Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ayah, Bisa Ngak Aku Jadi Penulis?

Nak, dengarlah suara hatimu, dan ikutilah.Foto dari Pixabay


Tujuh tahun yang lalu, aku masih tinggal dengan orangtua di kampung Haumeni. Lahir dan besar dari keluarga yang tak mampu, memberikan tantangan yang sangat rumit dan pahit dalam kehidupanku.


Tatkala aku melihat teman-teman yang lain berlarian dan bergembira menerima hadiah apapun dari orangtua mereka, aku tersungkur dan menepi, sembari menangis.


Aku menangis, karena ayahku tak pernah memberikan sesuatu yang aku inginkan. Kisah perjalanan yang berliku, menjadikan aku sebagai pribadi yang tak mengharapkan lebih banyak dari orangtua.


Ayah dan ibuku adalah petani. Ribuan hari telah aku lewati dengan satu prinsip yakni “nikmatilah apa yang ada.” Artinya orangtua mengajarkan kepada diriku untuk menjadi pribadi yang tak banyak menuntut, apa yang ada dinikmatin dan tak perlu meminta yang berlebihan.


Sebagai anak sulung, ada kerinduan yang mendalam dari diriku untuk memiliki seorang kakak. Karena memiliki seorang kakak terlihat keren dan lebih menarik. Apapun yang kita minta pasti diberikan oleh seorang kakak.


Begitulah gambaran masa kecil yang sangat sulit dari hidupku.


Tapi ada satu hal menarik dari orangtuaku yakni "kebebasan untuk menentukan pilihan hidup." Sejak kecil, aku pingin menjadi seorang pemain bola. Keinginan untuk menulis tidak pernah terbayangkan dalam diriku.


Karena di rumahku tak pernah ada satupun buku yang terpajang di dalamnya. Yang ada di rumahku hanyalah tungku api, tempat tidur, lemari dan aneka perabot tua dari peninggalan kakek dan nenekku.


Tatkala aku merasa sedih, ayahku selalu menghiburku. Ia pernah mengatakan bahwa nanti kalau kamu sudah besar, ikutilah suara hatimu. Ke mana suara hatimu mengajakmu untuk pergi, jangan sekali-kali kamu tolak. Karena itulah pintu kesuksesan bagi kamu.


Aku tak pernah mengerti apa yang dikatakan oleh ayahku. Suatu hari aku bertanya kepada orangtuaku. 

“Ayah, bisa ngak aku jadi penulis?”

Pertanyaan konyol dan tolol waktu itu. Maklum anak kecil dan punya banyak pilihan. Ayahku hanya mengatakan bahwa, suatu saat kamu akan menemukan jawaban dari doa-doa kamu.


Hidup adalah perjalanan nak, kenapa kamu tak menikmatinya! Sembari ayahku meneteskan air mata.


Tak lama kemudian, ayahku memeluk diriku. Ia mengatakan bahwa,”nak kamu pasti jadi penulis. Tapi ada satu hal yang perlu kamu kejar.

“Apa itu ayah? 

Sembari ia mengangkat tanganku dan meletakkannya di dalam dadaku, nak coba kamu dengarkan bisikan suara hatimu. Bila suara hatimu mengatakan bahwa kamu pasti bisa meraih bintang-bintang di angkasa, tak ada yang mustahil dalam Tuhan Yesus.


Hubungan emosional antara aku dan orangtuaku, seirama terbit dan terbenamnya matahari. Ke mana ayah dan ibuku pergi, aku selalu belajar sesuatu yakni kesederhanaan hidup.


Selain itu, aku selalu mencuri waktu untuk membaca buku majalah anak-anak dari rumah tetangga. Membaca buku majalah, terutama yang ditulis oleh para Seminaris di Lalian adalah hal yang sangat membanggakan. Karena dari sana, aku bermimpi untuk bisa menjadi penulis.


Melodi aksara menyatu dalam diriku. Setapak demi setapak, aku belajar dan terus membaca novel, seiring dengan perjalanan waktu. Alasan aku menyukai novel adalah bisa memicu imajinasiku.


Dari karya novel, aku menaruh harapan untuk bisa menulis novel ke depan. Dan terbukti, setelah 6 tahun aku di tanah rantau, pola pikir dan pengetahuan semakin berkembang. Dan peluang untuk menghasilkan karya novel tercipta pada tahun 2020. Hingga kini, aku sudah memiliki 2 karya novel, 1 buku kumpulan artikel pilihan editor Kompasiana. Ribuan tulisanku tercecer di media Online, kumpulan Antologi dll.


Akhirnya, aku menyadari apa yang dikatakan oleh ayahku. Ke mana suara hatimu membawamu, ikutilah. Karena roda kehidupanmu sudah semakin berada di atas.


Ayah dan ibu terima kasih. Karena sekarang aku sudah bisa mengerti apa itu suara hati dan kebebasan untuk mengejar tujuan hidup. Berkat kesederhanaan kalian, kini aku tumbuh dan menjadi seorang penulis.


Frederikus Suni
Frederikus Suni Sastra mengalir dari kampung Haumeni untuk literasi Indonesia. Karya novel Terjebak, Superego, Kumpulan artikel editor pilihan Kompasiana Jejak Aksara, Antologi Jurnalisme warga "150 Kompasianer Menulis Tjiptadinata Effendi, Buku Biografi "Wanita Tangguh Peraih Masa Depan. Penulis Media Online Kompasiana, Terbitkanbukugratis.id dan Pep News. Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Dian Nusantara Jakarta

7 komentar untuk "Ayah, Bisa Ngak Aku Jadi Penulis?"

  1. Kren kk lnjutkn terus jgn pernah lelah mendengarkan suara hati sebab bisikan dari hati tulus dan murni,,,,,smngt terus kk Fredy Suni kami adik2 dari daratan Timor terus memotivasi Kaka dengan dan dukungan smga kelak jadi penulis ternama dari Timor,,,,

    BalasHapus
  2. Ngeriii. Udah banyak aja tulisannya. Keren gaiss

    BalasHapus
  3. TOP
    Tetap semangat brother
    Aq pun yg tadinya ragu akhirnya setapak demi setapak kulewati satu persatu.
    (#Jangan lupa makan yaa😀🤭)

    Salam hangat brother

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahhaha terima kasih ya bunda sudah hadir

      Salam hangat

      Hapus