Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Apakah Karya Fiksi Penting Bagi Pendidikan?

Di alam terbuka, mereka membaca karya fiksi berupa cerpen. Foto dari Pixabay.



Karya fiksi adalah salah satu model pemicu daya kreativitas orang-orang hebat. Presiden Amerika Serikat ke-35, dari Partai Demokrat yakni, John F Kennedy menempatkan karya fiksi dalam persatuan bangsa.


Hal ini terbukti dari setiap pelantikan Presiden Amerika Serikat yang berasal dari Partai Demokrat untuk selalu membacakan karya puisi di hari pelantikan mereka. Bahkan Presiden Amerika Serikat sekarang, Joe Biden di hari pelantikannya bulan Januari 2021, masih menempatkan puisi sebagai ujung tombak persatuan dunia.


Menariknya yang membacakan puisi saat pelantikan Presiden Joe Biden dan Kamala Harris adalah seorang aktivis muda yakni Amanda Gorman. Di usia yang ke20 tahun, Amanda Gorman sudah menggemparkan dunia dengan karya puisinya yang berjudul “The Hill We Climb.”

Amanda Gorman saat membacakan karya puisinya di pelantikan Presiden Amerika Serikat Joe Biden dan Kamala Harris. Foto dari Gapuranews.com.


Melodi dan emosi yang ditonjolkan dalam setiap karya fiksi mampu menghipnotis atau  membius setiap orang.  Siapapun dari kita pasti menyukai ataupun pernah bersentuhan dengan karya fiksi. Entah puisi, cerpen dan novel, kita sudah pernah melakoninya sedari kecil.


Karya fiksi memiliki kedudukan yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Karena melalui karya fiksi setiap orang dilatih untuk merangkai perasaan patah hati, gelisah, putus cinta, ketidakpuasan akan segala hal di lingkungan yang dikemas dengan tarian biduan diksi-diksi kerinduan.


Terdengar sangat melankolis ya. Tapi, bagaimana pun karya fiksi lah yang memicu lahirnya ilmu pengetahuan apapun.


Bila kamu pernah membaca biografi atau kisah hidup tokoh-tokoh sukses, pasti mereka membangun dunia imajinasi mereka dari karya fiksi.

Seirama atau senada dengan kita. Tatkala kita berada dalam situasi terjepit, tanpa terduga terlintaslah ide di benak pikiran kita. Lalu kita merangkai atau menata imajinasi yang terbayang dalam angan kita dalam tarian kata-kata yang indah dan syahdu.


Pramoedya Ananta Toer adalah pecinta karya fiksi. 


Melalui karya fiksi, kita mulai mengebangkan literasi di bidang kepenulisan. Menulis karya fiksi yang ringan, mampu membangkitkan minat kita pada Sastra. Sastra adalah bagian dari karya fiksi.


Di sekolah kita pasti pernah dilatih untuk menulis. Menulis adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita. Sama halnya, karya fiksi akan tetap menyapa, membelai, memicu adrenalin kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik.


Karya fiksi sangat penting di bidang pendidikan. Manfaat karya fiksi adalah memperkaya pola pikir, empati, simpati dari setiap kisah yang kita temui dalam karya fiksi. Bahkan hingga kini, karya fiksi yang ditulis oelh seseorang bisa menyembuhkan atau setidaknya membantu ornag untuk keluar dari masalahnya.

Karya puisi yang menghadirkan makna persatuan. Foto dari Pixabay.


Misalnya, seorang siswa awalnya tidak menyukai karya fiksi. Tapi, setelah membaca karya fiksi, entah puisi, cerpen maupun novel, alur cerita yang ada dalam karya fiksi itu mirip atau sama persis dengan kisah hidup yang dialaminya.


Dari titik ini, siswa ini mulai bangkit karena menemukan solusi. Lalu ia meningkatkan minatnya di bidang fiksi. Beberapa tahun kemudian, ia menjadi penulis fiksi yang dikenal orang banyak orang.


Inspirasi itu sama seperti sel dalam tubuh kita yang memiliki banyak jaringan, tapi disatukan dalam satu tubuh. Inspirasi dari siswa dalam kisah di atas, bisa menular ke pembaca lainnya.


Mencintai karya fiksi adalah jalan menuju gerbang pengetahuan. Karya fiksi sebagai pemersatu dan pemberi motivasi bagi siapapun. Teruslah mencintai karya fiksi. Karena dari karya fiksi, kita tahu apa itu persatuan? Apa itu empati? Apa itu inspirasi? Apa itu persahabatan? Apa itu tujuan hidup?


Bukankah tujuan dari pendidikan kita untuk menemukan nilai-nilai positif yang di atas?



Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta

Posting Komentar untuk "Apakah Karya Fiksi Penting Bagi Pendidikan?"