peradaban bangsa-bangsa di Dunia di era modern ini semakin kompleks. Kita dihadapkan dengan fakta-fakta ketidakadilan sosial, kerusakan lingkungan, ketimpangan ekonomi, dan kasus kekerasan pada perempuan.
Problem besar peradaban bangsa-bangsa di Dunia di era modern ini semakin kompleks. Kita dihadapkan dengan fakta-fakta ketidakadilan sosial, kerusakan lingkungan, ketimpangan ekonomi, dan kasus kekerasan pada perempuan.
Era modern dengan pengaruh teknologi yang besar memainkan peran sentral dalam menjamin peradaban hal ini tampak pada pencapaian yang luar biasa seperti penemuan teknologi-teknologi canggih dan penemuan pengetahuan yang baru.
Semua ini sebagai alat untuk membantu manusia, namun jika di telisik lebih jauh selain pencapaian yang luar biasa juga ada krisis kekerasan kemanusiaan yang sangat besar hal ini nampak jelas pada perlakuan terhadap perempuan yang sering menjadi objek kekerasan.
Bangsa-bangsa besar hari ini dengan ego, keinginan untuk saling menguasai, dan menemukan serta untuk mencapai sesuatu yang baru, lupa akan problem kemanusiaan yang sangat penting. Perempuan yang adalah penjamin pertumbuhan peradaban justru dijadikan sebagai citra, tanda dan model komoditi inilah problem besar yang lahir dari ego manusia saat ini.
Menurut Foucoult masyarakat di era modern telah melampaui batas seksual mana yang boleh dan tidaknya diwacanakan, justru diperlihatkan bahkan dipertontonkan. Pernyataan ini dapat kita lihat secara utuh didalam iklan-iklan di media sosial, cetak maupun secara langsung di sana tubuh perempuan diposisikan dalam rangkaian produksi, yaitu tentang tubuh yang cantik dan sehat digunakan kedalam mekanisme produksi dan komoditas industri.
Menurut Jean Baudrillard bahwa situasi masyarakat saat ini juga cendrung mempertontonkan persoalan seksualitas yang tidak lagi berada diranah seksualitas yang substansial. Seksualitas kini tampak dan hadir di hampir seluruh aspek kehidupan.
Menurut Jean Baudrillard bahwa situasi masyarakat saat ini juga cendrung mempertontonkan persoalan seksualitas yang tidak lagi berada diranah seksualitas yang substansial. Seksualitas kini tampak dan hadir di hampir seluruh aspek kehidupan.
Perempuan selain sebagai penjamin peradaban juga menjadi korban kekerasan dari tuntutan peradaban . Pertanyaannya siapakah dalang dibalik kekerasan perempuan di era ini? Menurut Baudrillarrd kapitalisme telah menciptakan bahan baku sistem pertukaran tanda dan nilai, melalui ekplorasi dan eksploitasi masif pada tubuh perempuan untuk menemukan berbagai kelebihan (potensi) maupun kekuatannya.
Pernyataan filsuf ini dapat kita jumpai dalam fakta di era ini dimana kaum kapitalis mengkonstruksikan tubuh wanita-wanita yang ideal sebagai label dari komoditi-komoditi.
Tubuh perempuan hari ini terperangkap dalam tuntutan pasar ekonomi ia tidak bebas dan menjadi pemuas hasrat libido serta dieksploitasi sebagai produk yang menguntungkan. Menyikapi fenomena yang terjadi saat ini penulis mengarahkan kita kepada sorang filsuf prancis Simone de Beauvoir yang memiliki konsep tentang perempuan.
Tubuh perempuan hari ini terperangkap dalam tuntutan pasar ekonomi ia tidak bebas dan menjadi pemuas hasrat libido serta dieksploitasi sebagai produk yang menguntungkan. Menyikapi fenomena yang terjadi saat ini penulis mengarahkan kita kepada sorang filsuf prancis Simone de Beauvoir yang memiliki konsep tentang perempuan.
Menurut simone perempuan tidak dilahirkan sebagai perempuan namun menjadi perempuan melalui proses prespektif sosial budaya. Simone yakin bahwa perempuan sering kali diartikan oleh lingkungan masyarakat sebagai “yang lain” (the other) yaitu sebagai lawan dari laki-laki,ini secara tidak langsung perempuan ditempatkan sebagai objek bukan subjek. Perempuan sering terjebak dalam situasi yang membatasi peran mereka dalam berkembang simone menyebutnya dengan istilah (immanensi).
Konsep Simone de Beauvior ini menunjukan akar permasalahan yang menjadi penyebab mengapa sering kali perempuan menjadi korban kekerasan.
Konsep Simone de Beauvior ini menunjukan akar permasalahan yang menjadi penyebab mengapa sering kali perempuan menjadi korban kekerasan.
Dalam usahanya untuk mencegah problem tersebut Simone menawarkan beberapa konsep yang sedikit radikal untuk mengangkat kembali derajat perempuan sebagai subjek yang otentik dengan pertama tama menghancurkan struktur patriarki.
Simone percaya bahwa struktur ini harus dihancurkan sehingga dapat membebaskan perempuan dari perangkap dan konstruksi budaya yang mengikat dan tidak membebaskan.
Selain menghancurkan sistem patriarki juga harus ada ruang kebebasan eksistensial sehingga perempuan dapat menentukan diri sendiri. Simone dalam bukunya “The Second Sex” juga menguraikan secara eksplisit bagaimana solidaritas perempuan dapat mencegah problem tersebut.
Mempertegas posisi Simone dalam memperjuangkan peran perempuan beberapa pemikir pasal prancis Cixous dan Irigary. Kedua pemikir ini menawarkan konsep “dekonstruksi” sebagai jalan gerakan feminis untuk menyelesaikan problem tersebut.
Dekonstruksi dalam artian ini adalah bagaimana membongkar lalu memasang kembali tanpa merusak dan menghilangkan bagian-bagian keseluruhan. Dekonstruksi ini juga dapat mengarahkan kita untuk dapat melihat dan menyikapi fenomena-fenomena yang menyimpang.
Dengan demikian melalui upaya dekontruksi ini persoalan perempuan dapat dilihat dan diselesaikan dan mengangkat kembali derajat perempuan dalam taraf yang setara dengan laki-laki dan ditempatkan pada kondratnya sebagai pribadi penjamin pertumbuhan peradaban bangsa-bangsa dunia.
![]() |
| Penulis : Ignasius Mano mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang. Tafenpah.com |


Posting Komentar untuk "Perempuan dalam Bayangan Peradaban, Catatan Kritis dari Mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandira Kupang"
Posting Komentar
Diperbolehkan untuk mengutip sebagian materi dari TAFENPAH tidak lebih dari 30%. Terima kasih